
Sani yang sudah di kamar hanya diam saja, dirinya hanya bisa melamun memikirkan keluarnya yang sifatnya seperti itu, apakah bisa tak seperti itu. Kenapa harus datang kerumah dan suaminya yang memberikan uang, kenapa harus begitu.
"Kau kenapa sayang, kenapa kau melamun "
Sani yang melamun sampai kaget dan melihat kearah belakang ternyata suaminya "kenapa kau sedang melamun kan apa "
"Emm aku malu bee aku malu dengan kau yang memberi uang pada ibu ku, aku sungguh malu maafkan keluargaku yang seperti itu, aku janji akan Menganti semua uangnya bee sungguh aku janji "
Sena langsung memegang kedua pipi istrinya sambil mengusapnya " kenapa harus diganti aku ini suami mu, tak ada yang perlu diganti aku sengaja memberi uang pada mereka agar mereka tak mengganggumu, aku sudah menasehati mereka dan mereka tak akan pernah datang lagi kemari "
"Tapi tetap saja bee aku malu, aku malu dengan mamih"
"Tak usah malah apa yang perlu kau malukan sudah semuanya sudah selesai kau tak boleh seperti itu ya sayang"
Sani melepaskan tangan suaminya dan duduk ditepi ranjang " aku ini seperti orang yang dikasih hati malah minta jantung bee "
"Shut aku tak mau mendengar itu lagi, aku sudah bilang kan bukan kau yang salah ingat jangan salahkan diri sendiri, aku sungguh tak suka saat kau menyalahkan dirimu sendiri, aku yang memang mau menikahimu bukan karena terpaksa atau karena wasiat ayah mu saja "
__ADS_1
Sena memegang bahu istrinya dan mendekatkan bibirnya kearah bibir istrinya yang sedang menunduk sedikit lagi bibir mereka akan menyatu dan " Sanii Sanii "
Sena langsung menjauhkan dirinya dan mengusap wajahnya, kenapa selalu saja ada gangguan, kenapa harus seperti itu terus, kapan dirinya dan juga istrinya akan melakukan malam pertama kalau selalu ada saja gangguan seperti ini.
Sena dengan pasrah langsung masuk kamar mandi, dirinya sudah tau siapa yang datang maka dirinya harus bersembunyi. Sedangkan Sani dengan cepat segera pergi kearah pintu dan membuka pintunya.
Alvaro langsung masuk dan melihat kearah kamar Sani yang sudah rapih, lalu duduk dikursi yang ada dikamar Sani di ikuti oleh Sani juga, tenang pintu kamar dibuka.
"Gimana keadaan Arzan Al"
"Syukur deh kalau gitu maaf ya tadi aku lagi beres beres dulu makannya gak sempet buka hp "
"Iya gak apa apa, tadi aku lihat ada ibu sama kakak tiri kamu diluar apa mereka habis kesini "
"Hemm begitu Al, mereka kemari untuk meminta uang sudahlah jangan bahas mereka Al aku jadi malu kalau harus membahas mereka berdua "
"Yang sabar " sambil mengusap rambut Sani
__ADS_1
"Hemm iya Al, terus gimana orang yang nusuk Arzan udah ketemu "
"Belum tapi polisi lagi cari tuh, kan udah tahu tuh yang tusuk Arzan itu perempuan dan yang pasti anak seangkatan kita, soalnya kan pesta kita gak dibuka buat umum San "
"Semoga cepey ketemu deh dan dihukum tuh orang gila yah perempuan tapi berani lakuin kayak gitu gak habis fikir aja "
"Ya namanya juga orang suka kayak gitu, ikut kekamar mandi ya udah kebelet nih "
"Jangan "
"Kenapa "
"Ada_"
"Udah ah San dah gak kuat "
Alvaro sudah berjalan kearah kamar mandi dan Sani sudah sangat takut kalau Sena akan ketahuan harus melakukan apa ini.
__ADS_1