
Alvaro mengalihkan pandangannya dan ternyata itu adalah sang papih "jika kalian disini ingin bertengkar dan malah membuat ulah lebih baik di bubarkan saja, pesta di sudahi, lebih baik seperti itu "
"Tidak papih jangan, kami tak akan bertengkar lagi "
Alvaro segera mengandeng Arzan dan membawanya menjauh dari papihnya, yang masih mengawasi mereka berdua. Sena langsung menatap seluruh teman teman Alvaro lalu masuk lagi kedalam rumah, untuk memberikan apa yang Sani mau.
Namun disisi lain, Sani yang melihat keadaan itu segera mencari cara untuk keluar dari dalam kamar ini, "aku harus kabur, aku gak boleh repotin om Sena lagi "
Saat Sani membuka pintu dirinya sama sekali tak bisa membukanya, Sani langsung berlari kejendela, waw tinggi sekali masa iya dirinya akan terjun kebawah sana, gak mungkin kan.
Saat Sani akan membuka pintu lagi kebetulan sekali pintu terbuka dan menampakan Sena yang masuk membawa kresek "mau kemana kamu San "
"Emm engga om, aku hanya berjalan jalan saja, "
"Dengan pakaian mu yang seperti itu "
Sani yang baru ingat segera berlari dan mengumpat lagi didalam selimut, Sena hanya terkekeh lalu memunguti pakaian basah Sani dan memasukannya kedalam kresek.
Setelah itu selesai Sena mengambil jaket dan menyampirkan di bahu Sani "pakailah "
Dengan patuh Sani langsung memakainya dan ini cukup aman untuknya "om aku mau pulang dulu ya "
"Kenapa pulang, kenapa cepat sekali ada apa, apa kau tak nyaman "
"Aku tak mau ada salah Faham diantara kita berdua, aku tidak mau itu sampai terjadi, lebih baik aku pulang saja om, dari pada nanti Alvaro makin makin membenciku "
"Kenapa kau sangat takut kalau Alvaro akan membencimu, apa kau menyukainya "
"Bukan mana mungkin aku mencintai Alvaro, yang ada aku akan mati kalau itu sampai terjadi, aku hanya ingin merasa aman saja disekolah dan gak diganggu oleh Alvaro dan juga teman teman yang lain "
"Apakah kau sangat tertindas sekali dengan Alvaro, akan aku marahi dia "
"Jangan jangan om, nanti yang ada malah Alvaro makin menjadi jadi saja membenciku "
Hening tak ada yang berbicara lagi, namun tatapa Sena masih fokus kearah Sani, Sani yang malu segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"San kenapa kau pergi dari rumah "
Sani yang kaget Sena mengetahuinya segera menatapnya dan mengelengkan kepalanya "tidak aku sama sekali tak pergi dari rumah, aku masih dirumah "
"Kau sudah pandai berbohong ya sekarang San, siapa yang mengajarkan mu, apa guru mu " sambil mendekat kearah Sani dan membuat Sani tak bisa bergerak karena di kurung oleh tubuh Sena yang besar dan kekar.
"Kalai iya guru mu yang mengajarkannya aku akan memecatnya sekarang, apakah bu Sesil yang mengajarkannya, jawab aku bertanya pada mu Sani "
"Tidak tidak ada yang mengajariku " sambil mendorong dada Sena, namun itu percuma saja karena Sena tak bergerak sedikit pun.
"Aku tak mau mendengar kebohongan mu lagi, ayo akan aku antarkan kau pulang "
"Ti tidak aku bisa pulang sendiri "
"Kenapa kau gugup aku tak melakukan apa apa " sambil menjauhkan dirinya dari Sani.
Sena segera mengambil jaketnya dan memakainya "ayo cepat aku antarkan, sebelum aku tak membolehkan mu pulang "
Sani yang ketakutan segera mengambil kresek pakainya dan berlari mendahului Sena, dia menunggu diluar kamar dan Sena langsung mengandeng tangan Sani untuk keluar.
"Om jangan seperti ini, nanti malah ada salah Faham lagi, "
Sani akhirnya hanya bisa menghembuskan nafasnya saja tak bisa berkata apa apa lagi, rasannya menyebalkan sekali kalau seperti ini.
Selama berjalan kegarasi mobil, Sani celinggak celingguk takut ada temannya yang melihatnya, namun sepertinya aman deh.
Sani langsung masuk kedalam mobil di susul oleh Sena yang masuk kedalam pula, Sani langsung menundukan kepalanya takut ada yang mengenalinya. Setelah keluar dari dalam rumah itu dan sudah ada dijalan raya , Sani menghembuskan nafasnya.
Lalu membenarkan duduknya dan menatap Sena yang hanya fokus menatap kearah jalan, tiba tiba saja mobil berhenti dan Sena langsung turun membukakan pintu sebelah.
Sani yang binggung hanya diam saja, tak mengerti apa yang Sena inginkan namun tiba tiba saja Sena memangku Sani "akhh apa yang om lakukan "
"Kau lama Sani, aku menyuruhmu turun namun kau tak mengerti "
"Ya sudah sekarang aku sudah mengerti om, turunkan aku, aku bisa berjalam sendiri tolong om lepaskan aku "
__ADS_1
"Sudahlah kau juga tak memakai alas kaki, lebih baik seperti ini saja, aku pun tak masalah "
"Tapi aku yang risih om "
"Sudahlah San San kau diam saja tak usah banyak bicara sudah aku bilang kan kalau aku tak suka dengan perempuan yang banyak bicara "
Mereka masuk kedalam sebuah toko, Sena langsung menurunkan Sani dan dia berjalan kearah tempat pakaian sepatu dan yang lainnya, lalu menyerahnya pada kasir setelah membayar memberikannya pada Sani.
"Pakailah aku tau kau tak nyaman dengan pakaian mu ini "
Sani yang tak mau lama lama seperti ini dan memang benar tak nyaman segera masuk kedalam ruang ganti dan menganti semua pakaiannya.
"Kenapa om Sena suka sekali memberikan ku pakain kurang bahan begini, selalu saja dres yang pendek dan ini jaketnya pun kebawahnya pendek, ini sebatu buts memangnya aku mau kemana, sudahlah aku kenakan saja "
Sani segera keluar dan Sena tersenyum senang "ternyata pilihan ku bagus juga, ayo kita makan "
"Hah makan tidak tidak aku ingin pulang saja om "
"Tidak aku akan membawamu makan dulu, baru aku akan memulangkan mu, ayo sayangku cepatlah aku tak suka menunggu " sambil mengandeng tangan Sani dan membantunya masuk kedalam mobil.
Setelah ada didalam mobil seperti biasa hanya kehiningan saja tak ada yang berbicara namun tiba tiba "mana ponsel yang aku berikan kenapa kau tak memakainya "
"Ada aku tak terlalu membutuhkannya om "
"Pakailah aku memberikannya untuk mu sekolah, agar kau lebih memudahkan saat sekolah "
"Ponsel itu terlalu bagus untuk ku, yang ada teman temanku akan mencurigaiku "
"Kau ini selalu saja seperti itu, kenapa selalu memikirkan tentang orang lain, kau yang memakainya dan kau tak usah menghiraukan apa yang akan orang bicarakan, kau pakai ponsel itu, karena sekolah sebentar lagi akan memwajibkan murid muridnya untuk mempunyai ponsel "
"Kenapa begitu bagaimana orang yang tak punya "
"Itu urusan mereka, pokoknya kau pakai ponsel dari ku, atau aku akan mengirimkan ponsel baru setiap harinya kerumah mu, kekosan mu bagaimana "
"Baiklah aku akan memakainya " dengan raut wajah kesalnya "menyebalkan sekali " gerutu Sani kembali.
__ADS_1
"Apa katamu "
"Tidak ada om "