Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Sudah di cicipi


__ADS_3

Sani yang dikagetkan Sena langsung terlonjak "om ihh ngagetin aja kenapa bisa masuk padahal aku kunci loh pintunya "


"Bisa dong apa sih yang saya tidak bisa, jadi apa yang harus saya cicipi. Oh ya ini saya bawa oleh-oleh kemarin untuk kamu jangan lupa nanti dipakai. Saya tidak suka barang yang saya berikan sama kamu tidak dipakai gunakan dengan baik"


Sani langsung merimannya dan lumayan berat juga, "Sebentar om "


Sani langsung berlari, sebelumnya dia sudah menyimpan oleh-oleh yang diberikan oleh Sena tadi dan mengambil makanannya yang sudah disajikan dari tadi lalu memberikannya pada Sena.


Ada beberapa makanan dan juga minuman "Apakah tidak ada penutupnya" tanya Sena sambil memotong makanan yang Sani sajikan


Sani langsung tersenyum pada Sena dan" ya ada akan aku buatkan sekarang " Sani langsung pergi kembali namun Sena menahannya


"Tunggu sebentar apakah penampilanmu akan seperti ini, aku disini sebagai gurumu, ya anggap saja seperti itu, apakah kau tak akan menganti pakaian mu dahulu memakai pakain seragam, aku membelikan mu berbagai pakaian coba kau kenakan salah satunya "


"Emm benarkah om, baiklah om "


Sani membawa paper bag iru dan pergi ke arah kamar mandi sedangkan Sena mengecek ponselnya dan menunggu Sani mengganti pakaian dan tak lama kemudian Sani datang dan mengagetkan Sena karena Sani mendekatkan wajahnya hampir saja Sani mencium pipinya.


"Bagaimana apakah aku sekarang sudah menjadi murid yang om inginkan "


Sena mendorong jidat Sani dan melihat dari atas sampai bawah, cocok juga ternyata pakaian yang dirinya pilihkan untuk Sani "lumanyan bagus aku akan mencobannya sekarang, kau duduklah "


Sani dengan patuh segera duduk dan berhadapan dengan Sena sampai-sampai Sani menopang dagunya sambil menatap Sena dia menunggu jawaban yang akan Sena berikan padanya semoga saja makanannya cukup enak"


Sena yang dilihat seperti itu oleh Sani malah jadi salah tingkah kan"Kamu ini kenapa menatap saya yang sedang makan ayo cepat buatkan makanan penutup untuk saya"


"Baik pak guru om "


Sani kembali pergi meninggalkan Sena sedangkan Sena kembali melanjutkan makannya sambil mengusap dadannya hampir saja jantungnya tak copot ditatap seperti itu oleh anak kecil dirinya bisa baper. Apakah sekarang dirinya pubertas yang kedua.


Sena menggelengkan kepalanya dan kembali fokus memakan makanan yang Sani sajikan, makanan yang Sani sajikan selalu saja enak dan pas di lidahnya, selalu tak ada yang asin atau kekurangan asin dan apapun itu semuanya sudah pas dan cocok di lidahnya.


Tak perlu ada yang ditambahkan sudah cukup untuk dirinya, tapi ini menurutnya ya, karena selera orang kan beda-beda. Tapi ini seleranya cukup enak bukan cukup lagi tapi memang enak.


Tak lama kemudian Sani datang dan membawa makanan terakhir dan menyajikannya di meja Sena, kembali Sani melakukan hal yang sama menatap Sena seperti tadi namun Sena mencoba untuk tidak memperlihatkan ekspresi yang membuat dirinya akan malu oleh Sani .


Tak lama kemudian makanan itu habis, "ayo kita pulang sekarang "


"Om belum memberikan ku komentar dan juga aku belum membersihkan tempat ini, tak mungkin aku meninggalkannya dengan keadaan kotor seperti ini, om tunggu saja ya, aku akan membersihkan dulu yang kotor "


Sani mengambil semua piring, mangkok gelas, sendok dan semuanya lalu segera mencucinya sambil bersenandung, tiba tiba saka ada yang memeluknya dari belakang, saat Sani menengok ternyata itu om Sena, siapa lagi kalau bikan om Sena.

__ADS_1


"Omm "


"Kenapa " Sena menatap lekat mata Sani, dan Sani yang malu langsung mengalihkan pandangannya dan mencuci kembali piring kotor itu, sedangkan Sena hanya megobok ngoboknya saja sambil memegang tangan Sani.


"Om kalau seperti ini akan lama, jangan seperti ini ya "


"Tidak aku suka seperti ini, kau selesaikan saja, aku tak akan menganggumu aku hanya ingin memelukmu dari belakang seperti ini, aku suka "


Sena mulai mengecup leher Sani dengan pelan hanya mengecupnya saja , Sani yang baru pertama kami merasakan itu merasa geli "om geli, sudah lepaskan ahh "


Sani langsung menginjak kaki Sena dan membuat pelukan itu terlepas. "Saniii " teriak Sena mengelegar.


Sani yang memang sudah menyelesaikan tugasnya langsung ngacir pergi meninggalkan Sena disana sendirian.


**


Sekarang Alvaro om Rey, Arzan dan juga Rizky sudah ada di kantor polisi. Om Rey sedang berdebat dengan polisi karena tidak bisa dikatakan hilang Bella sebelum 24 jam katanya dan tidak bisa diproses juga.


"Lalu kalau benar-benar anakku hilang bagaimana, apakah kalian akan bertanggung jawab tolong bantu aku untuk mencari anakku kalau bukan pada kalian aku harus meminta bantuan pada siapa lagi "


"Tadi bapak sudah bilang kan kalau anak bapak pergi dari rumah. Mungkin saja dia pergi bersama pacarnya kabur"


Alvaro langsung menenangkan ayahnya Bella, takutnya malah jadi berantemkan tiba tiba saja ada polisi yang datang dan menghampiri Alvaro "Alvaro kan anaknya Sena "


Alvaro segera membalikan badannya ternyata om Rizwan temannya ayahnya " Om Rizwan bisa tolong nggak teman Alvaro hilang dia belum ketemu sampai sekarang, emang awalnya dia pergi dari rumahnya. Tapi dia nggak mungkin pergi jauh-jauh. Kalaupun dia pergi dari rumah paling jauh-jauh pergi ke rumah Alvaro Rizki ataupun Arzan tapi dia nggak ada dia pergi tadi siang dan sampai malam belum ketemu juga, kita udah cari dia dan juga tadi nemuin ponselnya ada di jalanan. Om bisa kan proses tentang kehilangannya Bella. Tolong om "


"Yasudah ayo ikut keruanganku dulu "


"Makasih om "


"Sama sama Al "


Mereka semua langsung masuk keruangan om Rizan dan segera duduk, ayahnya Bella langsung menceritakan semuanya dengan detail, tak ad ayang terlewat seditpun, bahkan ponsel Bella pun sudah dicek tapi tak ada yang mencurigakan semuanya baik baik saja.


"Baiklah saya akan memproses tentang kasus Bella yang hilang. Nanti kalau sudah ada kabar saya pasti akan memberitahu pak Rey atau memberitahu Alvaro"


"Baik Pak saya sungguh berterima kasih pada Anda. Terima kasih atas bantuannya saya tunggu kabar baiknya ya pak ya"


"Baik pak, "


"Yasudah om kita pulang dulu ya "

__ADS_1


"Iya Al hati-hati ya di jalannya. Sampaikan salam Om pada ayahmu Sena, dia terlalu banyak bekerja tidak pernah beristirahat ingatkan dia selalu jaga kesehatannya"


"Ya pasti aku akan sampaikan. Ya sudah aku pergi om "


Alvaro dan yang lainnya segera keluar dari dalam kantor polisi saat sudah ada di luar kantor polisi Ayah Bella menatap ketiga teman anaknya "terima kasih kalian sudah mau membantu Om untuk mencari Bella kalian lebih baik pulang saja pasti orang tua kalian sudah mencari"


"Iya Om sama-sama kami pasti akan terus membantu Om mencari Bella sampai ketemu"


"Terimakasihh "


Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing Alvaro masih memikirkan tentang keadaan Bella. Bagaimana sekarang dia, apakah Bella baik-baik saja. Apakah dia tidak diapa-apakan kalau memang diculik lalu siapa yang menculik Bella.


Sebenarnya Bella ada masalah dengan siapa. Tapi setahunya Bella tidak punya masalah dengan siapa-siapa. Kemana dia pergi kenapa harus pergi seperti ini. Apakah Bella pergi gara-gara dirinya memutuskannya ?


"Kau di mana Bella kenapa kau malah membuat aku khawatir seperti ini. Pulanglah aku akan memaafkanmu aku janji akan memaafkanmu jika kau pulang sekarang juga Bell, jangan membuatku takut kehilanganmu "


**


"Kau langsung tidur jangan begadang aku akan pulang ke rumah aku dulu yang di sanam Alvaro pasti menungguku pulang"


"Iya Om hati-hati di jalannya. Jangan marah lagi dong Om aku kan tidak sengaja menginjak kaki om. Om sih ngapain coba cium-cium leher aku, apa om sebenernya mau gigit leher aku ya, apa om sebenarnya vampir ya kayak di film-film itu apakah sama seperti Edward "


Sena malah menyentil jidat Sani , "kau ini ya kalau berbicara, aku ini manusia bukan vampir sudah kau masuk ke dalam rumahmu itu cepat jangan membuat aku marah lagi"


"Baiklah om dadah "


Sani langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintunya sedangkan Sena langsung pergi kembali, dirinya akan tidur dirumahnya, Alvaro pasti akan bertanya tanya kenapa dirinya jarang pulang.


Sani yang sudah ada didalam kamar langsung menyimpan barang barangnya , Sani yang penasaran dengan apa yang Sena berikan langsung membuka paper bag itu dan ada beberapa pakaian dan juga tas.


"Apa Om Sena tidak salah memberikanku pakaian banyak seperti ini dan juga pasti harganya sangat mahal sekali, om Sena ini ya selalu saja membelikan aku sesuatu aku saja tak pernah membelikan sesuatu untuknya tapi dia selalu saja membelikannya, aku jadi malu nanti orang-orang bicaranya malah aku deketin Om Sena gara-gara hartanya aja"


Sani merebahkan tubuhnya dan menyimpan pakaian-pakaian itu dengan asal karena dirinya sedang malas tak ingin kemana mana lagi. Sudah nyaman seperti ini.


Kalau mengingat tentang kejadiannya tadi dengan om Sena sebenarnya apa yang om Sena lakukan tapi rasanya sangat geli dicium seperti itu, apa benar om Sena tidak akan menggigitnya seperti film-film vampir yang selalu dirinya tonton.


Karena adegannya hampir sama dipeluk dari belakang tiba-tiba digigit lehernya, atau dipeluk dari depan terus digigit lehernya takut-takutnya om Sena malah benar-benar berubah jadi vampir.


Tapi masa sih om Sena jadi di Vampir. Udah ah jangan pikirin itu lebih baik sekarang tidur aja besok kan sekolah dan nanti pulang sekolah juga harus belajar lagi masak sama kak Livi.


Sani sudah menguap dan langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya sama sekali, memang sangat mengantuk hari ini rasanya ingin tidur saja tak mau ke kamar mandi terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2