
Sania sudah sampai di sekolah duluan dan hanya dirinya satu-satunya saja yang baru datang, dirinya hanya bisa diam dan menunggu teman-teman yang lainnya datang ke sekolah rasanya sepi sekali.
Dirinya terlalu kepagain sampai sampai bisa datang jam segini, karena tadi Alvaro tiba tiba menelfonnya dan menyuruhnya untuk segera cepat bangun dan pergi kesekolah, dan beginilah pada akhirnya.
Saat dirinya keluar ternyata ada Alvaro yang sedang main basket dengan teman-temannya, ternyata dia yang lebih pagi datang ke sekolah, sengaja membangunkannya karena dia sendiri sudah ada disekolah, Sani dengan perlahan pergi ke arah mereka yang sedang main basket.
Lebih baik disana dari pada didalam kelas sendirian, nanti takutnya terjadi apa apakan dirinya tak akan bisa menyelatkan dirinya. Kalau banyak orang kayak gini kan enak dan aman saja.
Lalu Sani duduk di paling atas dan melihat mereka yang sepertinya sedang asyik sekali memainkan bola basket, tiba-tiba saat dirinya baru saja membuka buku novelnya yang akan dibaca kepalanya sudah terhantam bola.
"Aw sakit kepala aku "
Sani mengambil bola itu dan ternyata Alvaro yang menghampirinya "lo di sini ngapain, di sini tempatnya orang main basket, kalau mau baca buku di perpustakaan aja deh ngapain coba duduk-duduk di sini, akhirnya kena bola juga kan, pagi pagi udah bikin diri sendiri celaka aja "
"Apaan sih emangnya kalau baca buku tuh harus di perpustakaan aja ya, aku juga mau di sini kali di kelas sepi banget aku takut kejadian apa-apa, kalau tiba-tiba aku kesurupan emang bakal ada yang bantu aku nggak akan kan. Makanya aku ke sini aja baca buku disini, emangnya kalau misalnya kesurupan dan loncat dari lantai dua aku gak mati, yang pasti aku mati"
"Yang ada setannya takut sama lo, setan juga pilih pilih mau masukin orang, pokoknya lo pergi dan jangan disini, lo dimana kek bacannya, lo mau kenapa bola lagi kepalanya, lo mau kepala lo benjol 10 enggak kan "
Saat Sani akan menjawab, Arzan tiba-tiba datang dan menghampiri Sani "kamu baik-baik aja kan, kamu nggak apa-apa kan San, mana yang sakit kita ke uks aja ya, yu aku anterin kamu ke uks sekarang "
Alvaro yang melihat itu hanya mendelikan matanya dan pergi membawa bolanya dari tangan Sani "jawab aku kamu nggak apa-apa kan Alvaro marah-marahin kamu ya gara-gara kamu di sini, udah yu kita ke uks aja "
"Nggak kok Zan aku baik-baik aja, aku gak perlu uks aku baik kok, cuman kenapa bola aja nggak sakit udah kamu main lagi aja, bukannya kalian semua nanti mau pergi ya. Mau tanding kan, kamu harus latihan lagi gih, biar nanti menang ayo Zan balik lagi kelapangan "
"Ya udah deh aku pergi ya mau main lagi, kamu pokoknya hati-hati di sini kalau ada apa-apa bilang sama aku ya, awas kalau gak bilang ya "
"Iya aku pasti bilang kok sama kamu. Ya udah kamu gihh sana main lagi cepet, teman teman kamu udah tunggu tuh "
__ADS_1
Setelah Arzan pergi ada yang duduk di sampingnya saat Sani melihatnya ternyata itu adalah Mira sahabatnya "Mira kamu yah ngagetin aja, kenapa nggak bicara gitu tiba-tiba duduk aja bikin aku kaget tau gak sih "
"Ya tadi mau bicara tapi kan kamu lagi ngomong sama Arzan masa tiba-tiba aku potong pembicaraan jamu sih nggak mungkin banget, itu namannya gak sopan jadi aku tunggu kalain beres bicara dulu "
Tiba-tiba ada ponsel berdering Suni dan Mira sampai-sampai kaget mendengar nada deringnya yang begitu besar, dan Alvaro berlari ke arah sana ke arah ponselnya, ternyata itu adalah ponsel Alvaro.
"Ngagetin banget itu ponsel, untung aja tuh ponsel gak aku lempar " bisik Mira
"Iya bener kagetlah, nada deringnya gede banget sih "
Sani dan Mira mencoba lebih dekat ingin mendengar apa yang Alvaro bicarakan entah kenapa dirinya kepo sekali. Mereka berdua ingin tau apa yang Alvaro bicarakan dengan s penelfon itu.
"Iya kenapa Pih, Papih emang berangkat kapan, papih beneran mau berangkat ke Swiss tinggalin Alvaro sendirian lagi. Baru juga pulang dari luar kota tiba-tiba udah pergi lagi ke Swiss sama kakak Fatimah, kenapa emangnya gak bisa ditunda ya, kita baru aja habisin waktu pih "
"Ya mau gimana lagi papig juga kan kerja, papih harus ketemu sama rekan kerja Papih di sana , papig udah tanda tangan kontrak dan Papih mau tidak mau harus pergi ke sana, kamu pokoknya jangan macam-macam kalau papih nggak ada di rumah jangan pesta-pesta di luar sana atau di rumah selagi Papih nggak ada ya, semuanya harus dalam pengawasan papih yah "
"Paling Papi jam 10.00 berangkat ya sambil nunggu aja di sana. Ya udah papi mau packing dulu barang ya kamu pokoknya hati-hati dan ingat selalu kata-kata Papi kamu jangan macam-macam apa lagi berduaan bersama Bella papih tidak mau, tidak masalah kamu tidak mengantar papih yang terping kamu menang dan papih bisa selamat sampai tujuan "
" Iya pih doain aja ya, semoga aja Alvaro menang lagi, bay bay pih"
Alvaro langsung menyimpan ponselnya lagi dan langsung masuk lagi ke lapangan sedang Sani malah menjadi lemas mendengar percakapan Alvaro dan juga om Sena yang akan pergi ke Swiss.
Benarkan dirinya tidak salah dengar tentang ucapan Alvaro bersama Papinya itu, kalau om Sena akan pergi ke Swiss sekarang kenapa om Sena nggak bilang. Kenapa saat dirinya telepon om Sena tidak mau angkat.
"Kamu kenapa San kamu baik-baik aja kan, kamu kok tiba tiba jadi murung gitu "
"Ini beneran kan Om Sena mau pergi ke Swiss. Apa dia mau pergi selamanya atau cuman masalah kantor aja, benerkan apa yang aku denger dari Alvaro aku gak salah dengerkan "
__ADS_1
"Emangnya kenapa sih. Oh ya kemarin juga aku denger-denger ya Om Sena tuh pulang dari meetingnya naik taksi loh sore-sore, nggak tau mau ada apa aku juga itu tahu dari papih aku sih karena dia kan ada di sana juga meeting di sana juga, katanya cuman Kak Fatimah aja yang gantiin, kayaknya emang ada keperluan sampai-sampai dia pulang sendirian naik taksi lagi saat lagi ada badai "
Sani langsung menatap ke arah Mira "beneran Mir om Sena lakuin itu, kemarin dia datangin aku pagi-pagi banget dengan penampilan ya nggak biasanya gitu agak berantakan, dan dia cuman gitu aja nggak bicara banyak terus tiba-tiba pergi aja tinggalin aku, aku juga bingung maksudnya apa pagi-pagi datang sama aku"
"Yng bener berarti dia naik taksi jauh-jauh cuman buat nemuin kamu aja, beneran kan San dia jauh-jauh dan pulang buat temuin kamu. Meskipun cuaca lagi nggak baik "
"Nggak tahu aku juga Mir, aku nggak sempet tanya sama dia. Karena aku juga terlalu marah dan hati aku juga sakit karena tiba-tiba dia putusin hubungan kita, maksudnya bukan hubungan pacaran atau hubungan spesial. Tapi hubungan pertemanan kita ya aku anggapnya seperti itu, hubungan pertemanan yang udah deket banget .Terus tiba-tiba dia bilang kalau dia mau udahin semuanya dan nggak akan pernah datang lagi dan temuin aku lagi "
"Terus sekarang gimana, kamu mau gimana om Sena mau pergi, kamu mau temuin dia"
"Aku nggak tahu Mir aku harus lakuin apa, aku bingung aku nggak bisa berpikir apa yang harus aku lakuin sekarang"
"Aku mau tanya sama kamu sekali lagi ini, dan kamu harus Jawab dengan jujur, kamu beneran suka sama Om Sena beneran suka banget kan nggak cuman selewat aja gitu, ya karena mengagumi atau karena ya ganteng kan dia, meski umurnya nggak muda lagi gitu"
"Aku beneran suka sama Om Sena Mir. Nggak tau deh pokoknya aku beneran suka, aku juga nggak bisa jelasin secara detail gimana bisa aku suka sama Om Sena, ya mungkin karena kita selalu habisin waktu sama-sama mungkin aja itu pun"
"Ya udah kamu kejar aja om Sena kamu bicara sama dia atau nggak telepon aja sama kamu dianya "
"Aku sudah mencoba untuk menelponnya Mir. Tapi dia nggak angkat sama sekali, aku juga nggak tahu kenapa dia kayak gitu terus, aku sekarang harus lakuin apa Mir aku harus izin dari sekolah terus pergi ke bandara buat nemuin Om Sena, apa aku harus lakuin itu"
"Iya lebih baik kau temui saja dia langsung. Mungkin dia tidak mau lewat telepon nanti aku yang bantu kamu izinin deh, beneran aku nanti bilang sama guru gimana kamu mau gak, Iya takutnya Om Sena nggak akan balik lagi ke sini"
"Oke aku nanti izin pas pelajaran kedua aja ya Mir, aku nggak mungkin izin sekarang karena Alvaro dan yang lain tuh belum pergi buat ke tempat pertandingan mereka, kalau tiba-tiba aku berangkat sekarang yang ada Alvaro akan curiga, dan pasti akan cari tahu kemana aku pergi sebenarnya. Kalau dia sampai tahu habis semuanya"
"Iya bener banget, iya bener kamu pelajaran kedua aja nanti biar aku yang ngizinin, kamu langsung pergi aja aku yang bilang sama gurunya kalau kamu lagi berobat atau apa kek nanti aku bilang oke, kamu pulang aja dan aku akan bilang sama gurunya"
"Iya Mir Makasih ya"
__ADS_1