Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Takut


__ADS_3

Sani sudah ada di lestoran sekarang mereka akan menyambut kedatangan orang spesial yang ditunggu tunggu. Sani sudah rapih dan begitu senang.


"San ayo kita hidangkan "


Sani mengangguk dan mengikuti kak Livi lalu menyajikan makanannya dimeja, Sani sama sekali tak mendongakan kepalanya hanya menunduk saja tiba tiba.


"Eh ini bukannya perempuan yang nolong saya ya " ucap seorang perempuan sambil memegang tangan Sani.


Sani segera mendongakan kepalanya dan melihat pada perempuan itu, ini bukannya ibunya om Sena dan saat dirinya melihat kesamping ibu ini ada om Sena juga.


Om Sena tersenyum manis padannya " ini benerkan perempuan yang nolong saja itu, iya deh bener, Sen ini yang tolong mamih waktu itu "


"Iya Tante aku yang waktu itu nolong Tante "


"Mih dia itu Sani"


"Apa Sani, Sani yang kamu bawa waktu itu ke rumah, kok beda banget sih kalau tahu dia yang waktu itu nolong mami mungkin mami nggak akan jutek sama dia kamu juga Sani kenapa tampilannya kayak orang dewasa waktu datang ke rumah mami. Panggil mami aja deh jangan tante-tante makasih lo waktu itu udah tolong mamih, kamu juga nggak mau dikasih uang sama mamih padahal kan itu buat rasa terima kasih mamih sama kamu"


Lalu mamih Abian melihat pada atasannya Sani " boleh ya Sani disini "


"Tentu nyonya silahkan "


"Sani ayo sini duduk "


Sani dengan patuh segera duduk namun masih saja sedikit canggung " mami senang bisa ketemu sama kamu lagi, padahal mami mau suruh Sena buat cari kamu tapi udah ketemu di sini kalau jodoh emang nggak ke mana"


"Iya Tante eh iya mami ketemu lagi Alhamdulillah ya"


"Mamih seneng banget dehh ih " ucap mamih Sena sambil memegang tangan Sani, dia begitu senang.


Sani melihat kearah Sena dan Sena hanya tersenyum bangga dan senang, ternyata mamihnya menerima Sani " kamu rencananya kapan mau nikah sama Sena, Sena kapan kamu nikahin Sani dong mami kan pengen nimang cucu lagi Alvaro udah gede gak bisa di pangku pangku lagi"


"Secepatnya Sena akan nikahin Sani kalau mami sudah mendukung ya alhamdulillah, tapi kalaupun mami nggak mendukung Sena akan tetap nikahin Sani kok"


"Ist kamu ini ya " ucap mamihnya sambil memukul bahu Sena

__ADS_1


"Kita nanti bicaranya di rumah aja ya mi, kita sekarang di sini makan-makan ini loh Sani juga ikut masak dia asistennya koki mih, gimana hebat nggak Sani"


"Wah beneran ini, mamih cobain deh, pasti enak deh "


Mamih Sena segera mengambil makanan itu dan memakannya, lalu mengangguk anggukan kepalanya " wah enak, kapan kapan main ya kita masak bareng mamih akan kasih tau kamu resep keluarga, mamih juga udah lama gak masak masak bareng "


"Boleh mih boleh "


Mereka akhirnya akrab juga dalam mengobrol dengan nyaman ternyata mamihnya Sena menerima Sani dengan begitu senang, tidak seperti bersama Sonia dulu mamihnya Sena memang tidak sangat menerima keberadaan Sonia tapi beda dengan Sani maminya Sena langsung menerima Sani meskipun pada awalnya memang menolak karena penampilan Sani yang berbeda sekali.


***


Sena memangku Sani dan membuka pintu kamarnya lalu menidurkan Sani, namun Sani malah menahan tengkuk Sena, namun kedua bola mata Sani masih terpejam.


Sena sudah menahan nafas karena bibir mereka makin mendekat makin mendekat tapi tiba tiba "aku lapar om "


Sena langsung menghembuskan nafasnya dan mendudukkan Sani " apakah kau belum kenyang Sani "


"Belum om, aku masih ingin makan "


"Hemm baiklah om "


Sena langsung pergi kedapur sedang Sani sendiri Menganti pakainnya lalu duduk di meja makan sambil menunggu Sena yang sepertinya menyeduh mie.


Sani menahan kantuk yang sudah dari tadi menyerang, namun dengan sekuat tenaga Sani membuka matanya, Sena datang dan Sani sudah senang akan memberikan mangkoknya pada Sena.


Namun Sena malah memasukan air hangat kedalam mie lalu bumbunya dan tutup lagi " tunggu 3 menit lagi "


"Tapi Om aku sudah sangat lapar kenapa tidak langsung saja tadi dimasukkan ke mangkok ku ini "


"Tidak bisa tadi air rebusan mienya sudah aku buang dan diganti dengan air yang baru kan menyeduh mie memang seperti ini, jadi tunggu 3 menit lagi ya sayang dan mienya akan siap tunggu sekarang baru 1 menit tinggal 2 menit lagi kau harus sabar menunggunya, sabar sayang mienya akan segera siap "


Sani hanya diam saja sambil melihat Sena, Sani sudah menopang dagunya menunggu mie itu akan siapa dirinya santap, namun tak siap siap juga "10 detik lagi sayang, 1,2,3,4,5, 6,__"


Sani malah bangkit dan menuju dapur, "mau kemana Sani ini hampir selesai "

__ADS_1


Sani kembali lagi membawa, saos, kecap, mayones dan bumbu pedas tak lupa mie mentah, Sani membagi bagi mie itu lalu mencocokkannya ke saus dan mayones "


"Kenapa kau memakan mie mentah itu tidak baik "


Sani malah memberikan sepotong pada Sena, Sena segera mencoba nya eh ternyata enak, "Aku boleh memintanya lagi "


Sani memberikannya tapi malah memberikan remahan remahannya saja, Sena akhirnya memakannya sambil mencolek colekannya pada Saos, dan berputar..


Sani yang kasian memberi lebih besar lagi "bagaimana enak kan "


"Lumayan , bagaimana ini dengan mienya "


"Biar aku yang makan " ucap Sani


"Kau sanggup "


"Tentu "


Sani mengambil mie itu dan segera menuangkannya pada mangkok yang sudah dari tadi dirinya bawa, lalu memakannya dengan lahap "emm enak sekali "


"Kau senang tidak saat mendengar kalau mamiku ternyata menyukaimu"


Sani segera menelan mienya dan menganggukan kepalanya "tentu aku sangat senang Om, tapi benarkah mami om memang menyukaiku dia waktu itu berkata kalau dia akan memberikan uang untuk ku meninggalkan Om, aku takut mamih om berkata seperti itu lagi "


"Tidak akan sayang, tidak akan aku akan segera meminangmu "


Sani yang senang menyeruput airnya sampai tersedak, Sena langsung mengambil air minum dan memberikannya pada Sani " kalau makan tuh hati hati "


"Ehh iya om maaf kaget banget soalnya, maaf sekali lagi "


"Iya gak apa apa hati hati pokoknya jangan teledor ah "


Sani kembali mengangguk ada rasa senang dan juga takut bagaimana dengan Alvaro bagaimana dengan dia, apakah Alvaro akan menerima semuanya apakah Alvaro tak akan marah padannya, apakah dia tak akan kecewa padanya.


Sani segera membawa mangkok bekas dirinya makan dan segera menyimpannya di wastafel, setelah itu hanya melamun saja, entahlah masih takut dengan tanggapan Alvaro, apakah dia akan menerima semuanya atau akan marah padannya dan tak mau lagi berteman dengannya nantinya, Alvaro kan tak mau kalau dirinya sampai berhubungan dengan ayahnya apalagi ini sampai menikah.

__ADS_1


__ADS_2