Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Tidak mau pergi


__ADS_3

"Sekarang kita harus lakuin apa nih" tanya Sani


"Udah kamu ke pintu belakang aja biar aku ke sini ya pancing ibu tiri kamu dan anaknya "


Sani mengangguk dan segera pergi kepintu belakang sedangkan Arzan langsung saja mengetuk pintu depan, "permisi tante, permisi "


Tok tok tok tak lama kemudian pintu dibukan dan ibu tirinya Sani keluar "mau cari siapa "


"Mau cari Anggia "


"Cari Anggia ada perlu apa "


Tiba tiba Anggia kelaur dan menatap Arzan "siapa bu "


"Gak tau katanya mau ketemu sama kamu Anggia "


"Siapa ya "


"Kenalan dulu dong aku Arzan aku sekolah sama Sani. Tapi kan aku pernah ke rumah kamu nih. Maaf ya Tante kalau misalnya aku lancang nih ya, ya pengen main-main aja gitu sama Anggia boleh kan tante kita saling ngobrol atau gimana gitu"


"Ya bolehlah kamu mau ngobrol sama Anggia. Kenapa gak bilang dari awal kalau kamu tuh pengen kenal sama anak tante yang cantik ini, ya udah duduk-duduk mau di dalam yuk di dalam aja"


"Gak tan mau di luar aja tan sama Anggia sama tante bicara gitu di sini"


"Boleh boleh "


Anggia yang malu malu segera duduk disamping Arzan dan sang ibu yang melihatnya senang sekali, tuh lihat meski anaknya gak sekolah ditempat elit itu tapi temennya si Sani itu suka kan sama anaknya yang cantik


Sedangkan Sani sudah masuk, bahkan sekarang dirinya sudah ada dikamar ayahnya "ayah "

__ADS_1


"Sani kamu kesini na "


"Shutt ayah jangan terlalu berisik yah "


Ayahnya mengangguk " kenapa kamu gak pulang nak kenapa kamu pergi kenapa kamu tinggalin Ayah sendirian di sini Kenapa"


"Aku waktu itu ke rumah yah, tapi Ibu gak bolehin aku untuk masuk ke sini makanya aku balik lagi dan sekarang aku dibantu sama temen aku buat ketemu sama ayah, ayah gimana keadaannya sehat kan ayah gak apa-apa kan ibu sama Anggia urus ayah kan gak diemin ayah kan "


"Enggak mereka urus ayah tapi kenapa kamu harus pergi kenapa kamu gak diem aja di sini si nak,, kita kumpul lagi sama-sama"


"Sani waktu itu emosi Yah, Sani capek sani lelah Sani itu selalu disuruh-suruh ini itu Sani butuh belajar yah tapi Sani disuruh kerja harus cari uang yang banyak, sedangkan Sani harus bagi waktu sama yang lainnya "


"Maafin Ayah ini semua gara-gara Ayah kalau aja Ayah gak kayak gini, mungkin kamu gak usah kerja kamu hanya fokus belajar dan kamu juga gak akan pergi tinggalin ayah kayak gini"


"Kenapa ayah bilang kayak gitu gak ini bukan salah ayah, mending Ayah ikut Sani aja ya kita keluar dari rumah ini. Ayah ikut Sani ya"


Sani menghembuskan nafasnya, memeluk ayahnya lalu mengeluarkan uang dari kantongnya dan memberikannya pada sang ayah.


"Ya sudah kalau ayah tidak mau pergi Sani tidak akan memaksa ayah, tapi ayah sehat-sehat ya di sini setiap bulan Sani akan kirimkan uang untuk ayah dan untuk keluarga ini, Sani pamit pergi ya. Sani gak bisa tinggal di sini yah"


"Bukannya Sani gak sayang sama ayah tapi Sani udah capek hadepin sikap ibu yang selalu kasar sama Sani dan selalu saja menyuruh Sani untuk bekerja dan mendapatkan uang banyak, Sani udah gak bisa ya bertahan lagi bertahun-tahun bertahan sama ibu dan sama Anggi , Sani udah gak bisa sekarang Ayah sehat-sehat ya, Sani pasti akan terus kirimin uang buat ayah"


Tanpa banyak bicara lagi Sani langsung pergi keluar pergi dari dalam rumah dengan lunglai, sudahlah ayahnya tak mau pergi dengannya, padahal dirinya ingin membahagiakan ayahnya namun ayahnya malah memilih tetap disini.


Arzan yang melihat Sani sudah keluar segera berdiri "eh Arzan mau kemana " tanya Sarah.


"Arzan mau pulang dulu Arzan baru ingat kalau sekarang ada kerja kelompok. Ya udah nanti kapan-kapan Arzan main lagi ya sama Anggia dan ngobrol-ngobrol lagi sama Tante, dadah Arzan pergi dulu "


Arzan langsung berlari dan meninggalkan rumah itu, Anggia tersenyum pada ibunya.

__ADS_1


"Ganteng banget ya Bu Arzan aku jadi malu deh ada yang naksir aku seganteng Arzan. Oh ya Ibu tadi minta nomor Arzan gak "


"Emm engga kenapa kamu tadi gak minta sendiri coba "


"Ya aku kan keasikan ngobrol Bu, jadi aku gak sempet minta nomornya gimana sih Ibu kirain aku tadi ibu udah minta nomor Arzan, ya aku kehilangan dia deh ah "


"Ya udah dia kan temennya Sani nanti juga pasti minta kok sama Sanj nomor kamu, tenang aja gak usah risau kalau emang dia mau benar-benar sama kamu dan emang suka sama kamu dia pasti akan kejar-kejar kamu dan main lagi ke sini, udah tenang aja gak usah pusing pusing mikirinnya. Kamu kan cantik pasti bakal makin banyak yang suka sama kamu lebih dari Arzan tenang aja anak Ibu tuh cantik banget gak ada yang ngalahin"


"Hemm bu "


Mereka berdua segera masuk kedalam rumah dan menutup pintunya.


"Sani, San "


Sani segera menoleh dan menatap Arzan lalu kembali berjalan "kamu kenapa ninggalin aku, kenapa ada apa sama kamu San "


"Aku udah ajak ayah aku buat ikut sama aku, tadi dia gak mau Zan dia malah mau bertahan disini sama ibu sama Anggia, padahal kan aku mau rawat ayah, tapi ayah gak mau, dia gak Zan dia malah mau disini aja "


Arzan merangkul Sani dan menepuk nepuk bahunya "kamu yang sabar ya pasti nanti juga ayah kamy bakal mau ikut kamu, nanti kita lakuin ini lagi ya "


"Gak usah Zan aku nanti kirim uang aja "


Sani langsung membuka pintu mobil dan duduk menunggu Arzan masuk, setelah itu Arzan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah orang tua Sani.


"Kamu beneran gak akan kembali lagi sama Ayah kamu gak akan lihat dia lagi kamu yakin San "


"Aku gak tau Zan aku mau kirim uang aja buat ayah betobat dan keperluan ayah yang lainnya, aku aku gak tau Zan "


Arzan hanya mengangguk angguk saja dan kembali fokus menatap kejalan dirinya akan membiarkan Sani menenangkan terlebih dahulu dirinya, nanti juga kalau sudah tenang dirinya akan berbicara pada Sani.

__ADS_1


__ADS_2