
"Jadi itu yang ibuku katakan padamu, apakah kau sakit hati dengan apa yang ibuku katakan "tanya Sena
Sekarang Sena sudah ada di rumah Sani dia tadi langsung menyusulnya dan Sani sudah mengganti pakaiannya dan penampilannya sudah seperti Sani yang seperti biasanya. Ya sesuai usianya dan manis sekali rambutnya di ikat asal, makin membuat dirinya gemas saja.
"Tidak aku sama sekali tidak sakit hati wajar kalau orang tuamu bertanya seperti itu, dia ingin yang terbaik untuk anaknya aku sama sekali tidak sakit hati atas apa kata-kata ibumu, semua orang tua pasti akan bertanya seperti itu pada calon pasangan anaknya apa lagi Om adalah ya orang terpandang pasti ibu Om takut kalau Om mendapatkan perempuan yang tidak sesuai harapan, apalagi om pernah gagal "
"Benarkan kau tidak sakit hati dengan apa yang ibuku kata-katakan tadi, sungguh aku minta maaf karena dia sudah mengatakan itu padamu dan kau juga kenapa tiba-tiba langsung saja pulang"
"Aku hanya tidak mau membuat keributan makanya aku pulang, lebih baik aku pulang daripada menanggapi ibumu aku baik-baik saja dan aku sama sekali tidak marah, sungguh aku berkata jujur padamu om "
"Kalau nanti ibuku menawarkan lagi uang padamu apakah kau akan mengambilnya maksudnya menerimanya" tanya Sena dengan khawatir.
Sani mengerutkan wajahnya dan menganggukkan kepalanya "tentu aku akan menerima uang itu untukku sehari-hari dan juga untuk sekolahku itu akan lebih baik kan daripada aku kerja om Sena, aku akan mempunyai uang banyak seperti apa yang ibumu katakan "
Sena langsung bangkit meninggalkan Sani, Namun Sani dengan cepat langsung mengejar Sena dan memeluknya dari belakang "aku hanya pura-pura, aku hanya berbohong tidak mungkin aku melakukan itu om, mana mungkin aku bisa menerima uang itu dengan menjual cintaku aku tidak mungkin aku tidak mungkin melakukan itu, aku hanya pura pura om "
Sena tersenyum Semar, dan langsung membalikkan badannya, lalu mendorong Sani dan mendudukkannya di meja makan Sani dengan refleks langsung mengalungkan tangannya pada leher Sena, Sena menatap Sani dengan intens dia terus saja menatap wajah Sani, dan Sani hanya tersenyum saja ditatap seperti itu.
"Aku tidak suka jika kau mengatakan kata-kata itu lagi jangan sampai aku mendengar itu lagi aku tidak suka sayang "
"Iya Om aku tidak akan mengatakan itu, aku hanya pura-pura saja mana mungkin aku akan melakukan itu, mana mungkin aku akan menghianati Om aku tidak akan mungkin melakukan itu om tenang saja, Om bisa pegang kata kataku"
Sena makin memojokkan Sani dia makin mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sani saat bibir mereka akan menyatu tiba-tiba saja ada suara yang mengganggu mereka, aktivitas mereka langsung berhenti mereka malah tersenyum sama-sama.
"Kau sedang apa Sani, kenapa itu sangat mengganggu"
__ADS_1
"Aku sedang mendidihkan air"sambil tersenyum
"Baiklah biar aku matikan saja"
"Todak tidak kita matikan sama-sama aku ingin ikut "rengek Sani sambil memeluk leher Sena
"Baiklah kau akan ikut "
Sena langsung mamangku seperti bayi koala mereka berjalan ke arah dapur "Om hati-hati jangan sampai itu barang-barang ku pada pecah "
"Iya iya maaf makanya kakimu yang benar"
Sani membelikan kakinya ke punggung Sena sambil memeluk lehernya dengan erat, lalu mematikan kompor itu mereka berdua memang seperti anak kecil dan Sena juga mau mau saja melakukan seperti itu, memang ya cinta bisa merubah segalanya.
***
Alvaro terus saja menghubungi papinya sungguh dirinya khawatir takut terjadi apa-apa dengan papinya, ya meskipun papanya sudah tua tetap saja dirinya begitu khawatir padanya.
Saat panggilan yang ketiga kalinya papihnya sudah muncul dan Alvaro langsung mematikan sambungan teleponnya "papi dari mana saja kenapa pulangnya malam sekali apakah ada sesuatu yang terjadi di kantor"
"Tadi papi ke rumah omahmu dulu"
"Apakah papi dan Oma sudah berbaikan"
"Mungkin saja"
__ADS_1
"Ada yang ingin Alvaro tanyakan pada papi"
"Apa itu Alva"
"Apakah papi dan juga Sani mempunyai hubungan spesial maksudku apakah kalian berpacaran dan akan menikah"
Wajah Sena langsung tegang namun dengan secepat mungkin dia merilekskan wajahnya agar tidak terlihat tegang di depan anaknya "kata siapa memangnya siapa yang mengatakan itu padamu nak "
"Mantan istri papi dia mengatakan itu kalau papi sedang dekat dengan Sani apakah benar, apakah kalian di belakangku menjalin sebuah hubungan, apakah kalian mengkhianatiku "tanya Alvaro dengan curiga
"Coba kau tanyakan pada temanmu itu, apakah papih dan dirinya punya hubungan coba kau tanyakan saja pada dia, apakah kau lebih percaya pada perempuan itu pada ibumu atau percaya pada papi memangnya selama ini kau pernah melihat papi dan Sani berjalan berdua, misalnya makan berdua jalan-jalan atau papi pergi ke rumahnya apakah kau melihat itu"
Alvaro menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak pernah melihat ayahnya pergi bersama Sani berdua atau melakukan hal lainnya ya dirinya tidak melihat itu, dirinya sama sekali belum pernah melihatnya.
"Tidak aku tidak pernah melihat pih "
"Ya sudah sekarang keputusan ada di tanganmu , kau akan percaya pada ayahmu atau pada perempuan itu semua itu adalah keputusanmu ayah tidak akan memaksa untuk dirimu percaya pada papi, jadi sesuai pendirianmu saja kalau kau masih ingin menanyakan itu pada Sani silakan kau tanyakan pada dia apakah papih dan dia mempunyai hubungan spesial "
"Lebih baik sekarang kau istirahat dan tidur jangan memikirkan yang tidak-tidak kalau memang ingin bertemu dengan ibumu berbicaralah tentang perkembanganmu atau tentang kehidupannya, jangan membahas tentang papih dan Sani karena mungkin saja dia sedang mengelabuimu agar kau marah pada papih ataupun Sani temanmu itu" lanjut Sani
"Aku sama sekali tidak berniat untuk berbicara dengan perempuan itu papi, dia yang menemuiku dan mengatakan itu dia datang ke tempat latihanku dan aku tidak tahu kalau dia akan mengatakan itu aku sama sekali tidak menghubunginya"
"Sudah besok kau ada ulangan kan lebih baik kau belajar sekarang ini sudah larut malam kau belajar sebentar lalu segera lah tidur "
"Baiklah pih aku akan tidur sekarang papih pun segera tidur "
__ADS_1
Alvaro langsung pergi meninggalkan papinya sendirian, sedangkan Sena mengusap dadanya untung saja tidak ketahuan.