Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Jadi gimana


__ADS_3

Tok tok tok


Bu Sesil langsung menengok dan ternyata sedang ada guru "Maaf bu saya mengganggu pelajarannya apa boleh saya mengambil tasnya Sani"


"Tentu bu sebentar "


Ibu guru itu segera mengambil tas Sani dan memberikannya pada Bu Sisil "memangnya Sani ke mana Bu"


"Sani hari ini nggak masuk pelajaran ibu dulu ya izin soalnya mau diobatin lukannya. Ibu tahu sendiri kan tadi dengar kalau Sani berantem sama Bella. Tadi pipinya merah-merah sama ada cakaran-cakaran gitu banyak banget jadi harus diobatin. Maaf ya bu Sani nggak bisa ikut pelajaran ibu"


"Iya bu tadi saya dengar ya ampun kenapa anak-anak ini ya selalu saja bertengkar. Ya udah nggak papa Bu ya udah saya lanjut ngajar lagi ya Bu Sesil"


"Iya bu makasih ya bu "


Setelah kepergian bu Sesil Alvaro yang dari tadi penasaran langsung berdiri "mau kemana kamu Alva "


"Sani kenapa bu "


"Nggak papa dia cuman izin aja udah cepet duduk lagi belajar dan ibu nggak izinin ada yang keluar dari kelas Ibu sekarang"


Alvaro mau tidak mau dia duduk kembali dan melihat ke arah Bella yang masih fokus ke depan, dan sedangkan Mira dia malah tersenyum senang pasti Sani terluka parah, makannya bu Sesil sampai urus-urus semuanya atau mungkin dia di DO dari sekolah bagus deh kalau kayak gitu.


Arzan yang melihat Mira senyum-senyum langsung bertanya "ada apa sama kamu. Kenapa kamu senyum-senyum sendiri saat denger Sani nggak masuk dan izin, kamu senang ya sahabat kamu nggak masuk ke kelas dan aku juga tadi lihat kamu nggak sama Sani, malah nggak ada biasanya kamu selalu paling depan buat bela dia"

__ADS_1


Mira menatap sekilas pada Arzan " Emang aku nggak boleh senyum ya, tadi waktu Sani lagi berantem aku lagi ke kamar mandi aku nggak tahu kalau mereka berantem kayak gitu, makanya aku nggak ada di sana dan saat Sani dibawa ke ruang BK juga aku nggak tahu aku lagi sakit perut aku juga tadi dikasih tahu sama teman-teman, kalau Sani berantem dan saat aku mau ke ruang BK Saninya udah nggak ada ya udah pergi aja kekelas. "


"Gitu ya alasannya Mir, tapi tadi waktu Suni dan Bella dibawa ke ruang BK aku lihat kamu kok ada di balik tembok kamu emang pup di sana ya atau gimana nih atau tadi cuman halusinasi aja aku lihat kamu ada di balik tembok dan lagi senyum senyum "


Mira sudah pucat sekali wajahnnya dan langsung melihat kearah Arzan setelah membuat ekspresinya biasa biasa saja.


"Emm engga kok, Aku beneran di kamar mandi aku nggak ada di balik tembok. Mungkin kamu salah lihat orang, mungkin karena terlalu banyak orang kamu malah anggap orang yang di sana itu aku, nggak deh aku nggak ada di sana kalau aku ada di sana mungkin aku udah ada di samping Sani. Kamu ini gimana sih"


"Iya mungkin ya aku salah lihat sampai-sampai muka kalian mirip banget kamu kayak punya kembaran tahu nggak sih, miripnya itu emang 100% mirip sampai-sampai aku nggak bisa bedain tadi waktu lihat kamu eh maksudnya sosok lain yang ngumpet di tembok"


Setelah mengatakan itu Arzan tak berbicara lagi dan lanjut mencatat kembali sedangkan Mira wajahnya sudah sangat merah karena malah ketahuan oleh Arzan kalau oleh orang lain itu tak masalah, tapi ini sama Arzan laki laki yang dirinta cintai.


**


"Iya Tuan Sani sudah ada di dalam dan Ini tasnya baru saja saya ambil dari kelasnya dan untuk kepergian tuan dan Sani nanti, di sini saya akan mengecek sekitar dan saya jamin tidak akan ada yang melihat tuan dan juga Sani pergi dari sini"


"Baiklah terima kasih atas bantuanmu nanti aku akan kirimkan gajimu" sambil mengambil tas Sani.


"Makasih tuan "


"Hemm "


Bu Sesil memang sebenarnya adalah anak buah dari Sena dia memang ditugaskan untuk memata-matai anaknya sengaja Sena menyimpan seseorang di sini. Jadi kalau ada apa-apa dengan Alvaro dirinya bisa langsung tahu tanpa Alvaro berbicara. Sena langsung masuk ke dalam ruangan UKS.

__ADS_1


Saat dirinya masuk Sani malah sedang tertidur, Sena melihat pipi Sani yang memang merah dan juga ada sedikit cakaran, kebanyakan di tangannya dan juga lehernya. Bagaimana sih sebenarnya mereka ini bertengkar, kalau seorang perempuan itu bagaimana sih bertengkarnya. Apakah harus jambak-jambakan cakar-cakaran seperti ini ya kalau lelaki kan adu jotos kalau perempuan ternyata seperti ini ya berantemnya tapi dirinya belum melihat langsung sih bagaimana perempuan berantem "


Sena mengusap pipi Sani dengan perlahan dan tiba-tiba saja Sani terbangun. Sena sampai kaget melihat Sani yang tiba-tiba saya duduk seperti itu " om kok ada di sini sih"


"Kenapa memangnya aku tak boleh ada disini "


"Ya bukan begitu, om begitu tiba tiba ada disini seperti jin saja "


"Apakah kau akan terus saja memanggil aku dengan sebutan Om, apakah akan seperti itu terus-menerus sampai nanti, bukannya aku sudah mengatakan kalau aku mencintaimu dan aku menyukaimu. Lalu kenapa kau masih saja memanggilku Om"


"Memangnya kalau Om sudah mengatakan itu aku harus memanggil Om apa, Om kan memang om om"


Sena langsung menangkup wajah Sani dan menatap kearah matanya, sedangkan Sani sudah sangat malu dan jantungnya juga sudah tak berteman lagi, malah dag dig dug tak menentu "jadi kau resmi menjadi pacarku, kau ingat kau adalah pacarku "


"Tapi kok gak ada adegan yang kayak di tv-tv ya ditembak kayak gitu terus laki-lakinya bawa bunga nyanyi-nyanyi, kok nggak ada om sama sekali nggak lakuin itu sama aku. Emang kalau nggak ada kayak gitu kita jadian ya dengan kata-kata Om bilang aku menyayangimu, aku mencintaimu, aku sayang sama kamu emangnya kita jadian ya resmi ya. Terus kalau ada yang bilang sama aku kayak gitu berarti dia juga pacar aku ya"


"Tidak hanya aku saja, baiklah jika kau ingin aku tembak, nanti aku tembak kau "


"Kok bilang bilang sih gak seru ah om mah kayak gitu, "


Sena mengusap wajahnya kenapa serba salah seperti ini ya "sudah kau ku obati dulu saja, sini diam jangan bergerak "


Sena mengambil obat obatnya dan segera mengobati Sani, sedangkan Sani hanya bisa diam sambil melihat ketampan om Sena yang luar biasa sekali.

__ADS_1


__ADS_2