Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Sudah takdirnya


__ADS_3

Sekarang Bella sudah ada di rumah duka, ayah Bella masih diam, tak bergeming dia masih tak percaya kalau sang anak meninggal. Sena dan juga Fatimah yang baru datang langsung menghampiri ayahnya Bella.


"Pak Rey saya turut berduka cita atas_"


"Tidak tuan anak saya Bella tidak meninggal, saya yakin kalau Bella masih hidup dan yang sekarang sedang ada di rumah saya itu bukan Bella dia bukan anak saya, saya yakin itu"


Sena melihat kearah Fatimah dan langsung pergi kearah ibunya Bella, Sena melihat sekeliling anaknya dan juga Sani tak ada disini. Sena menjadi khawatir dengan keadaan anaknya takutnya anaknya kenapa-napa.


Pasti anaknya sangat kehilangan, saat tadi dirinya mendengar ada berita tentang kematian Bella pacar anaknya, dirinya langsung pergi bersama Fatimah ke rumah duka untuk melihat keadaan anaknya juga, tadi sudah ditelepon beberapa kali namun sama sekali tak diangkat dan Sani pun sama saja dia tidak mengangkat telepon darinya.


***


Sani mendekati Alvaro dan menepuk bahunya, Alvaro langsung membalikan badannya dan memeluk Sani, Sani dengan canggung memeluk balik Alvaro, Alvaro menangis diperlukan Sani.


"Seharusnya aku nggak tinggalin Bella seharusnya aku nggak putusin Bella, mungkin semua ini nggak akan terjadi mungkin saat dia pergi waktu itu dia akan temuin aku, dia nggak akan pergi kemana-mana, aku yang salah di sini aku yang salah kalau aja aku nggak egois buat putusin dia mungkin semua ini nggak akan pernah terjadi, aku nggak akan mungkin kehilangan Bella San "


Sani menepuk punggung Alvaro "kamu harus kuat Alvaro mungkin ini udah saatnya Bella pulang pada Tuhan, kamu nggak bisa salahin diri kamu sendiri mungkin ini emang udah takdirnya Bella, kamu sekarang harus kuat kita pergi ke rumah Bella sekarang ya, kamu harus ke sana jangan buat Bella sedih dengan kamu yang nggak ada di sampingnya saat-saat terakhir dia, kita harus ke sana yah kamu harus kuat aku pasti akan selalu ada di samping kamu Al "

__ADS_1


Alvaro langsung melepaskan pelukannya dari Sani dan mengusap air matanya, untuk kali pertamanya dirinya menangis didepan seorang perempuan. "ayo kita kerumah Bella sekarang "


Alvaro berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh Sani, Sani juga sangat sedih atas kehilangan Bella, tak menyangka orang yang dulu sering membulynya pergi terlebih dahulu namun dirinya sama sekali tak senang, malahan dirinya sangat sedih.


Meskipun Bella selalu menyakitinya namun dirinya sama sekali tak menginginkan Bella meningal, namun bagaimana lagi ini sudah takdirnya mungkin Bella kembali pada Tuhan.


Namun dirinya sudah memaafkan segala kesalahan Bella yang disengaja atau pun yang tidak disengaja, dirinya memaafkan semua yang pernah Bella lakukan pada dirinya.


...***...


Sani dan juga Alvaro sudah ada dirumah duka, Alvaro berjalan ngontai kearah Bella yang terbaring kaku didalam peti, memang pikah rumah sakit yang melakukannya, karena mayat Bella yang ya sudah tak berbentuk maksudnya dengan luka dimana mana, bahkan kakinya patah wajahnya rusak dan banyak lagi luka yang terdapat ditubuh Bella.


Sedangkan Sani masih diam disana menemani Alvaro dan tak terasa air matanya mengalir pula melihat Alvaro yang begitu kehilangan, sosok Bella sangat berarti bagi Alvaro. saat Sani mengusap air matanya dia bertatapan dengan Sena yang menatapnya dengan ketus.


Namun Sani tak menghiraukan ekspresi dari Sena, dirinya sedang sedih kehilangan teman, ya meskipun bukan teman baiknya. namun tetap saja Bella adalah temannya. Saat Sani melihat ada Mira segera menghampirinya dan tersenyum pada Mira.


Namun balasannya Mira sama sekali tak membalas senyumannya dia malah mendelikan matanya "bagaimana apakah kau puas setelah melihat Bella mati mungkin kau akan lebih leluasa kan mendekati Alvaro atau Arzan mungkin, kau kan penghancur hubungan orang lain "ucap Mira dengan suara pelan.

__ADS_1


Sani langsung menghadap ke arah Mira "kamu bicara apa sih Mira, aku sama Alvaro itu cuman temenan aja mana mungkin aku senang Bella meninggal kamu ini kalau bicara ya, kenapa sih kamu harus bawa-bawa perasaan sama persahabatan kita, kalau kamu emang suka sama Arzan ya udah aku nggak akan kok deketin Arzan atau respon dia, aku kan udah pernah janji sama kamu jadi kita nggak perlu musuhan kan buat apa, kenapa sih cuman gara-gara laki-laki aja kita jadi musuhan kayak gini "ucap Sani dengan suara berbisik


"Tetep aja Arzan kejar kamu kan meskipun kamu cuekin, kamu bilang apa sama dia sampai-sampai dia juga cuekin aku kamu itu ya cuman emang pembawa sial lihat sekarang kamu dekat sama Alvaro Bella mati kan, nanti siapa lagi yang mati jangan-jangan nanti Arzan juga mati gara-gara kamu, deket sama kamu karena kamu itu pembawa sial tau enggak sih "


Setelah mengatakan itu Mira langsung pergi meninggalkan Sani sedangkan Suni hanya bisa diam tertunduk mendengar ucapan yang cukup menyakitkan hatinya. Mira mengatakan sesuatu yang ya tak pernah dirinya ucapkan Mira sekarang sudah berbeda.


Mira yang dulu dirinya kenal sekarang sudah berbeda sungguh sangat berbeda. Tiba-tiba saja ada yang memegang tangannya Sani mendongak ternyata itu Sena. Sani tersenyum dan melihat tangannya yang digenggam.


"Kamu ngapain jangan pegang tangan aku kayak gini nanti kalau Alvaro liat gimana, jangan buat masalah deh om"


"Saya enggak peduli mau Alvaro liat mau siapapun lihat saya enggak peduli, saya nggak suka ya kamu terlalu dekat sama laki-laki, saya udah pernah bilang kan sama kamu kalau saja gak suka "


"Apaan sih om itu lagi duka kayak gini, aku juga deket sama Alvaro sama temen aku sendiri jangan aneh-aneh deh om, om tuh jangan cemburu buta kayak gini emangnya aku ada hubungan apa sama Alvaro sampai-sampai Om bisa marah "


"Saya gak cemburu "ucap Sena dengan sedikit lantang.


Sani mendelikan matanya selalu saja begini, tak mengaku dasar om om gengsian, dengan perlahan Sani melepaskan pegangan Sena, dirinya tidak mau kalau Alvaro sampai mengetahuinya dengan cepat Sani menghampiri Alvaro yang masih menangis di depan jenazah Bella.

__ADS_1


Dirinya tak mau membuat Alvaro kembali sakit gara gara mengetahui tentang dirinya dan juga ayahnya.


__ADS_2