Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Tidak akan pernah


__ADS_3

Mereka berdua sudah sampai di tempat makan yang Sena mau, Sani hanya bisa diam dan mengikuti Sena masuk saja, lalu duduk dan berhadapan langsung dengan Sena.


"Kamu mau apa "


"Aku gimana om aja "


"Yaudah kalau gitu "


Sena segera memesan makanan dan juga minuman, setalah itu tak ada pembicaraan lagi, tak lama kemudian minuman datang lebih awal.


Tiba tiba saja Sani mempunyai cara untuk membuat Sena makin tak suka padannya, karena dirinya harus cari aman, jangan sampai Alvaro makin membully nya.


Sani membuka jaketnya dan menampilkan bahu mulusnya, Sena yang sedang minum hampir saja menyemburkan minumannya. "ow maaf om aku gerah jadi ya begini "


"Gerah ya, tapi ac disini cukup dingin, lihat bulu bulu tanganmu sampai terangkat seperti itu "


Sani segera melihatnya dan langsung menatap Sena lagi " Ah om ini bisa aja, gak kok aku tuh kegerahan tau gak sih om, harusnya tuh om beliin baju yang lebih pendek lagi deh. Jadi aku gak kayak gini ya ampun kenapa sih om gerah banget di sini"


Sena hanya diam saja menatap Sani yang sedang mengibas ngibas bawajahnya dengan tangan, "kenapa om, apa ada yang salah sampai om liatin aku " Sani mengangkat satu kakinya dan malah kejedot kemeja.


"Ow ow maafkan aku sepatu, jadi kamu kotor, "


Sena makin menatap Sani, Sani yang acuh malah balik menatap Sena, makan sudah tiba, Sani membuka jaketnya dan menyimpannya dikursi yang kosong dan segera memakan, makanan yang sudah tersaji.


"Ayo ayo om makan keburu dingim nanti enak lo om "


Sani dengan lahap memakannya tanpa menghiraukan Sena yang masih menatapnya.


"Mau kamu menampilkan sikap kamu yang menjijikkan atau pun yang jorok pun aku tidak akan pernah ilfil denganmu Sani, jadi jangan membuat dirimu terlihat konyol di depanku "


Sani menyimpan sendoknya dan memanyunkan bibirnya "tau ah gimana om Sena aja, aku gak mau berurusan dengan Alvaro kalau kita deket terus "


"Setakut itukah kamu dengan Alvaro "

__ADS_1


"Bukannya takut om aku tuh gak mau di sekolah terus dibully dan diejek-ejek terus, aku juga manusia punya kesabaran dan punya rasa sakit hati kalau digituin terus, aku tuh gak suka om aku udah capek hampir 3 tahun loh aku dihina di bully sama Alvaro, sampai kapan aku terus begini di bully sama Alvaro, apa sampai aku keluar sekolah, aku harus terus dibully sama dia sama temen-temennya gitu aku juga sama manusia om " Sani langsung menghapus air matanya.


"Maafin Alvaro, om akan bicara sama dia "


"Gak usah om nanti malah makin panjang, maaf ya om aku malah jadi cerita, udah om makan dong makanannya nanti gak enak loh "


Sena langsung memakan makanannya, dan menghabiskannya tentunya, sambil sesekali menatap Sani, yang sepertinya menjadi tak berselera makan.


"Makan seperti tadi, aku lebih suka melihat mu makan yang seperti tadi ceria dan tak malu, "


Sani langsung mengelengkan kepalanya dan memakan makanannya dengan lesu, tak bisa seperti tadi, semua rencannya sudah gagal totol, susah sekali membuat om Sena membencinya atau merasa ilfil dengan dirinya ini.


Menyebalkan sekali kan, kenapa harus begini coba, sungguh tak menjadi berselera dirinya ini, tiba tiba saja teringat sosok ayahnya.


**


Arzan masih diam didekat gerbang rumah Alvaro "anda menunggu siapa kenapa belum pergi "


"Maaf om, saya lagi nunggu teman saya yang tadi kecebur dan dibawa sama om Sena masuk, om tau gak sekarang di mana keberadaan teman saya Sani, saya lagi nunggu dia nih dari tadi belum keluar juga dari rumahnya Alvaro om tau gak "


"Baiklah om, terimakasih telah memberi info "


"Ya ya sama sama "


Arzan langsung masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah Alvaro "semoga saja kau sudah pulang San, tapi dimana sekarang rumah mu, aku sama sekali tak mengetahui kosan mu, apa didekat kedai kakek, bisa saja kan, aku akan coba menunggu di gak dekat kedai kakek "


**


"Makasih om udah anterin aku, udah sampai sini aja om, nanti aku masuk sediri ke gangnya "


"Udah saya anterin aja "


"Gak usah om, nanti malah timbul fitnah lagi "

__ADS_1


"Udah ayo "


Saat Sena menarik tangan Sani tiba tiba saja ada yang memanggil Sanii, Sani segera mengalihkan pandangannya ternyata Arzan.


Arzan tanpa menghiraukan Sena langsung memelul Sani "San kamu gak apa apa kan ,aku nunggu kamu disana kenapa kamu gak tunggu aku, aku cari kamu "


Sani yang tak nyaman segera melepaskan pelukaan itu "maaf tadi aku dianter sama om Sena "


Arzan langsung mengalihkan pandangannya pada Sena "maaf om, makasih om udah anterin pacar saya "


"Ya " Sena langsung pergi meninggalkan dua sejoli itu.


"Zan kamu kok terus aja bilang kalau aku ini pacar kamu nanti yang ada makin besar aja salah faham ini, aku gak mau temen teman kamu marah lagi sama aku, aku gak mau ada salah faham lagi Zan, nanti mereka makin menjadi jadi loh "


"Tenang aja aku lakuin ini untuk kamu juga, biar mereka takut dan gak terlalu bully kamu, oh ya kamu sebenernya sama om Sena punya hubungan apa sih "


Sani segera berjalan kearah gang sambil di ikuti oleh Arzan "aku gak punya hubungan apa apa kok sama om Sena, cuman kita kebetulan aja selalu ketemu dan setiap aku kena musibah pasti om Sena yang tolong aku "


"Aku rasa om Sena suka deh sama kamu "


Sani langsung memukul tangan Arzan "Zan kamu ini ya kalau bicara kemana aja, masa om Sena suka sama temen anaknya sendiri, apa lagi Alvaro gak suka sama aku, kamu suka ngaco aja, kamu udah dua kali loh bilang kayak gini, bilang kalau om Sena suka sama aku "


"Emang bener kok kelihatan dari gerak geriknya, hati hati loh Sen, kamu nanti dikejar sama om om "


"Istt udah ah jangan bahas om Sena, udah sampai dikosan aku, kamu pulang gih udah malem "


"Yey gak disuruh masuk dulu gitu "


"Nanti kapan kapan aja ya, ini malem Zan, bayy Zann "


Sani sedikit berlari dan masuk kedalam rumah meninggalkan Arzan yang masih diluar.


"Manisss kamu San "

__ADS_1


Arzan segera pergi dari sana, takutnya malah disangka maling lagi, gara gara diam terus di depan kosan Sani.


__ADS_2