
Sani yang baru saja sampai dirumah sakit segera menghampiri ibu mertuanya " kamu ini dari mana Sani mami udah tunggu lama loh, nama kamu udah dipanggil dua kali tapi kamu belum datang-datang juga kamu ke mana dulu"
"Tadi aku bantu Anggia dulu mih, Maaf ya aku udah buat mami tunggu lama di sini "
"Kamu sama Anggi, gimana kalau dia celakain kamu kamu jangan pernah berhubungan lagi sama kakak tiri kamu, apalagi sama ibu tiri kamu mereka itu cuman mau manfaatin kamu aja Sani, mereka itu cuma mau peras kamu aja jangan terlalu dekat sama dia. Mami udah bilang kan kamu jangan terlalu baik sama orang belum tentu orang yang kamu baikin itu akan baik juga nantinya sama kamu kalau misalnya dia mencelakai kamu gimana, kalau balasannya baik juga gak apa apa, tapi kalau nantinya kamu mau di celakain gimana. Nanti biar mami bicara sama Sena agar pergaulan kamu tuh di seleksi lagi"
Sani hanya bisa menganggukan kepalanya dia tak bisa membalas kata kata dari ibu mertuanya, kalau misalnya dijawab nanti malah makin panjang dan dirinya akan kalah, sudahlah biarkan saja ibu mertuanya berbicara seperti ini.
Wajar ibu mertuanya menyayanginya jadi dia takut kalau Sani dilukai, sudahlah tak apa, tiba tiba namanya dipanggil, dengan cepat ibu mertuanya memapahnya masuk.
Sani segera diperiksa dan dokter itu tersenyum kearah Sani dan juga Ibu mertuanya "selamat ya Ibu Sani sekarang sedang mengandung, dan kandungannya baru 4 Minggu dijaga dengan baik ya Bu"
"Beneran kan dok, dokter nggak bohong kan soalnya menantu saya ini nggak ada tanda-tanda kayak orang hamil kayak muntah atau pusing atau apa gitu beneran kan"
"Iya Bu beneran Ibu Sani sedang mengandung baru 4 Minggu, karena kan kadang juga nggak kelihatan Bu orang yang hamil kadang ada yang muntah atau pusing beda-beda lah gejalanya"
"Ya ampun makasih banget ya dok ya udah kami permisi dulu ya"
"Ya Bu, ini untuk resep obatnya vitamin "
__ADS_1
"Baik dok "
Ibu mertuanya Sani dengan senang membawa Sani keluar dan duduk untuk menunggu resep obat lalu memegang tangan Sani keduanya dengan arah "mami seneng banget sebentar lagi mami bakal punya cucu selain Alvaro, mami akan punya cucu dari kamu juga ya ampun mami senang banget rasanya mamih belum percaya kamu bisa mengandung secepat ini nak, pasti Sena juga senang banget dengernya kamu harus jaga kandungan ini. Lebih baik kamu tunda dulu aja perkuliahan kamu ya selama mengandung lebih baik kamu cuti dulu aja jangan dulu kuliah ya"
"Tapi ini aku kan baru juga masuk kuliah masa aku tiba-tiba cuti mungkin kalau udah agak besaran aku cuti aja mi"
"Nggak masalah kalau kamu mau cuti sekarang juga biar mami nanti yang bicara sama Sena, mami akan bicara sama dia ya, kamu tenang aja "tiba-tiba nama Sani dipanggil dan mamihnya Sena segera mengambil obat itu dan pergi dari rumah sakit bersama Sani, mamihnya Sena begitu senang dengan apa yang diucapkan oleh dokter ternyata firasatnya benar saat dirinya ingin mengajak sang menantu untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan dan ternyata memang benar Sani sudah hamil 4 Minggu.
Meskipun pernikahan anaknya dan juga Sani baru sebentar, ya masih pengantin baru tapi Allah sudah menitipkan seorang anak pada mereka dirinya begitu senang dan sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada keluarganya tapi sekarang yang harus dipikirkan bagaimana Alvaro, bagaimana dia bisa menerima Sani dan juga nanti anaknya kita pikirkan itu semuanya.
***
Mamih Ariana segera melepaskan pelukannya dan menatap kearah Sani, lalu menatap kearah Sena " mamih sama Sani punya kejutan buat kamu, kamu juga pasti nggak akan pernah menyangka kalau ini akan terjadi dengan secepat ini"
"Hah maksudnya gimana mih, apa emang yang terjadi "
"Sani sudah hamil dia hamil 4 Minggu, firasat mami bener kan kalau Sani itu udah mengandung dia itu akan memberikan cucu pada mami"
Sena masih diam menatap istrinya, lalu berjalan dengan perlahan dan langsung memeluk istrinya, ,"ya ampun aku senang banget sayang, aku bahagia banget kamu hamil, aku akan punya anak lagi , makasih sayang kamu sudah memberikan kebahagian ini sama aku, aku senang sekali "
__ADS_1
Sena mencium kening pipi bibir Sani beberapa kali tanpa menghiraukan ibunya yang ada dibelakangnya, ibunya juga hanya bisa tersenyum senang, dirinya senang Sena bisa mendapatkan istrinya seperti Sani yang baik dan penurut.
Pilihan anaknya ini kali ini sangat benar sekali, Sani adalah perempuan yang pas untuk anaknya. " udah yu mamih udah masak buat kalian ayo sekarang kita makan"
Mamih Ariana menghentikan Sena yang sedang menciumi istrinya, kalau begitu terus sampai kapan selesainya , dirinya juga masa akan terus menjadi patung disini.
Sani yang malu segera mengikuti ibu mertuanya, diikuti oleh Sena dibelakangnya, Sena tak henti hentinya tersenyum, begitu bahagia dirinya mendapati kabar ini, rasanya lelahnya hilang.
"Ayo sini makan, Sani kau harus makan makanan yang sehat ya, mamih akan beberapa hari disini "
"Terus papi gimana mih, kasihan kan papi di rumah sendirian udah mending mami pulang aja, Sena juga bisa kok urus Sani nanti kalau ada apa-apa Sena akan hubungi mami, nggak usah nginep mih kasihan papi di rumah sendirian kan"
"Nggak apa-apa papi kamu tuh bisa mandiri dia tuh udah tua, dia juga nggak apa-apa ditinggal sendirian yang terpenting mami selalu ada di samping Sani, dia kan lagi hamil muda pasti dia lagi mau ini itu mami pasti akan turutin apa kemauannya dan kamu Sena, Sani jangan dulu kuliah aja biar nanti tahun depan atau 2 tahun lagi dia lanjut kuliah lebih baik sekarang Sani fokus dulu aja sama kandungannya ya, jangan dulu kuliah kuliah takutnya nanti ada temen yang jahil tiba-tiba dorong Sani kan yang nggak tahu Sani lagi hamil gitu kita harus jaga-jaga lah"
Sena menatap Sani sekilas lalu menatap sang ibu," aku akan berdiskusi dulu dengan Sani mih, aku harus memutuskan keputusan ini berdua mih "
"Baiklah mamih tunggu keputusan terbaik kalian, itupun kalau kamu mengizinkan Sani untuk tak kuliah Sena, mamih menyerahkan semua keputusan sama kamu Sena, karena kamu suaminya dan berhak memutuskan segala halnya "
Sena hanya menganggukan kepalanya saja.
__ADS_1