Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Kaburr


__ADS_3

Sena sudah sampai dirumah, tanpa banyak bicara dia langsung masuk kedalam kamar dan mengeluarkan ponselnya, sekarang dirinya akan menelfon suruhannya untuk menanyakan keberadaan Sani.


Dan pada deringan pertama langsung diangkat "kemana Sani pergi membawa tas besar "


"Dia bertengkar dengan ibu tirinya tuan dan memutuskan untuk pergi dari rumah, sekarang saya sedang mengikutinya mencari sebuah kosan tapi sudah menemukannya di dekat-dekat pekerjaannya sekarang"


"Lalu bagaimana dengan dalamnya maksud ku lingkungannya apa terawat "


"Tidak tuan sama sekali tak terawat, sedikit kumuh dan ya begitulah tempat kecil masuk kedalam gang, lebih kecil dari rumahnya yang ditinggalinnya bersama keluarganya "


"Baiklah aku mempercakayan semuanya padamu, aku tidak mau tau keselamatan Sani ada ditangan mu, kalau ada apa apa selalu hubungi aku, kau jangan pernah tampakan diri dihadapannya dan jangan sampai membuatnya curiga "


"Baik tuan saya mengerti "


Sena langsung mematikan ponselnya dan membanting dirinya kearah tempat tidur dan menatap langit langit kamar, apakah hidupnya akan seperti ini terus menduda tak punya pasangan.


Sedangkan perempuan yang sangat dirinya inginkan malah tak ada, bukan tak ada anak nya sendiri tak menyukai perempuan itu, bagaimana membuat anaknya menyukai Sani, pasti akan sangat sulut sekali.


Tiba tiba saja pintu kamarnya diketuk dengan kesal Sena langsung membuka pintu ternyata itu sang anak.


"Iya Varo ada apa "


"Besok aku ada pertandingan basket dengan sekolah lain, papih datang ya untuk melihatnya karena orang tua pun boleh menyaksikan pertandingan itu "


Tanpa fikir panjangn Sena langsung menganggukan kepala "iya papih akan datang besok, kau harus menang ya nak "


"Kalau aku menang apakah papih akan membolehkan aku untuk mengadakan pesta disini, dirumah ini "


"Tentu papih akan membolehkannya kalau tim mu menang "


"Yess makasih pih "


Alvaro langsung menutup pintu kamar papihnya lagi dan langsung masuk kedalam kamar, sedangkan Sena hanya mengeleng gelengkan kepalanya dengan tingkah sang anak yang seperti bocah.

__ADS_1


Sungguh dirinya tak pernah menyangka bisa mempunyai anak sebesar Alvaro dan bisa mengurusnya sendirian tanpa ada sosok perempuan disampinynya.


Namun sekarang dirinya malah membutuhkannya, dan malah ingin seorang bocah yang seumuran dengan sang anak menjadi istrinya dan ibu untuk anaknya.


"Senna kau menjadi lemah hanya karena seorang anak kecil, sungguh itu membuat kepalaku pusing dan gila "


Sena langsung membaringkan badannya dan tidur rasanya melelahkan sekali, ingin rasannya sejenak melupakan Sani, namun sulit sekali bahkan tak akan bisa sama sekali di lupakan.


**


Pertandingan basket di mulai, semua orang sudah berkumpul dilapangan bahkan Sena pun sudah ada disana, celinggak celingguk mencari Sani namun dirinya tak menemukannya dari tadi.


Apakah Sani tak masuk karena sakit kemarin hujan hujanan, namun saat Sena akan pergi dari lapangan dia melihat Sani bersmaa Arzan.


Sena sudah mengepalkan tangan, dirinya marah melihat perempuan yang diinginkannya malah bersama laki laki lain, mereka seperti berpacaran saja..


"Aku lebih baik di kelas aja deh Zan "


"Engga boleh kamu harus disini , emang kamu gak mau liat aku main basket, terus bikin aku semangat emang kamu gak mau gitu "


Arzan langsung memegang pipi Sani dengan gemas "tenang aja ada aku, kamu duduk disini ya, aku mau main dulu, kamu cukup semangati aku ya "


Arzan memberikan jaketnya dan menyimpannya dipaha Sani, untuk menutupinya. Arzan langsung berlari kearah lapangan, Sani celingak celinguk, ini pertama kalinya dirinya menonton basket dilapangan biasannya dia akan menontonya dari kejauhan.


Ini juga Mira mana gak masuk lagi, gak tau kemana dia, gak masuk sekolah, padahal dirinya udah nunggu kedatangannya tapi malah gak ada lagi, gak ada kabar kenapa gak masuk, gak ada info apa apa.


Sani melihat kearah atas tempat duduk dan matanya malah bertabrakan dengan mata Sena yang tajam dan seperti marah padanya.


"Ada om Sena " guman Sani.


Sani langsung mengalihkan pandangannya dan melihat kearah Arzan yang tersenyum padannya, dengan canggung Sani juga tersenyum, pertandingan sudah di mulai dan sangat meriah sekali.


Sena masih saja menatap Sani yang duduk tak jauh darinya, dia sama sekali tak memutuskan tatapannya bukan menonton sang anak malah terus saja menatap Sani yang hanya diam saja.

__ADS_1


Saat Sena mengalihkan pandangannya karena ada yang menoelnya, segera Sena kembali mengalihkan pandangannya kearah Sani namun tak ada.


"Kemana dia, kenapa tiba tiba tidak ada "


Sena langsung bangkit dan keluar dari lapangan, mencari Sani yang menghilang entah kemana, Sena terus saja mencarinya, sampai dia mentok disebuah lorong namub sepi tak ada orang sama sekali.


"Kemana Sani, kenapa dia tiba tiba menghilang, apa yang tadi aku lihat bukan Sani, tapi benar kok, aku melihat kalau itu Sani "


Namun tiba tiba saja ada yang menabraknya dari belakang "ehh maaf aku tak sengaja pak " ucap perempuan itu yang masih membersihkan rok nya yang basah.


Sena langsung membalikan badannya dan dia tersenyum miring, didepannya ada Sani, jodoh tak akan kemana kan, ini kalau jodoh ketemu kan.


"Kamu selalu saja ceroboh ya Sani "


Sani mendongakan kepalanya dan langsung bertatapan dengan Sena, Sani langsung memelotkan matanya langsung akan berlari namu. Sena langsung menahannya.


"Mau kemana kamu, kenapa tiba tiba saja lari, aku belum selesai berbicara kenapa kau main pergi pergi saja "


"Emm aku takut nanti Arzan akan mencari ku, tolong lepaskan om, tanganku sangat sakit tolong lepaskan "


Sena langsung melepaskan cekalan itu dan melihat pergelangan tangan Sani yang memar, Sani yang mempunyai peluang segera berlari dan meninggalkan Sena.


Sena sekarang tak berhasil menangkap Sani, dia langsung mengejarnya, namun ternyata Sani berlarinya sangat cepat, sampai sampai dirinya tak bisa mengejarnya.


"Kenapa begitu cepat, Sani tunggu aku "


Saat Sena masuk dia malah melihat kembali adegan yang tak mau dirinya lihat, Sani sedang memberikan minum pada Arzan dan mengelap peluhnya pula.


Sena mengetatkan rahangnya dan maju ingin memberhentikan tangan munggil itu, kesal dirinya melihat itu, darahnya sudah sangat mendidih dan tak suka melihat adegan itu.


Sena terus saja berjalan kearah mereka bedua dan akan mengapai Sani, agar tak melakukan itu lagi, namun tiba tiba saja "pih papih dari mana, kenapa papih tak ada di tempat duduk papih "


Sena langsung mengurungkan niatnya dan menatap pada sang anak yang menghalangi penglihatanya "tadi papih kekamar kecil dulu Varo "

__ADS_1


"Baiklah pih duduk lagi sekarang final, papih doakan saja Alvaro dan tim Varo menang "


"Iya nak papih pasti akan mendoakan selalu dirimu "


__ADS_2