
"Kamu gimana sama Bella udah baik-baik aja kalian udah ketemu juga kan dia nggak apa-apa kan, dia gak marah kan sama kamu"
Alvaro melihat ke arah Sani mereka sekarang sedang ada di atas loteng berdua sedang mengobrol bahkan ayahnya juga tak masalah ini untuk menyesuaikan Alvaro dan Sani menjadi seorang ibu dan anak.
"Dia baik-baik saja tapi aku juga bingung bagaimana bisa mendapatkan Bella lagi San, kamu tahu dia udah cinta sama laki-laki itu bahkan saat kita mau pergi buat jauh dari Adi Bella malah turun dari mobil dan datangin laki-laki itu langsung, aku emang kecewa dengan pilihan Bella tapi aku juga salah di sini karena awal dari masalah yang terjadi adalah aku karena aku tidak mau mendengarkan penjelasan dari Bella terlebih dahulu"
"Apa mungkin Bella sudah nyaman dengan laki-laki itu memang cinta tidak bisa ditebak akan jatuh pada siapa, mungkin Bella dulu sangat ingin bersamamu. Tapi saat bersama suaminya itu mungkin ada sesuatu yang berbeda"
"Ya aku tahu karena aku egois awalnya San, harusnya aku mendengarkannya dulu tapi semuanya tidak bisa dibicarakan lagi, semuanya tidak bisa kembali lagi pada awal semua sudah terjadi dan Bella juga sekarang sudah mengandung tapi kalaupun Bella mau denganku aku pasti akan mengurus anak-anaknya, aku tidak peduli dengan ocehan Oma ataupun siapapun itu yang terpenting aku bisa bersama Bella itu yang aku mau"
Sani menghembuskan nafasnya "tapi jika suatu saat Bella tidak memilihmu bagaimana kau juga sudah tahu kan Bella mencintai suaminya itu,"
"Bukan suaminya tapi mantan suami San mereka sudah bercerai, jadi laki-laki itu tidak ada urusan lagi dengan Bella, dia bukan siapa siapa Bella lagi"
"Tetap saja mereka ada urusan Bella mengandung anak laki-laki itu ya otomatis mereka akan selalu berhubungan membahas tentang anak, apakah nanti suatu saat jika Bella benar-benar memilihmu kau akan siap dengan itu kau akan siap saat Ayah dari anak-anak Bella datang menjenguk ataupun mengobrol dengan Bella apakah kau siap menerima semua itu"
__ADS_1
Alvaro diam dia tidak memikirkan tentang hal itu kenapa "aku sampai lupa, Aku lupa memikirkan itu semua tapi aku yakin aku bisa menghadapi semuanya, dia juga tidak akan datang setiap hari kan ke rumah"
"Iya dia tidak akan datang ke rumah setiap hari tapi setidaknya interaksi mereka akan setiap hari ditelepon membahas soal anak, pertumbuhan anak dan yang lainnya kamu harus pikir ke sana juga bukannya aku sok tahu atau gimana bukannya aku ngelarang kamu sama Bella tapi kamu harus pikir ke depannya itu harus gimana, kita nggak bisa gegabah ambil keputusan kayak gini kamu juga harus bicara dulu sama keluarga apalagi Oma dia kan sulit banget terima orang"
Alvaro menganggukan kepalanya, tapi yang terpenting sekarang adalah dirinya mendapatkan dulu Bella setelah itu baru dipikirkan kembali bagaimana caranya mendapatkan hati Omanya gampang lah dirinya kan cucu kesayangan.
"Sepertinya untukku mendapatkan hati Oma itu gampang, dia juga kan sudah kenal dengan Bella, ayahnya Bella dia sudah kenal dengan semua keluarga Bella tidak mungkin kan tiba-tiba dia marah-marah"
"Hemm iya juga, tapi menurutku sebelum kau mengejar Bella lebih baik kau bicara dulu pada oma, bicarakan semuanya takutnya nanti kalau kau sudah bersama Bella oma tidak merestui bagaimana kalau dia memisahkan dirimu dan juga Bella. Mungkin ayahmu akan setuju dengan semua ini dia akan setuju apapun keadaan Bella, dia akan terima tapi di satu sisi ada omamu yang tidak akan menerima itu. Ya sudah ayo kita ke bawah sudah malam juga Al"
Mereka berdua segera turun ke lantai bawah dan di sana juga ada oma dan juga Sena yang sedang menonton TV mereka berdua segera bergabung.
"Kalian sudah akur kan Alvaro kamu harus terbiasa memanggil Sani dengan sebutan Ibu mami atau bunda atau apapun itu jangan memanggil nama saja, sekarang status Sani sudah berbeda dia adalah ibumu"
"Ya aku tahu oma. Aku tadi sudah berbincang dengan Sani maaf bunda aku panggil bunda saja ya meskipun agak aneh tapi ya sudah tak apa. Aku ingin bicara dengan Oma dan juga Ayah aku ingin menikah dengan Bella"
__ADS_1
"Bella bukannya dia sudah tak ada ya "tanya omahnya dengan bingung.
"Tidak dia ada, dia masih hidup dan dia sudah kembali waktu itu Bella di culik dan sekarang sudah kembali tapi keadaannya berbeda Bella yang dulu dan Bella yang sekarang sudah berbeda"
"Maksudnya berbeda seperti apa, memangnya ada perbedaan diantara Bella yang dulu dan Bella yang sekarang apa sifatnya sudah berubah apakah dia sudah lebih dewasa atau bagaimana"
"Dia sudah hamil aku ingin menikah dengan Bella Oma papih"
Neneknya Alvaro langsung bangkit dan menatap Alvaro dengan mata yang melotot "apakah kau gila ingin menikahi perempuan yang sudah hamil oleh orang lain, apakah kau ingin membiayai perempuan itu dan anaknya. Oma tidak akan rela bagaimana kalau nanti ayahnya datang bagaimana nanti kalau rumah tanggamu malah jadi berantakan karena ayah dari anak yang Bella kandung datang. Memangnya tak ada perempuan lain hah Alvaro, banyak perempuan yang lain kau ini jangan bodoh'"
"Aku sudah memikirkan semuanya Oma, aku ingin bersama Bella. Aku ingin bersamanya tolong aku ingin menebus semua kesalahanku aku ingin membuat dia bahagia Oma"
"Memangnya tidak ada cara lain untuk membahagiakan Bella untuk membalas semua kesalahanmu, kau tidak usah menikahinya jika kau ingin membalas semua kesalahanmu kau bisa baik padanya, kau bisa selalu ada untuknya menjaganya. Tapi tidak untuk menikahinya Oma tidak akan merestui kalian sampai kapanpun mau kau bersujud pada Oma, Oma tidak akan mau dia sudah hamil oleh laki-laki lain dan ayahnya juga entah siapa bagaimana kalau selama dia diculik Bella jual dirinya dan itu anak haram"
"Jaga bicara Oma, jangan berkata seperti itu pada Bella dia dinikahi oleh seorang laki-laki bernama Adipramana tapi dia sudah bercerai maka aku ingin bersamanya lagi, kenapa oma berbicara seperti itu mulut oma tuh dari dulu nggak bisa disaring pokoknya aku ingin bersama Bella mau oma tidak merestui ataupun tidak aku tidak peduli aku sudah lama menunggu ini"
__ADS_1
Alvaro bangkit dan pergi meninggalkan neneknya dan juga Sani Sena, kenapa egois sekali keluarganya ini tidak memikirkan kebahagiaannya kenapa harus seperti ini. Neneknya juga egois sekali tidak mau menerima apa yang ingin dirinya lakukan, neneknya selalu saja mengatur di mana-mana neneknya selalu mengatur.