Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Hanya membantu orang


__ADS_3

"Maaf ya San aku bener bener gak sengaja, kamu mending diem aja dirumah gak usah kemana mana aja dulu "


"Gak bisa aku Mir, aku harus kerja kamu gak usah minta maaf terus dong, aku gak apa apa kok, kamu juga gak sengajakan Mir jadi udah kamu pulang nanti kamu di cariin loh "


"Beneran ih kamu udah gak apa apa kan, aku merasa bersalah banget sama kamu tau gak sih. Udah ya kamu pulang aja ke kosan kamu istirahat diem pulihin dulu takutnya nanti kamu malah mimisan lagi"


"Gak apa apa, beneran deh aku baik baik aja, kamu jangan khawatir ya, aku pasti gak akan mimisan lagi, yaudah gih kamu pulang, makasih ya udah anter aku sampai tempat kerja aku "


"Bener ya kalau ada apa apa, kamu harus telfon aku, harus kasih tau aku ya, kamu kan udah simpen nomor aku di ponsel kamu "


"Iya Mir kamu tenang aja aku pasti bakal hubungin kamu nanti kalau ada apa-apa ya, kamu jangan khawatir kayak gitu aku jadi gimana gitu padahal aku gak apa-apa , cuman mimisan aja sekarang juga udah gak apa apa, lebih baik kamu pulang aja ya, kamu istirahat"


"Yaudah aku pulang, pokoknya kalau ada apa apa kamu telfon aku ya, jangan merasa sungkan atau apa ya, aku pasti akan tanggung jawab kalau sampai ada apa apa sama kamu, "


Mira memeluk Sani lalu melepaskannya, masuk kedalam mobil dan Sani segera masuk kedalam kedai untuk segera bekerja dan memulai rutinatas hariannya.


Semoga saja hari ini dirinya tak sial lagi dan tak terjadi apa apa lagi, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar, jangan sampai ada musibah musibah yang lain dan juga dirinya akan menengok sang ayah, dan membawannya kekosan.


Semoga saka ayahnya mau dan ibu tirinya serta kakak tirinya tak membuat drama yang menyulitkan dirinya untuk membawa sang ayah.


**


"Tuan mau kemana lagi, dari tadi kita sudah mengelilingi beberapa restoran tapi tak ada yang cocok, kita mau kemana lagi tuan sepertinya sudah tak ada restoran lagi di daerah sini "


"Maju saja Fatimah kau tak usah banyak tanya, itu tak cocok denganku, aku ingin yang lain, aku ingin sesuatu yang enak, yang pedas namun tak terlalu pedas "


"Hah apa itu tuan, apa tuan mau seblak "

__ADS_1


Sena melihat kearah kiri dan tersemyum," kita masuk kesana ya, kedalam kedai itu, cepat Fatimah sebelum aku berubah fikiran" , Fatimah yang kaget mengerem mendadak mobil itu dan membuat Sena tersungkur kedepan.


Fatimah langsung membantu tuannya untuk duduk kembali "maafkan saya tuan maaf saya kaget, saya sungguh minta maaf ya, "


Sena langsung memebenarkan jasnya dan kembali duduk dengan benar " Makanya kalau bikin SIM itu jangan nembak jadi kayak gini, kalau nyetir yang bener Fatimah kalau saya kenapa-napa gimana kamu emang mau tanggung jawab kalau saya kecelakaan"


"Iya iya maaf tuan maaf "


Fatimah segera melajukan mobil dan membelokannya kearah kedai itu, Sena langsung turun dan tersenyum, kedai kesukaannya akhirnya kembali kemari lagi, sekalian kan ketemu Sani lumayan kan.


Sedangkan didapur Sani sedang memasak seafood dia membuat menu baru yang pernah ibunya berikan resepnya, nanti akan dia kasihkan pada kakek untuk mencicipinya semoga saja menyukainya kan.


"San kamu lagi apa coba "


"Kakek Sani lagi bikin resep baru sebenernya sih ini resep ibu Sani, coba kakek cobain kata kakekan kita harus cari resep resep baru "


"Baiklah kakek akan mencobannya kalau enak kita masukan ya, kamu layani dulu ya itu membeli yang lain "


Sani segera keluar saat kakek akan memakan masakan Sani tiba tiba saja "stop saya ingin makanan itu "


"Tuan Sena, tapi ini harus saya coba dulu, kami sedang membuat resep baru "


"Tidak apa apa, saya ingin yang itu "


Akhirnya kakek pasrah dan menyajikannya di meja Sena, lalu kakek segera kembali kedapur, belum juga Sena memakannya sumpit itu sudah direbut oleh Sani.


"Om Sani, kak Fatimah ada disini ya, kenapa om Sena makan ini, ini punya kakek dan harus di cobaan dulu sama kakek kenapa ada ditangan om dimeja om "

__ADS_1


"Karena saya mau, jadi ya gimana dong, saya mau yang ini "


Sena langsung mengambil sumpit itu dan akan memakannya namun Sani langsung mengambil piring itu namun Sena juga memegangnya pada akhirnya saling tarik menarik.


Sani yang sudah tak kuat lagi menarik piringnya akhirnya melepaskannya "baiklah kalau om mau itu, kalau tidak enak jangan salahkan kedai ini, awas saja ya "


Sani segera pergi dan Sena hanya tersenyum saja melihat kelakuan Sani, "Tuan apa kita pindah saja dari sini, rasanya disini berisik sekali "


"Tidak apa apa Fatimah kita disini saja."


Sena langsung memakannya dan sangat menyukainya ternyata perempuan kecil itu hebat juga dalam memasak tak disangka sangka, Sena terus saja memakannya sedangkan Sani melihat ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar dikedai ini.


"Ehh ada apa ini, kenapa bertengkar ada apa ini " lerai Sani.


Istrinya langsung mengumpat dibelakang Sani "dia sedang mabuk dan menyangka yang tidak tidak padaku, malahan menyangka aku telah selingkuh dengan temannya padahal aku tidak melakukannya "


"Awas kau anak kecil jangan menghalangi " sambil mendorong Sani.


Sani yang tak terima mengambil permen satu tomples dan melemparkannya pada lelaki itu, lalu mengambil minuman botol dan melemparkannya kearah laki laki itu.


Namun laki laki itu menghidar, Fatimah yang melihat ada botol yang melayang kearah tuannya segera menangkapnya, namun sama sekali tak tertangkap dan mengenai kepala Sena.


Sena yang sedang makan dengan enak langsung pingsan, Fatimah langsung menguncang tubuh tuannya namun tak sadarkan diri.


Sani langsung menatap kearah suami istri itu, namun mereka langsung kabur dan meninggalkan Sani sendirian.


"Istt kok jadi kaya gini sih akhirnya , gimana nih takut om Sena mati, nanti Alvaro marah marah kerumah, lebih baik aku pulang aja deh dari pada aku dimarahin Alvaro dan di hina sama dia, lebih baik pergi aja deh dari pasa makin banyak nih masalah"

__ADS_1


Sani langsung saja berlari tanpa menolong Sena yang tak sadarkan diri sedangkan Fatimah sedang menelfon seseorang, mungkin ambulans.


Sani terbirit birit berlari meninggalkan tkp, namun saat pertengahan jalan Sani berhenti dan " Seharusnya aku tanggung jawab bukannya malah berlari seperti ini, tapi bagaimana jika Alvaro malah mengejarku dan menyalahkan semuanya padaku aku tidak sengaja aku hanya ingin membantu orang lain. Sudahlah pulang saja Lebih baik aku pulang saja pergi dari kosan dan menghilang begitu saja"


__ADS_2