Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Selalu saja dipertanyakan


__ADS_3

Setelah tadi pulang diantar oleh Alvaro Sani sama sekali belum tertidur, dia masih memikirkan tentang om Sena yang sama sekali tidak ada menghubunginya, kenapa seperti itu padahal dirinya menunggu kabar dari om Sena.


"Kenapa sih kok om Sena enggak ada hubungin aku sama sekali, kenapa sih padahal aku nunggu dia, emang nggak bisa ya luangin waktunya buat hubungin aku juga ya, kasih kabar meskipun aku udah tahu tadi dia telepon Alvaro dan ada aku di sana tetap aja kan aku juga butuh dikabarin, aku jadi malu kalau misalnya harus ungkapin perasaan aku. Sedangkan om Sena aja kayak gini dia masa bodoh sama aku"


Sani memukul-mukul bantalnya dan langsung menutup kepalanya menggunakan bantal itu, namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya dengan was-was Sani membuka bantalnya dan segera bangkit.


Apakah benar yang dirinya dengar ada yang mengetuk pintunya, namun ini sudah malam siapa yang mengetuk pintunya malam-malam seperti ini tak ada kerjaan sekali kan, masa sih orang iseng yang melakukannya gak mungkin kan.


"Siapa orang itu apakah aku harus membuka pintunya. Tapi bagaimana kalau orang jahat, ih orang jatuh enggak mungkin Ketuk pintu. Apa itu hantu masa sih ada hantu selama aku tinggal di sini nggak ada tuh yang kayak gitu gimana ya lihat jangan ya, lihat aka kali ya dari pada penasaran kayak gini kan "


Tok tok tok tok kembali suara ketukan pintu itu terdengar, Sani makin ketakutan apa yang harus dirinya lakukan, baru juga setengah jalan mau lihat tapi sudah ketakutan saja. Karena baru sekarang dirinya mendapatkan ketukan pintu dimalam hari.


"Aku lihat sajalah dari jendela siapa saja tahu itu orang yang sedang membutuhkan bantuan, ya lihat saja aku harus berani dan lihat siapa orang itu yang ada didepan pintuku "


Sani dengan perlahan segera berjalan tak lupa membawa sapu jaga-jaga kalau orang itu memang orang jahat dirinya kan bisa langsung mengetok kepalanya.


Sani berjalan dengan perlahan, sangat pelan dia berjalan ke arah pintu depan dan ketukan pintu itu masih terdengar. Sani melihatnya dari jendela sejenak namun gelap.


Kan lampunya mati karena dirinya juga tidak mau menyalakannya mahal, namun orang itu memakai jaket hitam dan di kuplukan ke kepalanya siapa itu, dari perawakannya dirinya tak mengenal orang itu.


"Aku tidak mau membukanya aku takut dia malah orang jahat dan nanti malah melakukan sesuatu padaku. Lebih baik aku masuk saja ke kamar" Sani kembali lagi ke kamar dan mengunci pintunya dengan perlahan sangat perlahan takut-takut orang yang di luar itu mendengarnya.


Sani langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut dengan cepat, lalu merungkup dirinya mengunakan selimbut, ketukan itu masih saja berbunyi dirinya tidak mau membukanya karena takut dan tidak mau sembarangan membuka pintu.

__ADS_1


**


Pagi-pagi sekali Sani sudah terbangun dan langsung berlari kearah pintu depan, ternyata sudah tidak ada siapa-siapa ya mana mungkin kan mengetuk pintu sampai pagi pagi ya gila aja kan, bisa bisa itu tangan bersarah saking terus terusan mengetuk pintunya.


"Apa aku perlu bicara sama ibu kos sama ibu yang punya rumah ini kalau semalam ada yang teror aku, tapi dia percaya nggak ya, kalau dia nggak percaya gimana, ya udah deh aku diemin aja kalau terus-menerus dia ketuk pintu setiap malam aku bilang sama ibu kos deh, lebih baik sekarang aku mandi siap-siap ke sekolah nggak mungkin aku kalau nggak sekolah kan, aku juga gak mau terus mikirin ini "


Sani langsung berlari lagi ke kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi sekolah. Sani yang baru saja keluar dari kamar mandi segera bersiap dan memasuk-masukkan bukunya ke dalam tas sekolahnya dan juga membawa tugas yang akan dirinya kerjakan bersama Alvaro.


Sani keluar rumah dia sangat perlahan membuka pintu takut-takut ada orang itu, namun tidak ada siapa-siapa kosong tak lupa Sani mengunci pintu dan berjalan perlahan ke depan gang rumahnya, lalu menaiki angkutan umum meski sangat sulit membawa kerajinan ini ke sekolah karena gimana lagi dirinya itu naik angkutan umum.


Akhirnya Sani sampai juga di sekolah, dia sampai kewalahan membawa tugasnya itu sangat banyak sekali yang harus dibawa dan juga mempertahankan bangunan yang sudah dirinya buat bersama Alvaro jangan sampai rusak.


Tiba-tiba ada yang menyenggolnya dengan kasar dan membuat bangunan yang setengah baru jadi itu rusak, Sani melihat ternyata itu adalah Bella"Sorry nggak sengaja makanya kalau jalan tuh jangan di tengah-tengah, dan jalan tuh liat liat jangannya kemana aja, yang bener awas jangan halangin jalan gue deh "


"Perasaan dari tadi aku jalan di pinggir deh nggak di tengah-tengah, dan gak menghalangi jalan dia, perasaan aku dih seperti itu, jadi siapa yang salah disini aku atau Bella sih, kesel deh padahal aku sudah kerjainnya dengan susah payah tapi malah kayak gini hancur "


"Kamu baik-baik saja kan San, kamu gak kenapa napa kan San"


Sani melihat ke arah orang itu ternyata itu Arzan"aku baik-baik aja Zan ya cuman kayak gini aja semuanya rusak, dan harus dibuat lagi dari awal padahal sebentar lagi mau beres "


"Ya udah aku bantuin ya, bangunan kamu rusak kayak gini. Kenapa kamu bawa ke sekolah kan belum waktunya untuk dibawa. Kalau mau kerjain ya ditempat lain aja padahal kan kamu tahu sendiri, di sini akan banyak yang gangguin kamu, gak akan selesai selesai tugas kamu San "


"Aku mau kerjain semua ini sama Alvaro di sekolah ya biar nggak timbul fitnah juga , biar Bella nggak nuduh-nuduh aku yang enggak enggak kalau misalnya kita kerjain di rumah atau di mana gitu ya cari tempat, yang ada nanti Bella malah curiga dan labrak aku lagi marah-marah sama aku lagi bilang kalau aku rebut pacarnya, padahal kan aku kerjain tugas sama Alvaro bukan ada maksud aku mau rebut Alvaro dari dia"

__ADS_1


"Gitu ya tapi menurutku itu akan lebih membuat bella cemburu melihat kalian berdua mengerjakan tugas ini, tapi itu terserah kalian ya, kamu juga sekarang kelihatannya sudah akrab banget sih sama Alvaro, gak kayak dulu ya beda pokoknya deh"


"Ya udah sih nggak papa toh aku juga cuman kerjain tugas aja, ini juga kan dari gurunya sendiri yang selalu bikin aku selalu satu kelompok sama Alvaro, jadi ya gimana lagi Bella nggak bisa tiba-tiba marah sama aku karena aku ngerjain tugas sama Alvaro, karena ini kan tugas kelompok bukan tugas mandiri kalau emang tugas mandiri aku nggak mungkin kerjain sama Alvaro. Nggak kok aku biasa-biasa aja sama Alvaro karena dekat itu karena kita punya project baru dan punya tugas baru buat kita kerjain kalau nggak ada tugas aku nggak pernah deket sama Alvaro, emangnya kenapa kamu tanya kayak gitu"


"Nggak kok cuman ya aneh aja Alvaro sekarang udah nggak terlalu gangguin kamu ya, cuman Bella dan Rizky aja yang ganggu kamu, tapi Alvaro selalu diam dan gak ikutin teman-temannya, aneh aja gitu aku kira kalian sudah berteman sampai-sampai Alvaro nggak pernah gangguin kamu lagi"


"Ya mungkin aja dia capek makanya nggak gangguan aku ya udah sih nggak papa aku aja bersyukur kalau dia nggak gangguin aku, emang kamu mau ya aku terus diganggu sama Alvaro sampai-sampai harus tanya kayak gitu enggak kan, udah deh kamu jangan berpikir yang aneh-aneh aja, emang aku harus membatasi pertemanan aku, nggak juga kan aku juga bebas kan kalau misalnya mau berteman sama siapa aja"


"Ya aku juga seneng kok kamu nggak digangguin sama Alvaro lagi. Bukannya gitu aku cuma tanya aja yakutnya Alvaro ada maksud lain deketin kamu. Aku tuh nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, makanya aku tanya kayak gini bukan bermaksud aku mau jelek jelekin Alvaro atau apa ya "


"Orang itu bisa berubah loh kita nggak boleh pikirannya negatif terus, ya mungkin sekarang Alvaro udah lebih dewasa dan di emang mau berubah nggak mau bully bully orang lagi, ya udahlah kita dukung aja apa keputusannya, kita nggak usah komentari apa yang membuat Alvaro bisa berubah seperti itu, yang terpenting kita nggak diganggu lagi gitu aja Zan, aku duluan kekelas"


Sani yang kesal dengan Arzan segera berjalan mendahuluinya, karena memang kesal sekali kenapa sih harus kayak gitu terus, dirinya kan bukan pacar Arzan.


Kenapa harus ditanya-tanya harus ini itulah apalah pokoknya pusing deh baru juga ajdi teman udah kayak gini. gimana kalau misalnya dia ini beneran pacaran sama Arzan bisa-bisa jadinya nggak boleh deket-deket sama cowok lain.


Padahal cuma kerjain tugas aja ya kayak Bella sama kayak gitu cemburu berlebihan dan itu gak baik dan malah bikin pasangan gak nyaman.


" Ya udah kita bareng aja masuk kelasnya. Kenapa harus pisah pisah kan kita bisa bareng bareng berangkatnya "sambil mensejajarkan langkahnya dengan Sani.


"Iya gimana kamu aja ayo kita bareng-bareng aja masuk kelas biar cepet "


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi, Sanipun tidak mau membuka pembicaraan lagi dengan Arzan, yang nanti malah akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru dari Arzan tentang dirinya dan Alvaro.

__ADS_1


Padahal kan hanya berteman biasa saja memangnya ada yang spesial dari diri mereka, tidak kan hanya karena mereka dulu tidak akur sekarang ya cukup akur dan selalu satu kelompok jadi dipermasalahkan dan dipertanya-tanyakan terus-menerus memang salah ya kalau mereka berdua bisa akrab dan berteman.


__ADS_2