Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Hampir saja ketemu


__ADS_3

Sani sekarang sedang menunggu Anggi yang sedang bekerja dan akhirnya Anggia beres juga kan, dia sudah selesai bekerja.


"Kamu nggak tunggu lama kan San maaf ya, tadi beneran banyak pelangan banget tapi udah beres kok, semuanya udah selesai "


"Nggak apa-apa namanya juga kerja, aku nggak masalah kok kamu udah ketemu sama ibu"


"Belum aku sama sekali nggak ketemu sama ibu, bahkan aku saat ke rumah tante Sonia Ibu nggak ada makanya aku bingung harus cari Ibu ke mana lagi, apa Tante Sonia usir ibu atau gimana aku juga nggak tahu, tante Sonia cuman dia bilang Ibu kamu pergi itu aja tanpa ada kata kata lagi dia langsung tutup pintu "


Sani diam, dia menatap luar cafe lalu kembali menatap Anggia "tapi Ibu nggak mungkin tiba-tiba pergi gitu aja kan, mungkin tante Sonia udah usir ibu kan "


"Hem iya juga San yaudah yu kita pergi "


"Iya ayo "


Mereka berdua bergandengan, mereka pergi berjalan kaki karena rumah Anggia tak jauh, dekat jadi tak perlu naik angkutan umum juga.


Tiba tiba saja ada yang menyenggol bahu Anggia dan orang itu terjatuh.


"Ibu " ucap Anggia dengan pelan.


Namun perempuan itu langsung berlari "San itu ibu, kamu tunggu sini " ucap Anggia


Anggia langsung berlari mengejar ibu-ibu itu yang juga sudah berlari menjauhinya dirinya yakin itu adalah ibunya, ya dirinya sangat yakin itu adalah ibunya.


"Tunggu ibu ibu "


Namun perempuan itu terus saja berlari sampai sampai Anggia kehilangan jejaknya karena ada mobil lewat didepannya.

__ADS_1


"Gimana Anggia ibu itu "


"Aku yakin itu Ibu San, tapi nggak tahu deh dia tiba-tiba ngilang aja gara-gara mobil itu lewat jadikan aku nggak lihat ke mana lagi ibu lari, kenapa coba ibu lari dari aku emangnya kenapa padahal kan aku pengen sama ibu lagi"


"Yang sabar pasti nanti Ibu ketemu, ya udah yuk kamu pulang dulu aja nanti kita cari lagi ibu lain waktu semoga aja kita ketemu lagi ya"


Anggia menganggukan kepalanya, saat kembali lagi kejalan tadi tak henti hentinya Anggia melihat kearah belakang siapa tahu ibunya ada.


***


Sarah yang sedang menangis tak kuasa memperlihatkan dirinya yang kacau, tadi anaknya bersama Sani anaknya baik-baik saja saat melihat anaknya baik-baik saja dirinya senang, dirinya tidak mau membuani Anggia sedih dengan melihat keadaanya.


Dirinya salah karena telah memilih Sonia dan akhirnya seperti ini, dirinya diusir dari rumah Sonia karena gagal melakukan rencananya karena ternyata Alvaro malah menerima Sani seutuhnya menjadi ibu sambungnya.


Itukan bukan kehendaknya, berarti Sani sudah cocok bersama Alvaro dan nyatanya Alvaro bisa menerimanya kan.


"Maafkan Ibu Anggia bukan ibu tidak mau menemuimu. Ibu hanya malu dengan apa yang pernah ibu lakukan sekarang ibu sadar semua yang telah ibu lakukan itu salah, seharusnya ibu tidak seperti ini seharusnya ibu tak pernah egois mungkin saja semua ini tak akan terjadi"


Sarah bangkit dan tergopoh gopoh berjalan dengan kaki yang sakit, karena tadi dipaksakan untuk berlari dengan cepat bahkan tadi saat dirinya menyeberang tidak lihat kanan kiri. Untung saja nyawanya masih selamat dan tidak tertabrak oleh mobil ataupun motor Tuhan masih melindunginya.


***


Sani yang sudah ada di rumah dia melihat Anggi yang terus saja melamun sambil melihat ke arah jendela, dirinya tahu apa yang di pikirkan Anggia, pasti Anggia memikirkan ibunya dirinya juga sama memikirkan ibu tirinya tapi mau bagaimana lagi sudah dicari tapi belum ketemu juga.


"Anggia " panggil Sani jangan sampai kakaknya itu kesambet.


Anggia membalikan badannya menatap Sani"aku bingung San harus cari kemana lagi kayaknya ibu emang nggak mau ketemu sama aku deh, dia tadi menghindar "

__ADS_1


"Nggak mungkin, nggak mungkin Ibu nggak mau ketemu sama kamu, kamu udah minta bantuan sama Arzan belum siapa tahu dia punya kenalan gitu di luar sana"


"Enggak aku belum bicara sama Arzan aku nggak mau repotin dia. Ya maksudnya aku aja baru pacaran sama dia belum bertahun-tahun dan belum jadi suami aku juga, aku gak mau repotin dia apalagi keluarganya, aku bukan siapa siapanya Arzan aku hanyalah pacarnya saja "


"Tapi kan ini demi Ibu juga, aku juga udah minta bantuan sama mas Sena tapi dia belum temuin. Ya siapa tahu kalau kita minta bantuan sama orang lain lebih banyak bantuan akan lebih gampang juga kan ketemunya, kita gak mungkin biarin ibu berkeliaran diluar sana Anggi "


Anggi duduk di kursi depan dan memikirkan tentang kata-kata Sani, apakah dirinya harus berbicara pada Arzan apakah dirinya harus berkata jujur. Tapi harus mulai dari mana dulu, apakah harus langsung to the point atau bagaimana.


"Sepertinya nggak deh San aku belum siap untuk berbicara pada Arzan untuk masalah ibu yang hilang, biarkan aku yang mencarinya sudahlah biarkan saja nanti juga kalau sudah waktunya ibu akan ketemu aku gak mau kalau harus minta bantuan Arzan "


Saat Sani akan menjawab teleponnya berdering dengan cepat Sani mengangkatnya "adalah apa Al"


"Bunda di mana, lagi dirumah atau diluar Bun "


"Aku lagi sama Anggi Al, memangnya ada apa "


"Bisa ke rumah sakit nggak Rizki dia ada di rumah sakit sekarang, sekalian aja sama Anggianya ke sini, Arzan juga udah ada di sini kok, cepetannya ke sini keadaanya kritis banget nih "


"Apa kenapa bisa. Apa yang terjadi sama Rizki "


"Nanti deh Bun diceritain ke sini dulu aja naik taksi ya, bilang dulu sama papi nanti takut papi marah atau nanti dia nyariin bunda "


"Yaudah kita kesana sekarang, kamu tunggu aja ya "


Sani langsung mematikan sambungannya "Anggi kita harus ke rumah sakit katanya Rizki lagi dirawat di sana, dan juga Arzan ada di sana kita pergi ke sana ya kamu mau ikut nggak "


"Apa kenapa bisa ya udah ayo aku ikut kamu ayo San "

__ADS_1


Mereka berdua segera mengambil tas masing masing dan pergi keluar rumah dengan cepat, Sani mencoba untuk menghubungi suaminya namun tak bisa entah kemana suaminya itu.


Mungkin dia sedang sibuk sekali, makannya sangat sulit dihubungi, sudahlah biarkan nanti saja dirinya khawatir dengan keadaan Rizki.


__ADS_2