
Fatimah yang satu mobil dengan bosbya hanya bisa diam tak bisa melakukan apa apa, bahkan untuk mengemil saja rasannya canggung kenapa harus satu mobil coba.
"Kenapa kau diam saja Fatimah , biasannya kau makan terus ya ngemil atau apa bisannya kau tak bisa diam "
"Emm tidak tuan "
"Silahkan aku tak akan melarangmu untuk melakukan apa apa, silahkan "
"Emm baiklah tuan "
Dengan senang Fatimah mengambil cemilannya yang tersembunyi lalu memakannya dengan semangat namun tiba tiba ponsel Sena berdering, Sena hanya melihatnya sekilas namun tak ada namanya.
Sena tak mengangkatnya sama sekali, sekali lagi ponselnya berdering bahkan berkali kali ponselnya berdering, "Fatimah kau angkat, kalau yang menelfon bernama Sonia, kau bilang kalau kau adalah pacar saya "
"Hah tidak tuan masa saya melakukan itu "
"Ikuti perintah saya, atau jabatan mu saya turunkan "
"Baik tuan baik "
Fatimah yang ketakutan segera mengambil ponsel itu dan mengangkatnya" Hallo ini dengan siapa ya, ada perlu apa ya "
"Halo ini dengan siapa kok ponsel Sena sama perempuan sih, apa ini Sani ngapain kamu ada ada disamping Sena, ini Sonia ibunya Alvaro"
"Oh Nyonya Sonia saya bukan Sani saya Fatimah pacarnya Sena makannya saya yang mengangkatnya, karena Sena tidak bisa dia sedang pergi keluar dulu. Ada perlu apa ya biar nanti saya coba bicara sama pacar saya"
"Apa pacar bukannya kamu hanyalah seorang asisten yang kemarin mengusir saya dari kantornya Sena, kau ini ya jangan mengaku-ngaku, berikan Ponsel itu pada Sena sekarang juga, aku ingin berbicara penting padanya dan aku tidak mau berbicara denganmu. Ayo cepat berikan ponselnya, kau ini memalukan sekali mengangkat telepon bosmu sendiri. Apakah kau tidak punya sopan santun"
Fatimah melirik kearah Sena dan Sena hanya diam saja fokus menyetir, Fatimah jadi serba salah deh, kenapa harus begini, kenapa harus mengaku ngaku kalau dirinya ini pacarnya jadi gini kan.
"Iya saya memang asistennya merangkap menjadi pendampingnya juga, jadi lebih baik anda bilang saja pada saya pasti saya akan menyampaikan semuanya pada Sena. Saya tidak mungkin tidak menyampaikannya kau kan ibunya Alvaro hanya ibu kan, bukan pasangannya bukan istrinya jadi bilang saja pada saya pasti saya akan memberitahu Sena jika itu memang penting"
"Sialan kau, tak sudi aku berbicara dengan mu, biar aku nanti ketemu langsung dengan Sena dari pada langsung berbicara dengan mu, karena kau tak tau apa apa, dan kau hanyalah seorang asisten bukan pacar Sena dan sampai kapan pun Sena akan menjadi suamiku, miliku bukan kau, jadi segeralah sudahi hubungan kalian sebelum aku bertindak "
Sambungan langsung diputuskan Fatimah langsung memberikan ponselnya pada Sena "tuan apakah tak akan apa apa, aku takutnya dia nanti datang padaku dan marah marah "
"Tenang kau saya lindungi, jika dia ngelunjak lawan saja tak usah takut, dia bukan perempuan yang akan melakukan hal bahaya saya tau karakternya, dia kebanyakan hanya menggertak saja jadi kau tenang tak usah khawatir jika dia meneror mu ya teror lagi apa sulitnya jangan dibuat ribet"
"Baiklah tuan, baiklah jika kau sudah memberi izin aku akan melawan nyonya Sonia "
Sedangkan dalam hati Fatimah mendumal. Iyalah tahu karakternya secara mereka kan pernah jadi suami istri. Masa sih nggak kenal karakter satu sama lain, deg-degan banget waktu tadi bilang kalau aku ini pacarnya.
Tapi kalau beneran enak juga ya jadi pacarnya Bos, bisa berkuasa pasti seneng banget deh, tapi nyatannya cuman pura-pura aja ini, pasti nanti Sonia bakal neror aku , ya aku jamin itu dia pasti akan neror ku, tidak akan mungkin tidak dia tidak menerorku
Fatimah mengambil cemilannya dan kembali fokus dengan cemilannya, jenuh dari tadi tak sampai sampai, lama sekali perjalanan ini, tak sampai sampai..
**
Sonia melempar ponselnya pada Gea "aww apaan sih kak "
"Kata kamu Sena sama Sani kata kamu Fatimah cuman asistennya aja, tapi ini nyatanya apa Fatimah adalah pacarnya Sena. Yang benar saja sebenarnya siapa yang dekat dengan Sena, Sani atau Fatimah aku menjadi pusing sebenarnya kok bisa tidak sih aku suruh untuk memata-matai Sena, aku rasanya pusing tahu dari penyelidikanku dari orang orang suruhanku dia bilang kalau Sena dekat dengan Sani, sekarang malah dengan Fatimah mereka berpacaran "
"Apa Fatimah pacaran dengan tuan Sena, tidak mungkin ini tidak mungkin kakak , Fatimah itu tak akan mau diajak pacaran dia punya ketakutan dengan sebuah hubungan jadi tak akan mungkin itu terjadi "
"Ya mungkin dia ketakutan menjalin hubungan dengan orang yang tidak sekaya Sena, lihat Sena itu orang kaya berpengaruh apalagi bosnya nggak bisa dia menolak , jadi kau jangan melihat sampulnya saja dari orang itu lihatkan dia berpacaran dengan Sena "
__ADS_1
"Aku akan menelfon Fatimah "
Kembali Sonia melempar bantal kearah Gea " apakah kau gila kau ingin bertanya pada Fatimah, tiba-tiba begini Fatimah apakah kau pacaran dengan Sena apakah kau ingin betanya begitu yang ada dia akan curiga dan tahu kalau kau punya hubungan darah denganku, kau ini bagaimana sih punya otak tuh dipakai untuk apa kau bekerja sebagai keuangan tapi masih saja oon, tak habis pikir aku denganmu "
Sonia langsung meninggalkan Gea begitu saja, dasar ya adiknya ini hanya bisa membuatnya darah tinggi saja.
"Apaan sih padahal aku kan bener mau tanya sama Fatimah. Apa bener dia pacaran sama tuan Sena kok dia nggak bilang-bilang sih sama aku, biasanya kan dia cerita kalau ada apa-apa enak banget ya jadi Fatimah tiba-tiba jadi pacarnya tuan Sena, mungkin karena kebersamaan mereka kali ya mereka jadi sama-sama begitu, enak banget mau deh ada di posisi Fatimah"
"Tapi kalau aku misalnya ada di posisi Fatimah aku jadi musuh dong sama Kak Sonia, udah deh pokoknya pusing aku mikirin semua hal itu lebih baik aku balik ke kantor dan kerja , aku kan ke sini cuma mau makan siang aja gara-gara kak Sonia dia mau ngajakin aku makan siang bareng, ternyata cuman mau minta nomor Tuan Sena, apa nggak di WA aja kan nggak usah kan aku datang-datang ke sini dasar kak Sonia kadang-kadang suka begitu deh "
***
Sani membereskan semua buku bukunya dan akan beranjak pulang namun tiba tiba ada teman kelasnya yang menyuruh mereka untuk duduk lagi.
"Ayo duduk duduk lagi dong, ada pengumuman nih, maaf ya jadi ganggu kalian pulang, aku hari ini ulang tau buat rayain ulang tau aku, aku undang kalian untuk datang ke club yang udah papih aku sewa, datang ya semua aku akan memberikan alamatnya di grup WhatsApp"
"Ok ok kita pasti datang kok tenang aja "
"Ok ditunggu ya semuanya "
"San datangkan " tanya Mira
"Engga deh aku kayaknya gak akan dateng, aku mau diem aja dirumah "
"Kenapa ikut aja sama aku, semuanya akan baik-baik aja San ini juga kan ditraktir sama temen kita, ya ya datang ya temenin aku , biar aku ada temen gimana "
"Iya bener Sani ikut ya, nanti aku akan jemput kalian berdua " sela Arzan
"Emm gimana ya "
"Ayolah Sani semuanya akan baik baik aja, gak akan terjadi apa apa kok, ya dateng ya dateng please San datang ya, "
Sena langsung keluar dari kelas dan meninggalkan kedua temannya "orang galau nakutin ya Zan "
"Ya mungkin, ya udah aku pulang duluan ya Mir "
Mira dengan wajah murungnya menganggukan kepalanya setelah Arzan keluar Mira duduk kembali dan menghembuskan nafas lelahnya "kenapa ya kamu tetep aja kayak gitu. Setelah kamu tahu kalau Sani itu sukanya sama orang lain tapi kamu masih dingin sama aku Zan, apa sih sebenarnya yang aku nggak punya dari Sani sampai-sampai kamu nggak bisa lihat aku di sini yang sayang sama kamu"
"Yang lo gak punya adalah keluguan dan caper "
Mira membalikan badannya ternyata ada Bella disana "Bella apaan sih "
"Lo suka kan sama Arzan, lo tadi bertanya apa sih yang nggak lo punya dari Sani, lo nggak caper sama laki-laki sedangkan Sani dia tuh caper dengan wajah lugunya "
"Kalau ngomong tuh Bel dijaga Sani nggak pernah cari perhatian sama laki-laki manapun, jadi please jangan kayak gitu dia nggak pernah tuh sok lugu sama laki-laki"
"Dikasih tahu malah marah emang bener kok kayak gitu. Ya udah sih kalau nggak percaya gue cuman kasih tau lo aja, masih mau mempertahankan teman kayak gitu, bisa aja tuh dia nusuk lo dari belakang. Masa sih teman sendiri nggak tahu kalau temannya suka sama laki-laki lain, bahkan sama laki laki terdekatnya "
Mira yag tak mau menjawab langsung pergi meninggalkan Bella, jangan sampai dirinya terpengaruh oleh Bella dan malah membuat dirinya merasa tersaingi oleh Sani, Sani adalah sahabatnya jangan sampai dirinya membuat Sani kecewa jangan pernah pokoknya.
Jika itu sampai terjadi pasti Bella akan suka dan malah mengolok ngoloknya nanti, dia pasti akan senang bila persahabat dirinya ini hancur karena keegoisan dirinya.
**
Malam tiba dan Mira, Arzan, Sani sudah ada diclub itu bahkan teman teman mereka pun sudah ada disini, berkumpul dengan berbagai minuman dan camilan.
__ADS_1
Sani langsung memisahkan diri, duduk sendirian di pojokan dan itu tak terlalu jauh dari teman temannya, Sani hanya bisa menatap teman temanya yang sedang bersenang senang saja.
Sedangkan Mira dan Arzan sudah bergabung dan sedang mengobrol ngobrol, Sani membuka ponselnya dan melihat apakah Sena ada menghubunginya ternyata tak ada, sama sekali tak ada.
Sena mendongakan kepalanya dan matanya langsung bertatapan dengan Alvaro, namun Sani segera membuang muka tak mau mencari masalah dengan Bella nantinya.
Rizki yang melihat Alvaro terus saja menatap Sani segera menepuknya "ada apa nih, kenapa lo liatin Sani terus "
"Gak kok, gue sama sekali gak liatin Sani "
"Masa ah dari mata lo aja udah kelihatan kalau lo lagi natap Sani, kenapa lo baru sadar kalau Sani itu cantik manis imut, iya lo baru sadar kan "
"Apaan sih engga kok, lo tuh apa apaan deh, kalau didenger Bella bisa gawat gue gak sama sekali liatin Sani jadi jangan asal bicara ah " Alvaro segera meneguk minumannya dan kembali menatap pacarnya yang masih berjoget joget.
Rizki yang mulai diacuhkan oleh Alvaro segera bergabung dengan yang lainnya, karena dari tadi Alvaro sama sekali tak mau diajak berjoget joget.
Sani yang masih menunduk dikagetkan dengan suara seseorag yang duduk disampingnya "baru pertama kali dateng kesini ya "
Sani mendongakan kepalanya ternyata itu Alvaro "Iya "
"Pantesan gak berbaur dengan yang lainnya, minum " Alvaro memberikan sebuah minuman pada Sani.
Dengan ragu Sani mengambilnya "tenang aja gue gak kasih minuman alkohol kok sama lo "
Sani mengangguk, dirinya binggung dengan kelakuan Alvaro ada apa dengan laki laki ini, bukannya dia sangat membenci dirinya lalu kenapa tiba tiba menjadi baik seperti ini.
"Gak usah takut dan canggung sama gue, gue tau lo takut gue apa apain kan, gue selalu ngebully lo tanpa alesan, apakah kita bisa berteman tanpa Bella dan juga Rizki tau "
"Apa kamu yakin, apakah yakin kamu ingin berteman dengan ku, bukannya kau sangat tak suka dengan ku, lalu tiba tiba kenapa bisa begitu "
"Aku hanya ingin menjadi laki laki dewasa saja seperti ayahku, aku ingin menghilangkan kebencianku tanpa alasan padamu, sungguh aku seperti anak kecil membenci mu karena kasta mu yang sama dengan ibuku, gara gara ibuku meninggalkan ayahku, aku membenci perempuan kalangan yang sama dengan ibuku "
"Baiklah aku mau menjadi teman mu "
Alvaro tersenyum dan langsung bersalaman dengan Sani, "tapi lo beneran kan gak deket sama papih gue "
Sani mengelengkan kepalanya "engga kok "
"Ok deh bagus, minum dong tenang gue gak kasih apa apa "
Sani dengan ragu segera meminumnya, kalau dirinya tak meminumnya nanti Alvaro berfikir kalau dirinya tak menghargai pemberiannya jadi lebih baik di minum saja.
Arzan yang melihat kejadian itu segera mendekati Sani dan mengambil minuman itu "Sani "
"Ada apa Zan kenapa kamu mengambil minumanku"
"Kau yakin akan meminum ini "
Alvaro langsung bangkit dan meninggalkan Sani bersama Arzan untuk berbicara, Arzan langsung duduk dan menatap Sani "Apa kamu yakin akan meminum minuman ini, bisa saja Alvaro memasukkan sesuatu pada minuman ini kamu jangan gegabah, main minum minum aja "
"Aku yakin kok Alvaro nggak masukin apa-apa udah Arzan nggak usah khawatir aku sekarang baik-baik ajakan, setelah minum minuman itu nggak terjadi apa-apa sama aku, masa aku tolak gitu aja kan, meskipun dia jahat sama aku nggak suka sama aku ya nggak apa-apa dia ngasih minum aku"
"Iya aku tahu tapi setidaknya kamu harus waspada dong"
"Iya kamu gabung lagi gih "
__ADS_1
"Gak aku disini aja sama kamu, nanti kalau ada yang macem macem sama kamu ada aku kan disini yang jaga "
"Iya deh iya deh gimana kamu aja deh Zan "