Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Pecat


__ADS_3

"Dari mana kamu Sani, wah banjunya bagus nih, bawa makanan apa nih "


Makanan yang dibawa Sani langsung diambil oleh ibunya dan pakaian Sani langsung diraba raba oleh Anggia "dari maan lo dapat baju ini, bagus juga nih bajunya "


"Anggia liat dia bawa makanan yang di tv tv itu loh, yang kamu suka nonton "


"Mana bu "


"Wah makanan korea ya, dapet dari mana sih Sani enak banget pake baju baru bawa makanan korea, cepet bilang kamu dapet dari mana Sani "


"Itu aku dapet dari om Sena "


"Oh jadi kamu punya hubungan kitu sama tuan Sena, kamu jangan ngarep deh ibu yakin tuan Sena akan lebih tertarik dengan Anggia, kamu jauh jauh deh dari dia "


"Silahkan Sani gak berminat kok pengen sama om Sena, ambil aja sama Anggia kalau om Senannya mau itu pun "


Sani langsung masuk kekamar ayahnya tanpa menunggu jawaban dari ibunya atau Anggia.


"Ibu liat deh Sani, hina aku dia itu serasa paling cantik aja dan gak percaya kalau aku bisa dapetin tuan Sena, nyebelin banget bu "


"Udah sayang udah jangan dengerin dia, cantik dari mana, biasa aja kali, cantikan anak ibu kemana mana, pokoknya ibu yakin tuan Sena akan lebih tertarik sama kamu, kalau gak dapet ayahnya kamu kan bisa dapetin anaknya, masih banyak peluang sayang, jangan sedih ya, "


"Hemm iya bu "


"Yaudah mending kita makan aja, apa yang Sani bawa, kayanya enak banget nih yu "


"Yu bu, pasti enak lag masa sih engga "


Sani tersenyum pada ayahnya dan membuka tasnya, mengambil makanan yang sudah dirinya simpan didalam tas, sengaja dirinya memisahkan satu untuk ayahnya, ya lihatlah seperti tadi, pasti akan habis oleh mereka berdua.


"Apa itu Sani "


"Ayah harus cobain pasti suka, ini dari om Sena "

__ADS_1


"Tak Sena kalian berdua__"


"Hanya kebetulan kami bertemu ayah dan om Sena memberikan aku makanan, ayo ayah makan ya ini sudah aku sajikan dimangkok, aku kekamar dulu ya "


"Terimakasih nak "


"Sama sama ayah "


Sani langsung keluar dari kamar ayahnya dan melihat ibunya dan juga Anggia sedang memakan bawaannya tadi, tanpa banyak bicara Sani masuk kamar.


**


Sedangkan Sena dia sedang terdenyum senyum sendiri saking senangnya bisa mengajak Sani makan, bisa menghabiskan waktu dengan bocah itu, entah kenapa dirinya sangat bahagai sekali ada ada saja kan.


Saat Sena membalikan badannya anaknya sudah berdiri dan menatap papihnya dengan kecewa


"Papih ingkar janji katanya tak akan dekat dengan Sani lagi, tapi kenapa papih tadi menolongnya, bahkan membuat teman temanku berfikir kalau papih dan Sani punya hubungan spesial "


"Ok aku salah, mulai hari ini aku tak akan ganggu Sani lagi dan papih pun sama jangan pernah menemui Sani, aku tidak mau melihat papih terlibat lagi dengan Sani, aku tak suka pih "


"Baiklah kita lihat saja apakah kau berubah atau masih sama, jika kau masih sama papih tak akan menuruti apa maumu, papih tak suka dengan dirimu yang ingkat terus menerus, apa susahnya untuk tak mengganggu Sani, tadi kau sudah keterlaluan mrlemparinya dengan telur apa maksudnya itu "


"Itu ide teman temanku, bukan aku yang mau "


"Oh ya ide temanku, niat sekali sampai membeli telur sembanyak itu, jika kau masih begitu papih akan memindahkan mu, kau jangan sekolah lagi disana "


"Jangan pih jangan aku tidak mau pindah sekolah, ya aku minta maaf, Aku kesal pada Sani karena telah mempenjarakan aku "


"Sudah papih bilang bukan dia, tapi dia juga kan langsung mencabutnya juga, seharusnya kau berterimakasih padanya, karena telah baik hati, masuk kamar renungkan apa yang telah kau buat pada Sani, papih kecewa sama kamu Alvaro "


Alvaro dengan lesu segera masuk kedalam kamar dan mengunci pintuny "awas saja gara gara kau papihku selalu memarahiku, awas saja aku tak akan segan segan untuk menghukum mu lebih dari tadi pagi, awas saja kau, aku tak akan pernah bermain main dengan mu Sani "


Setelah kepergian anaknya Sena mengambul air minum dan menegaknya, lihat saja baru saja dirinya menolong Sani sudah seperti itu, lalu bagaimana sekarang dirinya, apakah harus menjauhi Sani lagi.

__ADS_1


Apakah akan sanggup, tidak tidak mungkin akan sanggup "akhh kenapa bisa begini,sial sial dan sial aku tak bisa begini "


Sena langsung duduk dan melihat ponselnya, melihat nomor Sani, namun dirinya baru teringat dengan manager songgong itu."karena kau sudah bermain main denganku, rasakan ini, aku tak akan segan segan membuatmu menderita "


Sena sudah mendapatkan nomor orang yang mempunyai cafe dengan cepat langsung saja Sena menghubunginya.


"Hallo selamat sore, dengan siapa saya bicara


"Saya Sena Anggara Wiratmaja "


"Tuan Sena, maaf ada yang bisa saya bantu "


"Tentu, kau mempunyai manager yang sangat tidak sopan dan sangat kasar, apakah bisa aku ingin kau memecatnya sekarang juga, dia sudah mengeluarkan karyawan yang lain dengan tidak sopan dan tak mau mendengarkan penjelasannya, kenapa kau memperkerjakan orang seperi itu "


"Maksud tuan Rara "


"Aku tidak tau nama dia siapa intinya maneger mu seorang perempuan berambut panjangan dan memilik wajah yak tak cantik, itu saja jika aku besok masih melihat dia bekerja di Cafe mu aku akan mebuat Cafe mu bangkrut "


"Baik tuan baik saya akan melakukan perintah yang anda mau "


Sena langsung mematikan poselnya dan mengembuskan nafasnnya kasar "sudah selesai aku sudah memberikan dia pelajaran agar dia bisa berfikir kalau apa yang dia lakukannya itu sungguh sangat menjijikan "


**


Sani yang baru selesai membereskan kamarnya langsung di hadang oleh ibunya "kenapa bu "


"Sekarang kan kamu deket sama Sena tu, minta uang dong yang banyak biar kita juga kecipratan kekayaannya gimana kali kali lah jadi anak berbakti "


"Bu aku kurang berbakti gimana aku udah jadi tulang punggung keluarga ini, aku udah kerja banting bantingan apa itu bukan berbakti, ibu saja yang meminta pada om Sena, aku lebih baik bekerja dari pada harus mengemis ngemis seperti itu "


Plakk "kamu ya kurang ajar bentak bentak ibu, Ibu hanya memberi saran padamu tapi kau malah berbicara seperti itu Pada Ibu mu sendiri sungguh kau anak durhaka. Untung saja bukan kau anakku tapi Anggia sudah sana pergi kamu, tak sudi aku berbicara lagi dengan mu "


Ibunya langsung pergi dan Sena hanya bisa menyeka darah yang keluar dari samping bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2