
Sena yang masih terjaga mengingat tentang dirinya yang menyimpan segepok uang dan juga ponsel untuk Sani apakah dia menemukannya atau ibu tirinya yang menemukannya, sengaja dirinya menyimpan uang itu untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan Sani atau ayahnya.
Semoga saja Sani tidak mengembalikan uang itu padanya dna juga ponselnya, karena dirinya tahu Sani itu orangnya keras kepala dan akan melakukan apa yang menurutnya benar.
Ingin sekali melihat wajah polos itu, tapi dirinya sudah berjanji kepada anaknya alvaro untuk tak kembali mendekati Sani atau berhubung lagi dengannya.
Ini sungguh sulit setelah 18 tahun tak mau berhubungan dengan wanita lagi dan sama sekali tak tertarik dirinya malah menemukan sosok yang menurutnya dapat memikat hati nya tapi anaknya malah tak menyukainya sama sekali malahan mereka musuhan.
Mungkin dirinya belum sepenuhnya mencintai Sani atau bahkan sangat sangat mencintainya, tapi dirinya ingin memiliki Sani seutuhnya untuk bisa menemaninya sampai nanti tua.
Mungkin orang-orang akan berbicara kalau dirinya ini gila, menikahi perempuan yang umurnya sama dengan anaknya tapi bagaimana lagi dirinya sangat ingin memiliki Sani seutuhnya.
"Sani sebenarnya apa yang ada dalam dirimu sampai-sampai aku begitu tertarik padamu, tapi dengan perempuan dewasa aku sama sekali tak tertarik dengan wanita yang seumuran ku, tapi dengan wanita yang seumuran dengan anakku aku malah tertarik, apa yang kau punya Sani sampai-sampai aku begini, pada saat pandangan pertama aku langsung menyukaimu aku langsung tertarik dan ingin mendapatkan mu "
Sena mengigat kembali saat dirinya menyimpan ponsel dan uang ditas Sani.
Flasback on.
Sena yang sudah melihat Sani tertidur segera mengambil tasnya Sani dan membukanya dengan lebar, memasukan uang didalamnya dan juga ponsel yang dirinya berikan untuk Sani, agar mereka gampang untuk komunikasi.
"Kalau aku tak seperti ini mana mungkin kau akan menerimanya Sani, kau harus memakai uang ini dengan bijak dan menggunakannya hanya untuk kebutuhan mu dan ayahmu saja Sani, karena aku tahu kau adalah tulang punggung di keluargamu jika kau tidak bekerja mereka tidak akan makan"
Sena lalu menumpuk uang dan ponsel itu mengunakan pakaian Sani, lalu kembali duduk dihadapan Sani, dan juga sudah menyimpan kembali tasnya ditempat semula.
"Sani apakah aku bisa memilih antara mu dan Alvaro, mungkin akan sulit aku untuk memilih, tapi aku akan mencoba untuk memilih salah satu diantara kalian berdua ,kita memang baru kenal bahkan beberapa hari tapi aku sudah merasa nyaman denganmu "
"Kau yang begitu polos dan berani serta keras kepala itu menantangku untuk bisa mendapatkanmu seutuhnya, kau tahu aku sudah pernah disakiti oleh perempuan dan saat itu juga aku bertekad tidak akan pernah mencari satu perempuan pun untuk kujadikan istriku "
__ADS_1
"Namun setelah melihatmu pikiranku langsung berubah. Meski aku tak yakin kau akan mau denganku atau tidak, yang terpenting aku ingin berjuang untukmu tapi aku tidak yakin Alvaro akan menerimanya"
"Aku mempunyai anak yang membencimu aku juga bingung harus bagaimana, harus memulainya dari mana dan harus berbicara apa pada Alvaro. Saat hatiku tak bisa menahan lagi gejolak yang ada di dalamnya, kau tahu kau perempuan pertama yang bisa membuatku langsung terpikat"
"Meskipun kau anak kecil dan berumur masih 17 tahun tapi aku sangat tertarik padamu, kalau kau mendengar ini kau jangan tertawa karena aku pun tak tahu hatiku berlabuh pada siapa kapan dan di mana"
Setelah mengeluarkan semua isi hatinya Sena memegang tangan Sani dan tertidur dengan duduk dekat Sani dan kepala bersandar pada tempat tidur Sani, karena dirinya tak mau meninggalkan Sani untuk saat ini biarkan dirinya merasakan bagaimana ada di dekat seseorang yang sangat ingin dia miliki.
Karena mungkin pilihannya akan tertuju pada Alvaro itu pun masih dirinya pertimbangkan, karena dirinya tak bisa untuk memilih diantara mereka itu sangat sulit dan butuh pengorbanan, akan ada yang sakit hati.
Flasback off
Kembali pada hari sekarang Sena mencoba memejamkan kedua bola matanya mencoba untuk tidur siapa tau kan bisa.
**
"Pasti ibu lapar ya"
"Iya Ibu laper ayo kita cari di mana Sani nyimpan nasi gorengnya, pasti dia menyimpannya gak mungkin kan dia makan 3 sekaligus nasi goreng"
"Iya bener bu "
Bu Sarah dan juga Anggi segera mencarinya didapur dan ditempat makan namun tak ada, kosong tak ada makanan apa apa, kosong pokoknya.
"Bu kenapa gak ada, kenapa gak ada bekasnya sih, kemana nasi goreng aku bu, terus kalau gak ada makan apa aku "
"Iya kemanain ya Sani, apa dia makan, ayo cepet cari lagi "
__ADS_1
Mereka kembali mencari makanan mereka, mengobrak ngabrik dapur dan juga ruang makan, namun tak ada sama sekali nasi goreng itu.
Dengan marah ibu Sarah membuka pintu kamar Sani namun dikunci "kenapa bu "
"Gak biasannya nih pintu dikunci, iss pasti ini udah sengaja deh Sani lakuin, gimana nih Anggia laper banget "
"Kebagetan tuh ya si Sani mentang-mentang dia yang cari uang dia seenaknya sama kita, ibu harus kasih pelajaran tuh sama anak itu biar dia tuh gak ngelunjak terus-menerus sama ibu, enak aja dia makan enak-enak sedangkan kita gak dikasih sama sekali malah dibuang mungkin sama dia gak bersyukur banget sih dia "
"Ada apa ini bising bising "
"Apa sih Ayah kalau emang lagi tidur tidur aja"
"Iya Ayah tadi tidur tapi mendengar suara kalian yang berisik, ada apa sebenarnya berisik di tengah malam, aapa yang kalian cari"
"Ayah Anggia sama ibu lagi cari nasi goreng yang tadi Sani beli, tapi gak ada di mana-mana. Apakah Sani, makan semuanya 3 bungkus sekaligus . Ayah apakah dia sanggup memakan itu semua .Apakah dia tidak memikirkan kami berdua yang belum makan sama sekali"
"Oh kalian cari nasi goreng itu, ayah kira kalian sudah tidak mau dan sudah kenyang dengan mood kalian yang rusak tadi, jadi ayah tadi memberikannya pada orang yang lewat saja kepada tetangga karena mubazirkan kalau tak dimakan itu kan dibeli pakai uang, jadi jangan sampai terbuang sia sia, Sani membelinya dengan susah payah "
"Ayah kenapa ayah tiba-tiba aja kasih makanan kita sama orang lain , kita aja kelaparan di sini ya kita kan gak bilang kalau kita gak akan makan nasi goreng itu cuman lagi gak mood aja itu aja , ayah keterlaluan tahu Anggia besok sekolah gimana dia kalau nanti kelaparan dan malah gak fokus sama pelajarannya, karena begadang malam ini pasti dia tak akan tidur karena kelaparan "
"Ya sudah beli lagi saja kenapa sih ribet sekali kalian berdua ini"
"Mana uanganya "
"Kerja saja " sambil melengos pergi meninggalkan anak dan istrinya yang manja.
"Ibuuu gimanaaaa " rengek Anggia
__ADS_1