
"San saya pulang dulu "
Sani yang sedang mencari sesuatu segera menengok "oh iya om hati hati "
"Kamu sedang mencari apa San "
"Aku lagi cari kamus om "
Sani langsung naik keatas kursi namun belum kesampain juga "sini biar saya bantu "
Sani segera turun dan Sena malah membuatnya mepet dan tubuh Sena ada dibelakangnya, bahkan jaket Sena sampai menutupi tubuh Sani yang kecil.
Tiba tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang "yang mana San apa yang ini "
Namun Sani tak menjawab malah senyum senyum sendiri saja "San saya bertanya sama kamu apa yang ini bukunya "
"Ehh iya om yang itu om bener "
Sani langsung mengambilnya dan sedikit mendorong tubuh Sena "makasih om "
"Ya sama sama , saya pulang dulu "
__ADS_1
Sani menganggukan kepalanya dan mengantarkan Sena sampai keluar rumah, Sani dengan cepat segera menutup pintu dan memegang jantunhnya lalu berlari kearah kamarnya.
"Ya ampun ada apa ini dengan jantungku, tak biasanya aku seperti ini, ya ampun ya ampun rasanya entahlah "
Sani mengigat kebersamaannya bersama Sena, dia tersenyum senyum sendiri lalu memeluk guling gulingnya, sampai dia terjatuh dari tempat tidur karena tak bisa diam.
"Ya ampun ada apa sih sama aku ini, kenapa sih cuma sama Om Sena aja aku bisa kayak gini, perasaan ini cuman biasa-biasa aja jangan sampai aku tertarik sama Om Sena, sadar Sen dia gak pantas jadi pasangan kamu, dia harusnya jadi Ayah kamu sadar Sen sadar jangan berharap terlalu banyak sadar sadar gak boleh kayak gini "
Sani segera bangkit dan duduk ditempat tidurnya, lalu dia baru ingat kalau dia harus menengok sang ayah, dia harus membawa ayahnya pergi dari rumah itu.
Jangan sampai ayahnya terkurung oleh ibu tirinya serta kakak tirinya yang menyebalkan itu, Sani segera menganti pakaiannya dan pergi dari dalam rumah.
**
"Halo Alvaro kamu di mana jam segini belum pulang "
"Kenapa Papi masih peduli sama Alvaro, udahlah papiu gak usah peduli sama Alvaro, papih kan lagi senang-senang sekarang buat apa peduli sama Alvaro "
"Pulang sekarang Varo "
"Gak akan "
__ADS_1
"Papih bilang pulang, jangan membuat papih marah ,cepat pulang dan jangan membuat papih menunggu kamu di rumah seperti ini"
"Ada apa kamu Sena marah-marah sama anak kamu, mamih gak suka ya dengan kelakuan kamu yang seperti itu, kamu deket lagi sama anak kecil itu perempuan yang di rumah sakit itu, mamih sudah bilang kamu jangan perah dekat lagi dengan orang miskin, orang miskin cuman mau harta kita aja udah jauhin dia. Kenapa sih kamu ini lebih membela perempuan itu dari pada anak kamu"
Sena memutar bola matanya suda tertebak kan kalau sang anak ada bersama ibunya, dan yang pasti ini semua tak akan beres mamihnya pasti akan mempengaruhu Alvaro.
"Mamih gak tahu masalahnya apa dan perempuan miskin itu punya nama dia Sani. Kenapa sih mamih itu ngerendahin orang banget dan akhirnya sekarang nurunkan sama Alvaro, dari dulu tuh aku udah gak mau Alvaro deket-deket sama mamih, karena pasti akan kayak gini pokoknya mamih suruh Alvaro pulang ke rumah sekarang, mamih jangan buat otak Alvaro jadi tercemar deh sama mamih dia anak Sena dan Sena bisa urus dia mih gak usah mamih ikut campur "
"Dia juga cucu mamih, dan mamih berhak atas Alvaro, kamu bilang ada yang nurun ke Alvaro sidat mamih apa yang nurun coba sana Alvaro kalau iya itu wajar, mamih gak suka sama orang miskin karena istri kamu ibunya Alvaro dulu hanya suka dengan harta, saat kamu diusir oleh mamih sama papih dan kalian jatuh miskin apakah dia ada di samping kamu, tidak ada kan dia pergi ninggalin kamu sama Alvaro, makanya mamih gak suka kamu deket sama orang miskin lagi, mamih bisa cariin kamu perempuan yang lebih dari perempuan itu, dari anak kecil itu kamu sadar diri dong Sena dia itu seumuran sama anak kamu, Mami bisa cari perempuan dewasa yang seumuran sama kamu dan selevel sama kita "
"Stop mih stop, jangan ikut campur tentang urusan percintaan Sena, mau Sena sama anak kecil, mau Sena sama siapa pun yang penting Sena gak berurusan lagi sama Mami, Mami juga udah bilang kan waktu itu saat usir Sena sama Sonia mami tidak akan pernah ikut campur lagi tentang urusan Sena. Sena mau lakuin apa Sena maulakuin itu, Mami gak akan ikut campur lagi kan jadi untuk sekarang Mami juga tidak usah ikut campur, mau Sena dengan siapapun Mami tidak usah protes, karena itu sudah pilihan Sena, mungkin dulu Sena memilih perempuan yang salah tapi Sena tak akan lakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dan Mami jangan pernah ikut campur tentang urusan percintaan Sena lagi please mih, ita urus hidup masing-masing aja"
"Oh gini ya jadi kamu balik lagi jadi keras kepala, milih perempuan yang gak cocok dan sederajat sama kita, pokoknya Mami gak pernah mau lihat kamu sama anak kecil itu dan jika kamu tidak menjauhi anak kecil itu Alvaro tidak akan pernah pergi dari rumah Mami dia akan tetap disini "
"Sena sendiri yang akan ke sana dan mendatangi rumah itu untuk menjemput Alvaro pulang ke sini, tidak ada urusannya perempuan itu dengan Alvaro memangnya aku punya hubungan dengan dia tidak kan, lalu apa salahnya hanya sekedar dekat dan tahu saling kenal apakah salah"
"Ya mungkin sekarang dekat, hanya kenal lalu nanti ke depannya bagaimana kita tidak akan pernah tahu "
"Iya tapi mamih tidak berfikir apakah Sani akan mau dengan Sena, dia seumurun dengan Alvaro, Sena hanya menganggapnya sebagai anak saja itu saja mih "
"Anak ? baiklah kita buktikan apakah kau menganggap sebagai anak atau sebagai perempuan yang memang akan kau cintai, kita lihat saja nanti kedepannya mamih akan menyuruh Alvaro pulang ke rumahmu. Tenang saja Mami tidak akan membuat kalian terpisah dan Mami ingin membuktikan kata-katamu itu kita lihat ke depannya bagaimana"
__ADS_1
Sambungan pun terputus Sena langsung mengurut keningnya dia berbicara seperti itu pada maminya. Ya ampun menganggap Sani seperti anaknya padahal tidak seperti itu, kenapa jadi rumit seperti ini Alvaro tahu dia mendekati Suni lagi. Sepertinya dia harus lebih hati-hati lagi dengan anaknya jangan sampai Alvaro tahu tentang dirinya yang sedang mengejar Sani