
Sani yang baru beres bekerja langsung saja keluar dari restoran, tadinya dirinya ingin izin tapi tidak bisa jadi mau tak mau dirinya meninggalkan ayahnya bersama ibu tirinya dan juga kakak tirinya.
Saat Sani akan masuk kedalam bus tangannya dipegang jadi tak jadi, saat menengok kearah belakang ternyata om Sena.
"Om "
"Hemm "
"Kenapa Om ada disini "
"Kenapa saya gak boleh ketemu sama pacar sendiri ".
"Pacar"
"Ya pacar emang kamu lupa kalau saya ini pacar kamu, ya meskipun saat menyatakan perasaannya tak romantis akan saya lakukan kapan kapan ".
"Hemm om memang tak romantis "
"Jangan panggil saya om, ayo kita makan "
"Aku nggak bisa Om, aku harus kembali lagi ke rumah sakit"
"Saya tahu kamu harus kembali ke rumah sakit, tapi kamu juga harus makan saya tahu setelah kamu makan bersama Alvaro kamu belum makan lagi, apalagi kamu sudah capek kerja lebih baik sekarang kita makan jangan ada kata bantahan saya tidak suka"
Tanpa mendengar jawaban dari Sani, Sena langsung menarik tangan kekasihnya itu dan membawanya masuk ke dalam mobil Sani yang lelah menyandarkan kepalanya di bahu Sena yang sedang menyetir.
"Emm om kenapa hidupku begitu berantakan "
"Ada kalanya hidup kita bisa di bawah dan bisa di atas, mungkin sekarang kau sedang diuji dulu kau dan ayahmu berkecukupan, mungkin saatnya sekarang kau di bawah kita harus mensyukuri semua kehidupan yang Tuhan berikan, saya juga pernah ada seperti dirimu saya juga dulu berpikir kalau hidup saya berantakan dan kacau tapi setelah itu saya berpikir ada saatnya kita di bawah dan ada saatnya kita di atas maka kita harus bersyukur saja kau tenang saja aku akan selalu ada di sampingmu dan aku tidak akan membiarkan hidupmu berantakan"
"Lalu jika suatu saat nanti Alvaro tahu tentang hubungan kita bagaimana Om"
"Akan kita pikirkan nanti saya akan memikirkan semuanya pokoknya kamu tenang terima beres saja, saya yakin suatu saat Alvaro akan menerima hubungan kita berdua"
"Semoga saja om "
Tak lama kemudian mobil diparkirkan, Sena memberhentikan mobilnya dan Sani tak menyender lagi pada Sena, namun fokus kedepan dengan fikirannya yang kacau, Sena membalikan badan Sani dan mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Kamu percaya sama saya "
Sani menganggukan kepalanya, Sena dengan perlahan mendekatkan wajahnya kearah Sani makin dekat makin dekat, dan bibir mereka menyatu, Sena mendiamkan bibirnya takut takut Sani malah menolaknya namun tak ada penolakan sama sekali.
Dengan pelan Sena ******* bibir itu sambil memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang dirinya berikan pada Sani, tak lama kemudian penyatuan bibir mereka terlepas.
Sena menatap bibir Sani yang basah, lalu mengusap bibir Sani yang basah "Ayo kita makan "
Sena keluar terlebih dahulu sedangkan Sani masih didalam mobil, masih tak menyangka kalau Om Sena akan menciumnya lagi, pintu terbuka dan om Sena yang membukanya mengulurkan tangannya untuk membantu Sani keluar, dengan cepat Sani menggapai tangan itu dan keluar dari dalam mobil.
Mereka berdua berjalan bersisian lalu masuk kedalam restoran itu dan Sena langsung memesan makanan mereka. Setelah makanan sampai Sena menatap Sani "biar aku suapi "
"Tidak usah om "
"Katanya pengen punya pacar yang romantis "
"Tapi om banyak orang "
"Shutt "
Akhirnya Sani mau tak mau memakan suapan yang diberikan oleh Sena, Sena terus saja memaksa Sani untuk makan meskipun Sani sudah agak kenyang, tiba tiba ada yang menghampiri mereka berdua.
Sena langsung menatap orang itu dan mendelik kesal "kamu bukan anak dan ayah "
"Ow maaf apa kalian suami istri "
"Ya kamu suami istri " teriak Sena dengan kesal
Orang itu langsung pergi meninggalkan meja Sena dan Sani, sedangkan Sani malah tertawa melihat Sena yang kesal.
"Kau ya mentertawakan ku "
"Habisnya lucu Om tiba-tiba ada yang datang ke sini dan bilang kalau kita ayah dan anak lucu aja gitu"
"Ya saya tahu saya tua dan kamu muda" Sena mulai merajuk.
Sani dengan cepat pindah tempat duduk dan memeluk tangan Sena "jangan marah dong om "
__ADS_1
Namun masih saja Sena merajuk "om itu enggak tua tapi terlalu matang aja Om itu ganteng jadi udah jangan dengerin orang-orang yang penting kan aku cinta sama Om, sayang sama Om jadi Om jangan takut kalau aku akan tinggalin Om"
Sena langsung mengalihkan pandangannya pada Sani "benarkah "
"Iya aku bener masa sih aku bohong aku kan udah bilang waktu itu sama om emangnya om lupa ya"
"Kapan kamu bilang itu sama saya"
Sani langsing mengerutkan keningnya "pokoknya aku tuh sayang sama Om udah deh ah jangan tanya-tanya kayak gitu jadi malu udah deh om "
Sena mengacak-acak rambut Sani lalu memeluknya dengan arah "Iya Iya saya tahu kamu sayang sama saya"
Sani tersenyum samar, dan membalas pelukan itu dengan erat, bahkan sangat erat, begitu hangat dan menenangkan pelukan itu.
***
"Kapan kita pulang ke rumah Bu, Sani kok belum kesini sih, ke mana sih ini udah jam 11.00 malam tapi dia belum datang-datang ke sini, katanya mau gantian tunggu di sini tapi kok dia nggak datang-datang sih aku tuh harus belajar"
"Ya udahlah tunggu lagi sebentar lagi kalau kita tiba-tiba pergi nanti kita yang disalahin lagi tuh sama dia "
Saat Anggi akan merengek lagi dia melihat Sani datang bersama seorang laki-laki tampan, dia langsung menepuk bahu ibunya "Bu apakah itu yang bernama Sena "
Ibunya Anggia langsung melihat ke arah yang ditunjuk anaknya lalu dia membisikan suatu" Iya itu laki-laki itu laki-laki yang akan menjadi suami kamu, kamu harus bisa mendekatinya dia tuh orang kaya dan kita bisa hidup mewah kalau bersama dirinya ingat kamu ini cantik lebih cantik dari Sani kamu harus bisa memikatnya"
"Iya Bu pasti, aku yakin Sena akan menjadi suamiku "
Anggi langsung berdiri dan maju kearah Sani "Sani "
"Apa " ucap Sani dengan sedikit ketus
"Kok gitu sih "
"Sani saya pulang dulu ya"
"Iya om "
Sena akan berjalan tiba-tiba saja Anggia memberhentikannya "Tuan apakah saya dan ibu saya boleh ikut pulang maksudnya ya sekalian"
__ADS_1
Senatanpa berbalik langsung berkata "maaf saya bukan taksi online jadi lebih baik kalian pulang sendiri, rumah kita tidak searah dan saya juga tidak mau repot-repot untuk mengantarkan orang lain"
Setelah mengatakan itu Sena langsung pergi, dia harus cepat pulang sebelum anaknya curiga, tak boleh membuat anaknya cemas dan berfikir yang tidak tidak.