
Sani yang baru saja sampai disekolah langsung diberhentikan oleh Alvaro dan menariknya masuk kedalam mobilnya.
Saat sudah ada didalam mobil, barulah Alvaro berbicara "aku mau tanya sesuatu sama kamu tapi kamu jangan marah atau gimana gitu ya, aku mau tanya kamu punya hubungan sama papiku"
Sani langsung tersentak dan langsung menggelengkan kepalanya, jangan sampai Alvaro mengetahuinya "nggak aku nggak punya hubungan apa-apa sama papi kamu, coba kamu tanya sama dia. Ya maksud aku sih biar lebih enak aja gitu kan "
Alvaro mengangguk-anggukkan kepalanya "aku udah tanya soal itu sama papi dan dia juga jawab seperti apa yang kamu katakan beneran kan kalian nggak ada hubungan apa-apa, jangan sampai suatu saat aku temuin kalian lagi berhubungan. Ya maksudnya pacaran atau mau menikah gitu aku udah percaya sama kamu San" ucap Alvaro sambil menatap wajah Sani.
Sani dengan mantap menganggukan kepalanya "aku beneran nggak pacaran sama papi kamu kok, ya udah mau masuk kelas sekarang nggak kita kan mau ujian sekarang"
"Ya ayo kita ke kelas sekarang "
Alvaro langsung keluar dari dalam mobil diikuti oleh Sani yang masih menahan detak jantungnya agar tak terdengar oleh Alvaro, selama perjalanan ke kelas mereka sama sekali tak berbicara. Mereka hanya fokus saja dengan fikiran masing masing.
Sani dan Alvaro duduk dikursi yang sudah ditentukan oleh gurunya, mereka duduk dan kelas segera dimulai, mereka mengerjakan soal. Sani yang sudah selesai terlebih dahulu langsung mengumpulkan kertasnya dan keluar dari kelas.
Karena yang sudah mengerjakan boleh langsung pulang maka Sani langsung pulang saja, ya dirinya kan harus langsung bekerja agar nanti malam langsung belajar.
Saat Sani baru saja sampai gerbang tangannya dipegang dan plak, pipinya ditampar, Sani langsung melihat kearah orang itu, ternyata itu ibu tirinya.
"Ibu kenapa tiba tiba ibu tampar aku "
"Dasar kamu anak tidak berguna ayah kamu masuk rumah sakit dan kamu ke mana saja, ditelepon tidak mengangkat kami itu butuh uang ayahmu ke rumah sakit dia drop"
"Apa kenapa bisa "
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar " ibu tirinya kembali memukul Sani, bahkan teman teman Sani melihat kearah Sani, namun saat ibu tirinya akan menampar Sani kembali tangannya dipegang.
"Apa yang tante lakukan kenapa tante begitu kasar pada anak tante sendiri"
"Kamu tidak usah ikut campur tidak usah membela anak durhaka ini, dia tidak mengangkat teleponku ayahnya masuk rumah sakit aku harus mengurus semuanya"
"Sani sedang melakukan ujian makanya dia tidak mengangkat telepon tante, memangnya tante tidak bisa mengurus suami tante sendiri kenapa harus minta pada Sani. Tante bisa mengurus semuanya dan bicara baik-baik pada Sani. Ini kenapa harus dengan kekerasan seperti ini. Tante ini ya sudah tua tapi tidak malu dengan mereka yang melihat ke arah tante dan Sani. Sani itu punya perasaan Tante kalau ingin memberitahu ayahnya sedang kritis di rumah sakit maka beritahu baik-baik bukan dengan kekerasan seperti ini, bukannya tante selama ini dibiayai oleh Sani ya" teriak Alvaro sengaja agar orang orang mendengar kata katanya..
Wajah Sarah langsung memerah karena perkataan Alvaro yang membuatnya malu "Emm akhh sudahlah pokoknya kamu kerumah sakit saja kita bicara disana "
Sarah langsung pergi meninggalkan Sani dan juga Alvaro, setelah ibu tirinya pergi, Sani mendongakan kepalanya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya "All ayah aku "
"Udah ayo sekarang kita kerumah sakit ya, ayo "
"Kamu tenang ya San, jangan nangis ya "
Sani mengangguk dan mencoba mengusap air matanya namun sulit air mata itu kembali mengucur "aku tak bisa mengusap air mataku, Al, dia terus saja mengalir "
Alvaro langsung menepikan mobilnya dan menatap kearah Sani, lalu mengusap air matanya.
"Kamu yang sabar ya kamu jangan nangis terus sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit ya "
Sani menganggukan kepalanya dan mencoba untuk tak menangis lagi, setelah itu Alvaro langsung menjalankan mobilnya, tangannya masih memegang tangan Sani, dan Sani melihat kearah wajah Alvaro.
Sekarang dirinya sadar kenapa Bella tak bisa melepaskan Alvaro, dia laki-laki baik dan bertanggung jawab meskipun dulu sikapnya seperti anak kecil selalu membully sana-sini, tapi ternyata sikapnya itu yang membuat Bella nyaman dan tidak mau ditinggalkan oleh Alvaro ya sekarang dirinya tahu kenapa Bella sampai mengejar ngejar Alvaro ke mana pun dia pergi.
__ADS_1
Alvaro sesekali melihat kearah Sani lalu kembali fokus kearah jalan, dia hanya ingin mengecek keadaan Sani.
Dan akhirnya mereka sampai juga, dengan cepat Alvaro dan Sani keluar dari dalam mobil dan berlari kearah resepsionis dan menanyakan tentang keberadaan ayah Sani, dan setelah diketahui mereka segera berlari.
Saat Sani sampai disana cuman ada Anggia "lama banget sih kamu Sani kamu tuh anaknya seharusnya kamu yang ada di sini bukan aku"
"Maaf tadi aku ujian dulu gimana aku mau ada di sini, sedangkan aku aja nggak boleh pulang ke rumah sama kalian berdua"
"Udah deh siapa yang nyuruh kamu waktu itu kabur nggak ada kan makanya kamu nggak diterima lagi di rumah sama ibu, makanya jangan macam-macam kabur dari rumah akhirnya ibu nggak terima kamu lagi kan"
"Udah aku nggak mau bahas itu lagi sekarang gimana keadaan ayahku"
"Ya gitu kritis"
"Kenapa bisa kritis aku setiap bulan kasih kalian uang kan buat beliin ayah obat, saat aku mau beliin obat ayah kalian nggak kasih resepnya sama aku kan gimana apa kalian beliin obat buat ayahku atau kalian pakai uangnya"
"Apaan sih enak aja nuduh, dibeliin lah ayah kamu kali yang gak minum obatnya kita setiap bulan beliin obat ya buat ayah kamu itu yang nyusahin banget"
Saat Sani akan menjawab lagi, Alvaro langsung menarik tangan Sani "Kamu yang sabar jangan kebawa emosi ini dirumah sakit, kita tunggu aja penjelasan dari dokter ya, kamu tenang dulu "
"Tapi All "
Alvaro memegang kedua pipi Sani dan menatapnya dengan tajam, akhirnya Sani mengalah juga dan diam saja, sedang Anggia yang melihat itu cemburu, Sani sudah mendapatkan laki laki yang berbeda lagi.
Waktu itu laki laki yang dibawa Sani tampan, sekarang lebih tampan lagi, laki laki yang membawa Sani liburan kapan dirinya akan seperti Sani, padahal dirinya lebih cantik dari Sani tapi kenapa Sani yang selalu mendapatkan laki laki tampan.
__ADS_1