Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Makanan yang kedua


__ADS_3

"Mana buku buku kita San " ucap Bella


Sani langsung memberikan buku itu satu persatu, bahkan ada buku Alvaro juga "awas aja kalau nikah kita kecil " ucap Rizki


"Gak akan kok, tenang aja "


Mereka langsung pergi tanpa berterimakasih sama sekali pada Sani, Sani langsung akan masuk kelas namun tangan dipegang oleh seseorang.


Sani segera mengalihkan pandangannya ternyata itu Arzan "sampai kapan kamu mau kayak kini San, sampai kapan apa kamu gak cape disuruh ngerjain pr mereka, gak cape kamu "


"Ya mau gimana lagi Zan, aku disini cuman murid beasiswa jadi mau gimana lagi, udah lah gak apa apa sebentar lagi juga kita kan mau lulus, semua yang sudah aku lalui disini akan berakhir"


"Hemn tetap saja kamu janga kalah, oh ya kata kakek kamu keluar kenapa dan yang datang kesana kak Fatimah kamu gak apa apa kan, gak ada masalah kan "


"Gak ada kok Zan aku baik baik aja, aku masuk "


Sani yang tak mau ditanya tanya kembali segera masuk kedalam kelas di ikuti oleh Arzan juga dari belakang, lalu duduk disamping Sani.


"San kenapa sekarang kayaknya kamu mulai jauhin aku deh "


Sani langsung menatap Arzan lalu terseyum kearahnya "masa sih perasaan kamu kali, aku gak jauhin kamu kok beneran, mungkin kitanya lagi banyak tugas aja, jadi kelihatnya aku kayak yang jauhin kamu, tapi sebenernya aku sama sekali gak jauhin kamu Zan "


"Syukur deh soalnya aku gak mau dijauhin sama kamu, takutnya kamu marah gara gara aku ngaku ngaku jadi pacar kamu "


"Engga kok Zan, tapi lebih baik udahin aja deh rumor itu, dari pada nama kamu jelek gara gara aku "


"Loh kenapa, kenapa nama aku bisa jelek, gak ah aku gak akan udahin rumor itu, liat jadi gak banyak yang bully kamu kan, ini juga demi kebaikan kamu juga kali San, mungkin ya gang nya Alvaro masih bully, tapi setidaknya cuman mereka aja kan "


"Heyy lagi apa, gak ajak ajak, awas dong Zan aku mau duduk "


"Kita tukuran duduk yah Mir, kamu duduk disana ya ya gak apa apa kan "


"Hemm yang pengen pacaran iya iya aku tau kalian pengen pacaran, yaudah deh gimana kalian aja, tapi lagi ngobrolin apa sih jadi kepo nih "


"Gak ada kok Mir ngobrol biasa aja " ucap Arzan


"Bohong pasti kalian sembuyiin sesuatu kan dari aku, ayolah kasih tau kasih tau jangan di sembunyiin kayak gini, ayo kasih tau "


"Ada guru Mir "

__ADS_1


Mira langsung beralih ketempat duduknya dan segera mengeluarkan buku bukunya "kenapa kamu mau duduk sama aku"


"Nanti aku ceritain " bisik Arzan


Sani mengangguk dan segera membuka bukunya, "San tolong kumpulkan semua pr nya ya "


"Iya bu "


Sani segera mengambil satu persatu buku temen temannya, namun saat setelah mengambil buku Alvaro Sani tersadung, karena Alvaro segaja melakukan itu, dengan cepat Alvaro membantu mengambil buku yang terjatuh dan membisikan sesuatu.


"Gue tau lo lagi deketin papih gue kan, lebih baik lo jauhin dia sebelum gue lakuin sesuatu sama lo "


Alvaro langsung bangkit dan memberikan bukunya pada Sani, dan Sani langsung mengambil buku buku anak yang lainnya, lalu menyimpannya di meja guru.


"Makasih San "


"Sama sama bu "


Saat Sani sudah duduk kembali Arzan langsung melihat tangan dan kaki Sani "kamu baik baik aja kan "


"Aku baik Zan "


Murid murid yang lain langsung menyoraki Sani dan juga Arzan "sudah kenapa kalian ini berisik sekali, "


Mereka langsung terdiam dan tak ada lagi suara hening.


**


Sani yang sedang masak mendapati tamu, dia langsung membuka pintu ternyata itu om Sena membawa bunga mawat putih dan tersenyum kearah Sani, Sani langsung mengambilnya.


"Om tau aja kalau aku lagi butuh ini "


Sani langsung memotong motong bunga itu untuk menjadi hiasan makanannya hari ini, senyum Sena langsung pudar dengan sedikit kesal Sena menutup pintu dan diam menatap Sani "kenapa om masih ada disini, tunggu disama om, aku belum selesai memasak ayo ayo om tunggu disana jangan diam seperti itu, ayo sana sana "


Sena tanpa banyak bicara langsung pergi namun dia membawa kursi dan memposisikan kursi itu dekat dengan jendela agar wajahnya terkena sinar matahari seperti apa yang dikatakan oleh Fatimah.


Sena mengeluarkan koran yang dia bawa, lalu pura pura membacanya sedikit keras membuka lembaran lembarannya, sampai sampai membuat Sani berbalik dan melihat Sena ada disana.


"Kenapa disini om sabar sedikit belum matang ayo balik lagi balik lagi sana sana "

__ADS_1


Sena langsung menatap Sani dan Sani hanya diam saja melonggo, disitu Sena sudah geer saja, dia merasa kalau Sani terpukau olehnya, namun hal itu dikacaukan oleh Sani yang menyipratkan air kewah Sena.


"San basah "


"Ku kira om kesurupan, makannya aku mencipratkan air, namun syukurlah kalau om baik baik saja, aku sudah takut loh, ini sebentar lagi matang om kembalilah kesana "


Sena tanpa berbicara apa apa langsung pergi meninggalkan Sani, tak lama kemudian makan itu jadi, Sani langsung membawanya dan menyajikannya dihadapan Sena "silahkan dimana om "


Sani langsung pergi lagi kedapur dan tak lama kemudian dia membawa sosis besar yang ditusuk dengan saus dan mayones, Sani duduk disamping Sani.


"Kau memakan itu, itu tak sehat San "


"Ini enak om, cobalah "


"Tidak itu makanan anak kecil "


Sani mengedikan bahunya dan Sena tiba tiba ingin mencicipinya langsung mengambilnya dan memakannya "bagaimana enak kan "


"Lumayan namun terlalu banyak saus " kembali Sena mengigitnya.


"Omm itu "


"Apa kenapa "


"Itu disamping bibir mu ada saus "


Sena langsung menjilatnya memakai lidahnya "sudah biar aku bersihkan om "


Sani mendekatkan kursinya dan segera membersihkan bibir Sena memakai tissue yang ada disana, Sena hanya bisa menatapnya saja tanpa bergeming dan tak lama kemudian selesai juga.


"Di pipi mu ada saur "


"Hah mana "


Sani langsung bediri namun Sena langsung memegang tangan Sani dan menahannya membersihkan pipi Sani dan malah membuat Sani mundur mundur dan akan terjatuh, namun Sena langsung menangkapnya dan malah Sani memeluk Sena.


Sani langsung melepaskannya "aku akan cuci piring dulu "


Sani langsung berlari kearah dapur dan membiarkan Sena sendirian disana "dasar anak kecil Sani Sani "

__ADS_1


Sena kembali duduk lagi dan memakan makananya dengan lahap, lumayan lah makanannya ini cocok dengan lidahnya, berarti Sani cocok menjadi istrinya namun tak akan cocok menjadi ibu Alvaro, mereka pasti akan seperti adik kakak, ya pasti dan dirinya adalah ayahnya.


__ADS_2