
Sena yang sedang ada di dalam mobil bersama Fatimah dan juga sopirnya sudah melewati tol, dan akan pergi ke bandara selama di perjalanan Sena yang menunjukkan arah, namun dia malah menunjukkan jalan untuk keluar lagi
"Tuan kenapa kita keluar dari tol. Kalau kita lewat jalan biasa yang ada kita akan macet dan akan sampainya telat, kita putar balik saja ya tuan
"Sudah Fatimah aku ingin lewat sana tidak apa, pasti kita akan sampai dengan tepat waktu kau tidak usah takut"
Dan ternyata Sena ingin melihat rumah Sani, dia melihat Gang itu sepi sekali, sebenarnya dirinya ingin sekali melihat dahulu wajah Sani ya meskipun dirinya di Swiss tidak akan lama, ya tetap saja ingin melihat wajah anak remaja menggemaskan itu yang selalu membuatnya tertawa dan membuatnya makin menyayanginya.
Dirinya juga tidak menyangka bisa menyayangi sosok seperti Sani yang kadang-kadang manja, kadang-kadang pemarah, kadang-kadang manis dan lucu pokoknya selalu menghibur dirinya.
Sedangkan Fatimah hanya diam saja dan tak bisa berbicara apa-apa lagi, kalau misalnya dirinya membantah nanti bisa-bisa tuannya akan marah dan gajinya dipotong jangan sampai itu terjadi karena dirinya tidak mau kalau gajinya dipotong.
Capek-capek bekerja masa dipotong kan sayang sekali uangnya, bisa dibelikan untuk makan dan Skin Care yang lainnya masih banyak kebutuhannya. Memang perempuan itu selalu banyak kebutuhannya tak pernah sedikit.
Sena tak henti hentinya menatap gang rumah itu, setelah jauh dia fokus lagi menatap ke arah jalan dan benar saja jalanan begitu macet sekali.
"Bagaimana Tuan macet sekali kita juga tidak bisa putar balik "
"Sudah tidak masalah masih ada waktu kita tidak akan ketinggalan pesawat. Jadi kau tenang saja Fatimah, semuanya akan baik-baik saja kau hanya perlu percaya saja padaku, kalau misalnya kita ketinggalan pesawat tinggal beli saja tiket baru dan menunggu penerbangan yang lain jangan dibuat pusing"
"Baiklah tuan kalau begitu "
***
Sedangkan Sani yang baru saja keluar dari dalam kelasnya segera memberhentikan taksi yang kebetulan ada di depan sekolahnya. Pak satpam juga bingung kenapa Sani tiba-tiba pulang dan Sani juga sudah memberikan surat keterangan kalau dia sudah diizinkan oleh sekolah untuk pulang , Snau sudah masuk di dalam taksi, Sani langsung menutupnya
"Pak bisa tolong agak cepat enggak antar saya ke bandaranya, Saya lagi buru-buru nih pak. Tolong ya dipercepat jalannya
"Baik mbak, baik saya akan mempercepatnya "
__ADS_1
Suni mencoba terus menghubungi Sena namun sama sekali tidak diangkat "Kenapa sih Om kenapa nggak diangkat. Ayo dong om angkat, apa Om udah pergi ini kan baru jam 09.00 masa sih udah pergi, masih ada waktu tadi kan Alvaro bilang jam 10.00 jam 11.00 om Sena mau pergi, pasti belum belum terbang pesawatnya "
"Pak tolong cepat ya pak, Saya lagi buru-buru banget nih Pak tolong "
"Nggak bisa Mbak di jalan lagi macet kalau emang mau cepat cari aja yang lain, Saya nggak bisa kalau harus nerobos nerobos takut ditangkap sama polisi"
"Ya udah deh saya turun aja di sini"
Sani langsung memberikan uangnya dan keluar dari dalam mobil dia berlari untuk cepat sampai di bandara, meskipun kakinya masih sangat sakit, tapi dirinya harus bisa menemui om Sena sebelum om Sena pergi.
Bahkan Sani sampai menabrak pejalanan yang lain saking takutnya kehilangan Om Sena yang bisa saja pergi jauh darinya, dirinya tidak mau menunda-nunda lagi.
Sani berhenti sejenak dan mengambil nafasnya" masih jauh banget. Aku harus lari lagi aku takut ketinggalan dan om Sena pergi, kaki kamu harus bertahan ya pokoknya kamu harus kuat, bantu aku buat ketemu sama om Sena "
Sani kembali berlari dengan sekuat tenaga untuk segera sampai di bandara, dia tidak mau kehilangan tidak ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan om Sena ini adalah waktu yang paling tepat sekali.
Sani kembali berlari namun ada yang menabraknya dan membuatnya jatuh, orang itu sama sekali tidak membantunya. Sani hanya diam duduk dan menundukkan kepalanya tiba-tiba ada yang mengasongkan tangannya saat Sani mendongakan kepalanya ternyata itu om Sena.
Sani menggapai tangan itu dan Sena menarik Sani untuk bangun"kamu ngapain ada di bandara jam segini. Seharusnya kamu tuh sekolah bukannya ada di bandara, kamu izin dari sekolah buat datang ke bandara, Emangnya siapa yang ingin kamu temui sampai-sampai kamu harus bolos sekolah, saya sudah bilang kan kamu tidak boleh bolos sekolah"
Sani malah meneteskan air matanya dia malah menangis melihat Sena yang ada di hadapannya, akhirnya dirinya bisa bertemu juga dengan om Sena, dirinya tak sia-siakan berlari untuk bertemu dengan om Sena, pengorbanannya ternyata tidak sia-sia.
"Kenapa ada apa dengan kamu, kenapa kamu malah menangis, saya sedang bertanya padamu tapi kamu malah menangis seperti ini apa kenapa"
"Kenapa saat aku telepon Om kok nggak angkat sih padahal aku pengen tahu keadaan Om, dan aku juga dengar kalau om mau pergi ya ke Swiss kenapa Om susah banget dihubungin, apa Om gak mau lagi dapat telepon dari aku, terus buat apa Om kasih ponsel ini buat aku kalau emang gak berguna. Lebih baik aku balikin lagi kan sama Om"
Sena hanya diam dan tersenyum pada Sani, Sani yang kesal melihat om Sena malah tersenyum memukul dadanya, tidak terlalu keras sih" Kenapa sih Om malah senyum-senyum kayak gitu, aku tuh nanya bener-bener kenapa Om susah banget dihubungin, Apakah Om emang gak mau aku hubungin gitu, nggak mau ya ketemu lagi sama aku makanya telepon dari aku tuh nggak pernah mau angkat"
Tanpa banyak bicara Sena langsung memeluk Sani dengan begitu erat " saya tidak akan pergi lama-lama. Saya hanya akan membahas pekerjaan saja di sana saya tidak akan pergi lama mungkin. Kenapa kamu menangis kamu sedih saya tinggalin, kamu nggak mau saya tinggalin ya sampai-sampai nangis kayak gini, saya nggak lama kok dan saya juga nggak akan menetap di sana buat apa saya menatap di sana sedangkan anak saya Alvaro di sini"
__ADS_1
Sani bukannya menjawab dia malah mempererat pelukannya bersama Sena sedangkan Fatimah yang ada di kejauhan hanya bisa tersenyum saja melihat tuannya akhirnya bisa tersenyum lagi seperti sedia kala, Entah kenapa kemarin kemarin selalu saja cemberut .Tidak seperti biasanya ternyata ini toh gara-garanya.
"Kenapa ada apa, apa yang kamu ingin bicarakan, mumpung saya masih ada di sini dan juga belum pergi"
Tiba-tiba saja suara pramugari yang memanggil kalau penerbangan ke Swiss akan segera berangkat, Sena langsung melepaskan pelukannya dengan Sani "saya harus pergi nanti kita bicara lagi ya, saya tidak bisa menunda-nunda lagi kamu baik-baik saja kan"
Sani menganggukan kepalanya "Om di sana baik-baik aja, nanti kita bicara setelah Om pulang aja, kayaknya belum tepat aja karena Om juga lagi buru-buru kan nggak mungkin aku bicara di sini, dan juga nggak enak sama orang lain"
"Baiklah saya pergi kamu hati-hati di sini jaga diri baik-baik, karena saya tidak akan ada lagi untuk menolong kamu jika terjadi sesuatu saya ada di Swiss, sedangkan kamu di sini tidak mungkinkan saya terbang dulu dari Swiss untuk menolong kamu yang kesusahan jadi jaga diri kamu baik-baik"
Sani mengangukan kepalanya, Sena langsung menundukan kepalanya dan mencium kening Sani cukup lama dan langsung pergi sambil menarik kopernya. Fatimah langsung mengikuti tuannya, saat sudah ada disamping Sani Fatimah tersenyum.
"Semangat kamu bisa " ucap Fatimah dan langsung pergi
Sani hanya dian menatap kepergian om Sena, dia mengusap air matanya dan memegang jantungnya yang berdetak begitu kencang.
"Kenapa saat aku berhadapan dengan orangnya langsung aku tidak sanggup untuk mengatakan semuanya, untuk mengatakan kalau aku memang mencintainya. Kenapa begitu sulit hanya berbicara aku mencintainya, ternyata aku tak punya keberanian"
"Padahal ini adalah kesempatanku untuk memperbaiki hubunganku dan juga om Sena. Tapi bagaimana kalau Om Sena tidak menyukaiku bagaimana, mukaku akan ditaruh dimana"
"Terus nanti tiba-tiba om sena menolakku bagaimana aku pasti akan malu sekali, dan jika nanti suatu saat berhadapan lagi dengannya, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang mengatakan yang sesungguhnya atau aku diam dan menunggu Om Sena yang berbicara kalau dia juga mencintaiku "
"Terus aku buat apa lari-lari ke sini ke bandara buat kejar Om Sena tapi aku nggak bicara itu, pokoknya om Sena pulang aku harus berani dan bicara semua itu sama Om Sena kalau aku emang suka sama dia, dan ini beneran suka bukan bohongan"
Sani langsung melangkahkan kakinya untuk segera pulang kakinya sangat sakit sekali, sepertinya kakinya bengkak deh karena ya kakinya memang masih sakit, dan Masih biru-biru ditambah lagi dengan dirinya yang berlari cukup jauh ke bandara dan akhirnya dirinya berjalan sambil menggusur kakinya yang sakit.
Tapi harus pulang dong, dirinya tidak mungkin kan menginap di bandara jadi mau tidak mau kakinya digusur saja dari pada ngesot itu akan lebih parah, dan membuat dirinya sangat malu dilihati oleh banyak orang di sini.
disini orangnya bukan satu atau dua orang saja tapi banyak sekali dan untung saja tidak ada yang mengenalinya, ya mau gimana gak mungkin ada yang mengenalinya emang dirinya siapa sampai-sampai orang harus kenal padanya.
__ADS_1