Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Tetap akan mengejar sampai kapan pun


__ADS_3

Saat Mira mengetuk pintu rumah Sani tak ada sama sekali yang membukannya "Sani kamu ada didalam kan, Sani Sani " masih dengan air mata yang bercucuran.


Namun tetap saja tak ada yang membuka pintu " Sani kamu di mana. Kenapa kamu nggak bukain pintu buat aku kamu ada di dalam kan Sani buka dong. Aku mau ngobrol sama kamu aku mau bicara sama kamu, buka Sani buka " namun tak ada jawaban sama sekali hening tak ada suara siapa siapa.


Air mata Mira sudah mengalir begitu deras, tak tahu harus melakukan apa lagi kenapa Sani begitu lama membuka pintu, tiba tiba saja ada yang menepuk bahunya.


Mira langsung mengalihkan pandangannya dan melihat seorang ibu ibu "kamu cari Sani "


"Iya bu saya temennya Sani, saya mau cari Sani "


"Oh saninya nggak ada nggak tahu ke mana pergi sama temennya bawa koper lagi"


Mira baru ingat kalau Sanikan pergi bersama Alvaro kenapa dirinya bisa lupa "ohh ya makasih bu, maaf telah menganggu saya permisi "


"Ya silahkah neng "


Mira langsung pergi meninggalkan kontrakan Sani dan pergi kemobilnya dengan lunglai, entahlah apa lagi yang harus dirinya lakukan, Sani tak ada lebih baik coba saja ditelfon siapa tau bisa, oh ya dirinya baru ingat juga Sani memberikan nomor luar negrinya padannya nanti setelah sampai dirumah aku akan menghubunginya.


**


Sena yang tadi mendengar percakapan Arzan dan juga Mira segera mendekati meja Arzan dan duduk disana, Arzan yang kaget ada yang duduk segera mendongakan kepalanya "Om Sena "


"Ya Zan "


"Om apa kabar "


"Baik apa boleh saya duduk di sini dan bergabung dengan kamu Arzan, saya hanya ingin mengobrol ngobrol saja soalnya dirumah sepi tak ada Alvaro "

__ADS_1


"Oh tentu om tidak apa-apa. Alvaro pergi ya sama Sani lagi jalan-jalan mereka ya om ya "


"Ya begitulah namanya juga anak muda apalagi sih pikirannya jalan-jalan terus apalagi kan Alvaro nanti mau sekolah di sana, tadi kenapa saya lihat Mira nangis tuh kenapa sama dia bukannya saya kepo tapi saya kasihan aja kenapa anak perempuan yang ketemu sama kamu tiba-tiba pergi gitu aja sambil nangis"


"Ohh Alvaro akan sekolah disana om, terus Sani gimana. Emm gak apa apa kok om cuman dia cerita sama aku dan malah nangis dan tiba tiba pergi gitu aja kayaknya dia malu nangis dihadapanku " bohong Arzan tak mungkinkan dirinya jujur pada om Sena, yang ada dirinya malu lagi.


"Iya Alvaro mau sekolah di sana. Emangnya dia nggak cerita gitu sama kamu, bukannya kalian teman dekat ya masa nggak cerita-cerita gitu tentang Alvaro yang akan sekolah di sana. Masa sih cuman cerita aja sampai nangis kayak gitu"


"Nggak om aku sekarang sama Alvaro udah nggak terlalu deket jadi aku nggak tahu deh dia mau sekolah di sana, tapi Sani juga mau sekolah di sana juga Om atau enggak. Namanya juga perempuan om kadang-kadang suka cengeng kayak gitu udahlah nggak apa-apa om lagian juga cuma masalah kecil aja kok bukan masalah besar. Mira juga udah nggak apa-apa tadi waktu pamitan"


"Kalau Sani sih nggak ikut Alvaro, karena dia juga nggak mau. Kenapa kamu tanya gitu kamu takut ya Sani jauh"


Arzan mengaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum samar, tak apa mungkin ya bercerita pada ayahnya temannya sendiri kalau dirinya suka sama Sani.


"Emm takut aja gitu om Sani pergi karena saya lagi kejar dia gitu"


"Kejar emangnya kenapa, Sani punya hutang sama kamu, sampai sampai harus kamu kejar gitu dia "


"Hemm begitu ya ternyata masalah hati, apakah kau yakin Sani akan mau denganmu, karenakau tak bisa menunggu keberuntungan saja loh. Bagaimana kalau Sani nanti mencintai laki-laki lain dan menolakmu. Apakah kau akan mundur"


"Emm aku tidak tahu om belum memikirkan sampai ke situ aku belum memikirkan. Bagaimana kalau aku ditolak apakah aku akan terus berjuang untuk Sani atau aku akan mundur dan membiarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri aku belum bisa memikirkan itu om"


"Lebih baik kau pikirkan dulu sampai situ karena nanti kalau sampai ditolak itu akan sakit hati dan kau juga harus memikirkan bagaimana kedepannya. Apakah kau akan baik-baik saja saat bertemu dengannya. Apakah kau akan menjauhinya ataukah kau akan membiarkan dia hidup bahagia dengan pasangan yang dia pilih, ada kalanya laki-laki itu egois dia tidak mau perempuan yang dia cintai sampai jatuh ke tangan orang lain dan melakukan hal bodoh"


"Iya om benar, mungkin setelah aku ditolak aku akan terus mengejar Sani dengan apapun caranya aku akan terus mengejarmu aku tidak akan menyerah sampai kapanpun, aku yakin itu aku bisa mendapatkan Sani meskipun harus jatuh bangun nantinya"


"Baiklah tapi ingat mengejar seseorang yang tidak mencintaimu itu akan begitu lelah dan menguras energi dan menguras Hati juga apalagi sampai perjuanganmu itu sama sekali tak membuahkan hasil, lebih baik kau pikirkan bagaimana perasaan perempuan yang telah mencintaimu sejak lama jangan sia-siakan dia belum tentu nanti saat kau mulai mencintainya dia akan mencintaimu dan menerimamu . Pikirkan itu jangan sia-siakan seseorang yang telah mencintaimu dengan tulus semua itu akan ada karmanya Arzan. Aku bukannya tidak suka dengan kau yang terus mengejar Sani, tapi ingat kau akan menyesal suatu saat nanti jika menyia-nyiakan orang yang mencintaimu dengan tulus. Ya sudah aku permisi dulu ya, sepertinya aku akan mencari tempat makan yang lain saat melihat menunya aku tidak terlalu berselera , saya permisi Arzan pikirkan kata-kataku itu"

__ADS_1


Arzan tak menjawabnya dia hanya diam saja, apakah om Sena mendengar perkataan yang Mira katakan, " Apakah om Sena mendengar semuanya. Apakah suara Mira begitu besar sampai-sampai om Sena bisa mendengarnya padahal aku tadi tidak melihat satu orang pun hanya aku dan Mira tadi, tapi om Sena sepertinya mengetahui semua itu. Tapi tetap saja aku tidak akan menyerah untuk mengejar kamu Sani yang aku inginkan bukan Mira. Aku menginginkan Sani seutuhnya dan aku ingin hidup bersama Sani bukan bersama Mira mungkin apa yang dikatakan om Sena benar karma akan datang tapi dirinya yakin Sani akan mencintainya dan akan menerimanya nanti lihat saja saat waktunya Sani menjadi miliku pasti dia akan menjadi milikku "


**


Sani yang baru selesai mengeringkan rambutnya mendengar ada yang mengetuk pintunya dengan cepat Sani segera pergi kearah pintu dan melihat dari lubang kecil ternyata Alvaro yang sedang membawa nampan.


Dengan cepat aku membuka pintu dan Alvaro langsung masuk dan menyimpan makanan itu dimeja, sedangkan aku menutup pintu dan menguncinya.


"Katanya kalau mau ke kamar aku kamu mau telepon dulu tapi nih kamu nggak telepon dulu langsung aja datang"


Alvaro mencupit pipiku dengan cekup keras "sakit Alvaro "


"Yaa makanya sebelum bicara itu lihat dulu ponselnya. Aku tuh dari tadi udah telepon kamu tapi kamu sama sekali nggak angkat telfon dari aku, gimana sih "


"Ehh maaf aku lagi mandi jadi aku nggak tahu ada yang telepon ya maaf. Jadi kita makan di sini nih nggak jadi keluar katanya tadi kamu mau ajak aku makan di luar"


"Nggak jadi udah makan di sini aja nanti kalau misalnya ketemu sama Bella lagi abis kamu dimarah-marahin dimaki-makiin lagi di depan banyak orang, udah makan di sini aja sama aja makan di sini dan makan di luar nggak ada bedanya, cepetan duduk itu pipi masih merah aja nggak papa kan mau dibawa ke dokter mau diperiksa nggak. Kayaknya parah banget tuh tamparan dari Bella udah kompres kan" tanya Alvaro bertubi tubi


"Aku jawab satu-satu ya pertanyaan kamu itu banyak banget sampai-sampai aku pusing harus jawab yang mana dulu. Ya udah kita makan di sini aja nggak apa-apa aku juga takut ketemu lagi sama pacar kamu yang kayak Singa itu. Pipi aku nggak apa-apa dan nggak usah dibawa ke dokter Alvaro besok juga pasti akan sembuh ini karena efek muka aku aja yang putih dan waktu ditampar ya bakal berkas lama udah nggak apa-apa kok aku baik-baik aja kok mau makan sekarang nggak aku lapar "


"Ok deh kalau ada apa apa bilang aku akan tanggung jawab dan bawa kamu kedokter kalau nanti tamparan itu makin parah , yu makan aku juga lapar "


Sani menganggukan kepalanya dan langsung duduk berhadapan dengan Alvaro, saat Sani akan melahap makanannya tiba tiba saja ponselnya berdering namun Alvaro langsung mengambilnya dan melihat siapa yang menelfon ternyata Mira.


"Udah nanti aja dijawabnya ini dari Mira nggak akan penting pastinya, makan dulu aja nanti setelah makan baru hubungi dia lagi"


"Tapi aku takutnya penting Alvaro aku angkat dulu aja "

__ADS_1


"Udah nanti aja kenapa sih ngeyel banget kata aku makan ya makan nanti aja masih ada waktu banyak buat hubungin Mira lagi, sekarang tuh waktunya makan bukannya jawab telepon nanti juga bisa kok dia juga pasti ngerti kamu lagi sibuk di sini. Jadi nggak usah pikirin orang dulu pikirin dulu perut kamu sebelum pikirin orang lain belum tentu mereka juga pikirin kamu"


"Iya iya bawel banget sih ayo makan makan " Sani langsung melahap makanannya benar ya anak dan ayah sama saja keras kepala dan apapun yang mereka inginkan harus dilakukan.


__ADS_2