
Bella yang baru bangun celinggak celingguk, dilupa kalau dirinya sudah tak dirumah, dirinya sedang memata matai pacarnya.
Bella segera melihat ponselnya dan mengecek dimana keberadaan Alvaro. Namun ternyata tidak ada sadapannya sudah dicopot "sialan ini pasti Rizki kan yang kasih tahu Alvaro. Seharusnya aku nggak bilang sama Rizki kalau aku sadap hp-nya Alvaro jadi kayak gini kan sekarang gimana Alvaro pasti makin benci sama aku deh Rizky kamu udah khianatin aku "
Saatnya melihat Instagram dia malah melihat postingan Rizki bersama Sani dan juga Alvaro juga tuh kan bener mereka bareng-bareng "Kenapa jadi Sani sekarang yang mereka deketin seharusnya itu gue, seharusnya gue yang ada di situ bukan Sani kenapa malah jadi Sani, dasar ya Sani pembawa sial dia perusak persahabatan gue sama anak-anak, gue nggak bisa biarin ini gue harus jauhin Sani dari mereka semua"
Bella bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya, dia akan pergi mencari ketiga orang itu dan akan memberi pelajaran pada Sani. Masa bodoh hubungannya hancur bersama Alvaro yang terpenting dia bisa menegur Sani untuk tidak mengambil sahabat-sahabatnya itu, seharusnya dirinya yang ada di posisi itu bukan Sani tapi kenapa jadi malah dia. Ini tak boleh terjadi perempuan itu tak boleh ada disamping sahabat sahabatnya.
**
Sena sudah menatap garang ke arah dua pegawainya entah apa yang akan mereka jelaskan pada dirinya tapi Gea menundukan kepalanya dari tadi dan Fatimah terus yang nyerocos katanya Gea akan memberi tahunya sesuatu, ada apa ini sebenarnya tiba-tiba seperti ini tidak seperti biasanya.
"Jadi ini ada apa kalian datang datang mengganggu pekerjaan saya siapa sebenarnya yang akan berbicara dengan saya. Fatimah atau Gea ayo cepat bercerita sekarang saya tidak punya waktu lama"
"Saya tuan yang akan berbicara, sebelumnya saya minta maaf tuan, saya sungguh minta maaf "
"Minta maaf karena apa kenapa kamu minta maaf memangnya kamu buat kesalahan ya "
Gea menundukan kepalannya dan langsung menceritakan semuanya pada Sena dari awal dia masuk bagaimana, Kakak sepupunya itu menyuruhnya dan bagaimana kejadian kemarin juga dirinya menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurang-kurangi atau dilebih-lebihin masih dengan wajah menunduk dia tak berani menatap wajah Tuan Sena, setelah selesai bercerita semuanya dari silsilah keluarganya dan pokoknya semuanya Gea diam dan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Kalian ternyata bersaudara pantas saja aku seperti mengenal wajahmu. Wajahmu seperti mengingatkanku pada siapa. Ternyata kau bersaudara dengan Sonia dan kemarin saat menelpon diriku terus menerus dia hanya berbohong, dia hanya mengelabui ku saja dan kau yang telah memberikan nomot telfonku "
"Iya Tuan Sena semua itu hanya kebohongan semua itu bohong. Maafkan aku sungguh aku minta maaf aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, aku yang memberikan nomor tuan pada Kak Sonia, tapi aku berani jujur aku sama sekali tidak membongkar rahasia perusahaan dan aku tidak membongkar apapun selain memberikan nomor Tuan Sena dan juga info info yang dia mau tapi tidak aneh-aneh kok seperti apa yang aku ceritakan tuan "
Sena mengangguk anggukan kepalanya, sekarang harus marah atau tidak, tapi untuk apa marah juga tak ada gunanya sama sekali, ini sudah terjadi dan Sonia pun tak macam macam, dia hanya ingin tahu aku dekat dengan siapa, berarti aky harus melindungi Sani, jangan sampai Sani nanti yang jadi sasarannya, ya jangan sampai itu terjadi.
"Baiklah sekarang kalian berdua boleh keluar jangan bertanya kenapa aku tidak marah, ataupun melakukan apapun. Aku hanya ingin memperingatimu saja Gea jangan pernah kau berikan nomorku yang baru lagi pada Sonia, jika sampai Sonia menelponku lagi berarti itu tahu darimu maka aku akan memecatmu, ingat itu aku tidak main-main dengan semua kata-kataku "
"Terimakasih tuan "
Gea dan juga Fatimah langsung keluar dari ruangan Sena dengan nafas lega, mereka menutup pintu dengan perlahan dan menuju meja Fatimah.
"Untung aja Tuan Sena nggak pecat aku Fatimah, kalau dia pecat aku gimana, aku harus cari kerja di mana dengan umurku yang sudah tua. Ya maksudku umur 20 ke atas kan sudah tua ya akan sulit cari kerja kan minimal umurnya sekarang tuh cari kerja 20 sampai 23 sedangkan aku sudah melebihi itu untung saja Tuan Sena masih berbaik hati membiarkan aku bekerja di sini dan benar katamu aku lebih baik menceritakannya. Ternyata dia tidak marah atau membentak-bentak aku0 aku rasa dia sedikit berbeda ya"
"Iya bener banget tapi aku nggak ngerepotin rmang tinggal di rumah kamu"
"Enggak kok tenang aja aku sama sekali nggak kerepotan kamu tenang aja kayak sama siapa aja, aku seneng malah ada teman biasanya aku sendiri di rumah sekarang ada kamu kan temenin aku nanti, cepat kerja nanti datang ke sini loh"
"Iya deh makasih yah, aku kerja ya "
__ADS_1
"Iya " jawab Fatimah dengan singkat
**
"Non ayo makan dulu, jangan kayak gini nanti ibu marah sama bibi, ayo makan dulu non jangan kayak gini dong "
"Saya gak mau bi, saya gak mau makan saya mau Arzan yang suapin saya mau dia yang suapin saya gak mau makan "
"Jangan buat nyonya makin marah non, lebih baik non sekarang makan saja, jangan sampai nanti nyonya ngamuk ngamuk dan nyalahin den Arzan lagi, kasian kan dia gak tau apa apa tapi disalahin sama nyonya "
"Maka dari itu aku pengen ketemu sama Arzan dan minta maaf sama dia, cepetan Bi aku pengen ketemu sama Arzan hanya sama Arzan saja, tolong bibi telfon ya nanti aku akan makan setelah ada Arzan "
"Mira kamu ini apa apa Arzan, apa apa Arzan makan makanan kamu sekarang juga, jangan banyak protes manja sekali kamu pengen disuapin sama Arzan, dia itu bukan laki-laki baik buat kamu. Dia nggak akan pernah mau datang kemari. Jadi kamu makan apa yang disuapin sama bibi jangan jadi anak manja, kamu ini udah dewasa kamu ini sebentar lagi mau kuliah tapi kelakuan kayak anak TK udah cepet makan. Masalah laki-laki aja bisa buat kamu minum obat tidur nanti kalau kamu suatu saat udah nikah ada masalah sama suami kamu, kamu mau bunuh diri, mau gantung diri, mau tusuk jantung kamu, mau iris urat nadi kamu iya ,kamu mau kayak gitu nanti kalau udah nikah, kamu ini harusnya berpikir dewasa bukannya seperti anak kecil terus. Lihatlah Suni teman kamu dia itu banting tulang buat keluarganya tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun apalagi dia tidak memikirkan tentang laki-laki contoh dia kamu berteman dengannya tapi kamu tidak bisa mencontohnya"
"Ya sudah Sani saja yang jadi anak mami biar mami bangga punya anak sedewasa Sani yang mandiri, adopsi aja sama mamih Sani sama mamih agar mamih bisa bahagai dan punya anak yang sempurna, aku memang agois dan manja "
"Maunya sih seperti itu Sani jadi anak mami tapi Mami malah melahirkan anak manja seperti kamu dan terlalu tergantung sama laki-laki yang belum tentu jadi Jodoh kamu, kamu ini seharusnya pikirkan dulu sekolah Mira, sekolah itu lebih penting daripada laki-laki, nanti juga ialau tuhan sudah memberikan kamu Jodoh kamu juga akan ketemu sama Jodoh kamu, kamu ini ya bener-bener malu-maluin keluarga lakuin yang kayak gini cuman gara-gara laki-laki nggak habis pikir Mami sama jalan pikir kamu kalau Papi tahu dia juga pasti akan marah sama kelakuan kamu yang kayak gini, yang kayak anak kecil yang enggak ada gunanya tahu enggak sih"
"Terserah gimana mami aja aku mau makan kalau Arzan ada di sini dan nyuapin aku. Kalau Arzan nggak ada aku nggak akan makanz aku nggak mau makan sedikitpun sebelum Arzan yang nyuapin aku dan dia maafin aku serta Mamih juga minta maaf sama dia. Karena Mamih dia nggak mau lagi berteman sama aku"
__ADS_1
"Terserah kamu saja nanti juga kalau kamu lapar makan. Gak akan mungkin kamu tahan berminggu-minggu tidak makan mami yakin 1 jam 2 jam kamu juga akan kelaparan dan akan memakan makanan yang sudah disediakan Rumah Sakit, silakan kamu mau menahan lapar kamu sampai kapanpun Mami tidak akan melarang, karena Mami sampai kapanpun tidak akan pernah meminta maaf pada anak itu dia sudah membawa hal buruk pada kamu Mira. Seharusnya kamu sadar bukannya seperti ini Mami itu pengen yang terbaik buat kamu, tapi kamu nggak bisa ngertiin apa yang mami maksud. Sudahlah percuma Mami juga bicara terus-menerus sama kamu yang ada mami capek sendiri. Bibi tunggu di sini ya saya mau pulang saya mau kerjain kerjaan saya yang numpuk. Bibi jagain anak bandel ini nanti kalau dia enggak mau makan enggak usah dipaksa biarin aja mau dia mati mau enggak juga urusan dia"
Maminya Mira langsung saja pergi. Mengapa dirinya berbicara kasar seperti itu pada anaknya agar dia sadar kalau segala hal tidak harus seperti itu, apa yang dirinya mau tidak harus terwujud apalagi seseorang yang dia cintai tidak bisa dimiliki olehnya maka jangan memaksa dan malah membuat diri sendiri jadi sakit.