
"Undangan dari siapa pih "
Sena yang kaget melihat orang yang ada didepannya " ini undangan pernikahan Bella sama tuan Adi anaknya tuan Anggabaya "
Alvaro mengambil undangan itu dan membacanya, apa ini pernikahan Bella dan juga laki laki itu tinggal dua hari lagi.
"Pasti ini salahkan pih "
"Enggak Al itu emang bener, Bella mau nikah sama tuan Adi, undangan sudah disebar kemana mana, bahkan semau koleganya di undang tak ada yang terlewat "
Alvaro merasa lunglai, Alvaro melepaskan undangan itu dan pergi dari hadapan ayahnya. Dirinya merasa seperti mimpi, kenapa ini begitu tiba tiba mereka menikah ada apa dengan mereka ini.
__ADS_1
Alvaro masuk kedalam kamar dan menjambak rambutnya " akhh kenapa seperti ini, Bella kenapa kau melakukan ini padaku, kenapa kau tega Bella aku begitu mencintaimu aku begitu menyayangimu tapi kau kenapa memperlakukan aku seperti ini, aku mencintaimu aku menyayangimu apa kurangnya aku sebenarnya "
Alvaro memecahkan foto dirinya dan juga Bella, pintu kamar dibuka, Sani masuk dan melihat kekacauan ini"Al"
"Apa kurangnya aku Bun "
Sani mendekati Alvaro dan mengusap bahunya, " kau sama sekali tidak ada kurangnya, kalian berdua memang tidak jodoh saja aku tahu ini sangat menyakitkan untuk mu Al tetapi kau harus merelakan semuanya karena jodoh maut kelahiran itu hanya Tuhan yang tahu. Mungkin kalian berdua dulu sudah serius tapi Tuhan tidak merestui hubungan kalian maksudnya kalian tidak jodoh, kau berdoa saja agar di kehidupan selanjutnya kalian berdua berjodoh dan bisa bersama sama "
"Berarti Bella sudah memilih laki-laki itu untuk menjadi suaminya untuk menjadi pendampingnya. Kau hanya perlu ikhlas Alvaro aku tahu ini akan sulit untukmu, tapi sebisa mungkin kita harus bisa melupakan karena kalau kau nanti menghancurkan rumah tangga Bella nanti akan ada karmanya, kau tidak boleh seperti itu ya aku akan selalu menemanimu aku tahu kau tak akan mudah melupakan Bella aku tahu bagaimana kau mencintai dia dan aku tahu bagaimana perjuanganmu untuk bisa kembali bersama Bella aku tahu semuanya"
Alvaro diam dia langsung memeluk Sani dengan erat, dan Sani menerimanya tanpa menolaknya, dirinya harus terbiasa Alvaro sekarang adalah anak sambungnya, dirinya harus terbiasa dengan apa yang Alvaro lakukan kalau itu masih tergolong wajar.
__ADS_1
"Kau yang sabar ya, aku sangat tau bagaimana sakitnya"
Sena yang melihat itu hanya tersenyum, dia berbalik dan meninggalkan ibu dan anak itu, dirinya senang Bella dan juga Alvaro bisa akur dan Alvaro juga dengan cepat bisa menerima Sani.
Dirinya sekarang bisa tenang, antara anak dan ibu tak ada lagi kecanggungan " kenapa kau Sena tersenyum senyum sendiri"
"Bu aku melihat Sani dan juga Alvaro mereka sudah seperti anak dan ibu, aku bersyukur mereka bisa bersama "
"Mamah pun senang Sen, mereka begitu menerima satu sama lain, mamih fikir Alvaro akan marah dan mengamuk tapi tidak dia menerima Sani, mamih sangat bahagia "
Sena tersenyum dan menganggukan kepalanya
__ADS_1