Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Malah senang


__ADS_3

Ayah Sani sudah dimakamkan, Alvaro dan juga teman teman sudah ada disana menemani Sani, yang tak ada hanyalah Mira saja.


Sani duduk dan menangis dimakan sang ayah "kenapa ayah tinggalin Sani kayak gini kenapa secepat ini padahal Sani belum bahagiain ayah. Sani baru aja mau lulus tapi kenapa ayah udah tinggalin Sani padahal Sani pengen terus sama ayah"


Alvaro mengusap punggung Sani "udah San itu akan lebih baik ayah kamu nggak rasain sakit lagi dia udah sehat lagi kayak dulu kamu harus ikhlas semua orang akan mati dan kita tidak bisa menolaknya"


Sani tak menjawab malah terus saja makin terisak, Alvaro memeluk Sani dari samping dan itu tak lepas padi penglihatannya Sena, ibu Ariana segera menyenggol anaknya.


"Udah jangan cemburu sama anak sendiri nggak papa kali ibu sama anak pelukan kayak gitu"


Sena melihat kearah mamihnya sekilas "tetep aja panas "


Ibu Ariana hanya tersenyum kecil lalu menghampiri Sani dan membantunya bangun "sudah ya Sani sudah ayah kamu sudah tenang disana dia pasti udah sama ibu kamu ayo kita pulang "


"Omah kok "


"Apa Al, ayah dan ibunya Sani adalah teman omahmu ini Oma baru tahu udah ayo pulang Sani juga nanti tinggal sama oma kasihan sendirian kamu juga cepat ayo kita pulang yuk"


Alvaro yang sudah terjawab kebingungannya menganggukan kepala dan segera pulang bersama omah opah dan juga papihnya yang dari tadi cemberut terus entah kenapa.

__ADS_1


"Bu terus kita pulang ke mana ke rumah kecil itu lagi ke rumah gubuk itu lagi"


"Ya ke mana lagi Anggia udah kita pulang ke rumah itu aja biarin Sani sama orang kaya itu"


"Aku kira kita akan dibawa sama mereka dan Suni pun kayaknya nggak mau bawa kita ke rumah besar itu Bu. Dia mau menikmati semuanya sendirian nggak adil banget ya Sani itu dia nggak mikirin tentang kita bagaimana hidupnya dia sekarang seneng udah punya suami kaya mertua kaya sedangkan kita masih hidup di rumah itu aja, meskipun aku sudah bersandiwara kemarin tetap saja mereka tidak iba padaku dan membawa ibu dan serta diriku ke rumah mereka sungguh menyebalkan sekali untuk apa aku menghabiskan air mata kemarin kalau pada akhirnya kita akan tetap tinggal di rumah kecil itu"


"Sudahlah kau jangan terus banyak bicara mau bagaimana lagi itu sudah tempat kita. Ayo cepat kita pulang sekarang ibu juga ingin segera istirahat sudah lelah sekali, ibu ingin segera tidur "


Anggia dengan kesal dan uring-uringan segera berjalan mendahului ibunya menyebalkan sekali Sani juga awas aja akan dirinya telepon nanti dirinya juga harus senang dan hidup di rumah besar itu bersama Sani kenapa harus dia saja yang dibawa oleh ibu kaya itu.


***


"Kau tidak ke pemakamannya ayah Sani Mira bukannya kau sudah bilang pada mamih, kau dan juga Sani sudah baik-baik saja lalu kenapa kau tidak pergi ke sana dan menemani Sani dia pasti begitu sedih kamu kenapa masih ada di rumah"


"Awas aja kalau kau berbohong jangan karena seorang laki-laki persahabatan kalian bisa putus laki-laki itu banyak tapi sahabat yang baik seperti Sani itu sulit kamu jangan terkecoh dengan seorang laki-laki, ingat suatu saat orang yang akan selalu datang sama kamu dan bantu kamu itu adalah sahabat kamu sendiri"


"Iya iya mih kenapa sih mami cerewet terus dari tadi aku udah lupain Arzan dan aku nggak akan ngejar-ngejar dia lagi kok, mamih udah tenang ya pokoknya aku akan cari laki-laki yang memang mencintai aku jadi mami nggak usah khawatir mungkin waktu itu aku terlalu kekanak-kanakan makanya kayak gitu. Tapi aku sekarang udah berubah kok mami bisa tenang"


"Baiklah kalau begitu mami tenang mendengarnya jangan sampai kalian berdua bertengkar lagi ya nanti kapan-kapan bawa Sani kemari kalian juga sudah lulus kan jadi bawa main Sani ke sini pasti sudah tidak ada tugas lagi kan "

__ADS_1


"Iya mih nanti Sani aku bawa ke sini mamih, ya udah mi aku mau istirahat lagi mami bisa kan keluar dari kamar aku, aku mau tidur lagi biar besok badanku fresh dan baik-baik aja "


"Kamu udah minum obat"


"Udah mi aku udah minum obat"


"Yaudah deh"


Pintu segera ditutup dan Mira membuka selimutnya "gerah banget sih diselimut jam segini mana mau aku datang ke pemakaman ayahnya Sani biarin aja dia syukurin lagi senang-senangnya ayahnya matikan"


Mira membuka ponselnya dan melihat beberapa temannya yang membuat status di media sosialnya saat melihat Arzan ada di pemakaman Mira mengerutkan keningnya "tadi Arzan bilang dia tidak akan datang lalu sekarang dia ada di sana menyebalkan sekali dia mengelabui ku ya, apa dia mau mendekati Sani lagi saat sedih seperti ini pasti dia akan mendekati Sani, aku harus pergi ke rumah Sani sekarang dan mencegah mereka berdua untuk dekat lagi"


Mira segera mengganti pakaiannya dan pergi dari kamar saat dirinya keluar tidak ada mamihnya untung saja kalau ada pasti maminya akan terus bertanya, baru juga beberapa langkah dia keluar rumah tiba-tiba maminya memanggil.


"Kamu mau ke mana Mira bukannya kamu sakit, kenapa sekarang kamu udah rapih "


"Eh mi aku jadi deh sekarang pergi ke rumahnya Sani aku kepikiran terus sama dia. Ya udah mi aku pamit ya dadah mami"


"Ya udah sana hati-hati kalau ada apa-apa telepon mami ya kamu jangan terlalu maksain diri kalau emang sakit"

__ADS_1


"Enggak kok mi aku baik-baik aja udah ya aku pergi bye mi"


Mira dengan cepat segera berlari dan masuk ke dalam mobil, dia harus pergi ke rumah Sani secepatnya jangan sampai dia kecolongan oleh Sani jangan sampai Arzan kembali dekat dan saling menerimanya dengan tangan terbuka jangan sampai terjadi dirinya tidak akan pernah rela sampai kapanpun.


__ADS_2