Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Makan yang banyak


__ADS_3

"Gimana udah enak duduknya "


"Udah kok, udah gini enak "


"Yaudah sekarang kita berangkat "


Selama perjalan tak ada pembicaraan lagi, mereka sibuk dengan fikiran mereka masing masing, dan ponsel Alvaro lagi lagi berdering dan itu dari Bella.


Sani hanya melihatnya sekilas lalu kembali menatap jalanan lagi, yang padat dengan orang orang dan juga kendaraan.


Kembali ponsel Alvaro berdering, dan masih Bella juga yang menelfon, Sani melihat kearah Alvaro "kenapa nggak diangkat nanti marah loh Bellanya angkat aja kali"


"Udah biarin dia lagi ribet banget biarin aja dia telepon-telepon terus. Tadi juga udah bicara kok dia cuman marah-marah aja udah biasa dia kayak gitu , lebih baik nggak usah diangkat aja dari pada nanti dia cerewet dan ngamuk-ngamuk lagi"


"Terus kita satu mobil gini Bella nggak akan tahu emang dan dia juga nggak akan marah gitu"


"Nggak akan tenang aja nanti gue yang jelasin kalau dia sampai tahu, kita kan emang lagi kerja kelompok Jadi wajar kalau ada di dalam sau mobil gue, masa gue suruh lo jalan kaki kan cafe nggak mungkin kan"


"Heheeh iya iya "


Alvaro memberhentikan mobilnya dan memarkirkanya, Sani yang melihat tempat ini begitu mewah menjadi engan untuk turun "yakin kita kesini Alvaro"


"Yakin ayo turun "


Alvaro terlebih dahulu turun, lalu membantu Sani juga turun, dan memapahnya dengan perlahan lahan, Alvaro memilih tempat yang paling sepi agar teman temannya tak ada yang tahu.


"Lo duduk aja disini gue mau pesen lo sukanya apa, "

__ADS_1


"Emm bebas deh "


"Ok deh lo semuanya suka kan, oke deh gue peseninnya bebas ya, awal kalau protes "


"Iya gak akan "


Setelah Alvaro pergi, Sani membuka ponselnya dan melihat kontak Sena " apa aku hapus aja nomonya om Sena, kayaknya dia juga gak akan pernah hubungin aku lagi kan, buat apa aku simpan nomornya dia juga nggak akan kembali"


Sani memencet nomor itu dan akan menghapusnya, namun diurungkan olehnya, Sani segera menyimpan lagi ponselnya dan menatap Alvaro yang sudah datang dengan berbagai makanan dan juga minuman.


"Kenapa banyak banget Alvaro. Emangnya bakal ada yang datang lagi ya selain kita berdua"


"Nggak kan cuman kita berdua aja, tadi lo bilang terserah kan. Ya udah gue pesen aja yang banyak lo bilang terserah habisin gue nggak mau tahu"


"Apa sebanyak ini nggak bisa dong Alvaro. Emangnya aku apaan ngabisin makanan sebanyak ini dan juga minumannya banyak banget"


Sani mengambil satu makanan dan memakannya dengan sangat pelan sekali "Lo kesusahan ya karena pergelangan tangan lo yang terkilir itu mau gue suapin nggak"


"Gak usah aku bisa kok Alvaro ya meski agak lama "


"Oke deh gue nggak akan maksa. Oh ya gue juga mau minta maaf atas kejadian dulu saat gue nyerempet lo dan nggak nolongin lo. Maaf ya gue bener-bener di situ tuh takut banget takut Papih gue tahu dan gue takut banget gue di penjara, gue sama sekali nggak tahu kalau yang gue tabrak itu loh dan gue juga minta maaf karena permintaan maaf gue tuh waktu itu kayak nggak telus banget, dan gue tuh kayak nggak sopan banget sama papa lo, nanti boleh ya gue ketemu sama papih lo pengen minta maaf sama dia gue gak enak "


"Iya tenang aja aku udah maafin kamu kok, semuanya udah berlalu dan aku udah lupain itu lama banget. Udahlah jangan ingat-ingat masa lalu. Boleh nanti ketemu sama ayah aku ya tapi kalau aku ke sana aja sih sambil mau kasih uang berobat Buat Ayah"


" Emangnya ayah lo sakit apa sih"


"Sebenarnya sih ya ayah dulu tuh baik-baik aja cuman karena kecelakaan di jadi lumpuh kayak gitu, dan sampai sekarang belum jalan jadi semua pengobatannya aku yang tanggung. Oh ya kamu punya kenalan gak cafe cafe atau tempat apa gitu yang bisa buat aku kerja tapi setengah hari malam atau udah beres sekolah gitulah"

__ADS_1


"Seberat itu ya hidup loh sampai-sampai saat masih sekolah lo harus mencari uang buat keluarga lo. Nanti deh gue coba cari kontak kontak temen gue banyak kok, nanti deh gue coba hubungin mereka"


"Ya gimana lagi aku anak ayah satu-satunya, kalau nggak aku yang kerja siapa lagi, ayah kan udah nggak bisa kerja nggak mungkin kan dia cari uang dengan keadaannya seperti itu, maka aku sebagai anak harus gantiin peran ayahku . Makasih ya sebelumnya aku tuh bener-bener banget butuh pekerjaan"


"Gitu ya hebat banget sih gue beruntung ya punya Papih kayak Papih gue gitu, tapi gue yakinlah lo bisa hadapan semuanya, belum juga apa-apa lu udah terima kasih sama gue"


"Ya gak apa apa kali "


"Udah udah makan makan "


Sani mengangguk dan kembali memakan makanannya, tiba tiba saja ponselnya berdering "Alvaro ini dari Bella gimana"


"Angkat aja lo bilang kalau lo nggak sama gue ya, kalau dia tanya kita kan satu kelompok lo bilang aja lu nggak tahu apa-apa dan Alvaro juga nggak kasih tahu gitu aja bilang cepetan angkat"


Sani segera mengangkat telfon itu " Iya kenapa Bel "


"Lo lagi sama pacar gue kan, lo satu kelompok sama dia, dimana sekarang pacar gue, dia dari tadi nggak bisa gue hubungi, cepetan bilang "


"Oh ya aku satu kelompok sama Alvaro, emangnya tugas apa ya Bell, kenapa kamu malah tanya aku kamu kan pacarnya Alvaro, kamu pasti tahu kan di mana keberadaan Alvaro, aku aja sakit masa aku pergi sama Alvaro sih dia aja nggak kasih tahu kalau aku satu kelompok sama dia. Ini aja aku baru tahu lo dari kamu "


"Lo nggak bohong kan lo lagi nggak pura pura polos dan disuruh sama Alvaro buat boong sama gue kan"


Suni menatap Alvaro dan bingung harus menjawab apa namun Alvaro malah sibuk dengan makanannya, dia hanya anteng anteng saja.


"Ngapain aku bohong aku sama sekali nggak sama Alvaro kok beneran deh "


Sambungan langsung dimatikan sepihak oleh Bella, Sani menyimpan kembali ponselnya, sedangkan Alvaro tak menghiraukanya dia hanya fokus dengan makanannya saja.

__ADS_1


Dia seperti sedang kelaparan saja, sepertinya belum makan 1 taun deh sampai sampai yang katanya pesen makan buat dirinya dilahap habis olehnya, dan hanya tersisa makanan yang ada dipiringnya saja yang sedang dirinya makan.


__ADS_2