Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Sama sama patah hati


__ADS_3

Sani terbangun dan langsung membuka selimbutnya "aku tertidur, aku harus melupakan semuanya "


Sani langsung bangkit berjalan kearah kamar mandi dan langsung mandi untuk berangkat kesekolah, padahal ini baru saja jam 5 subuh namun Sani sudah siap siapa saja.


Bahkan tak lama kemudian sani sudah keluar dari kamar mandi memakai seragamnya dan melihat jam "ternyata masih pagi "


Dengan malas malasan Sani duduk dikursi dan menyalakan Tv, kembali ingatan ingatan bersama Sena tergiang giang dikepalanya.


Saat menonton Tv semuanya tentang percintaan bahkan ada yang dikasih bunga, dilamar dan lain lain, Sani yang kesal mematikan tvnya dan menutup wajahnya mengunakan bantal "akhh kenapa begini "


Tiba tiba saja Sani teringat barang barang pemberian Sena, Sani mengambil kresek sampah dan memasuk masukan semua barang barang pemberian Sena kedalam Sena.


"Aku harus melupakan orangnya dan aku juga harus membuang semua barang barangnya juga tak boleh sampai aku menyimpannya "


Dengan semangat Sani keluar dari dalam rumah dan menuju tong sampah lalu membuangnya "aku akan lupa dengan mu om Sena aku tak akan mengigat ngigat lagi, aku tak akan pernah "


Saat akan berjalan kerumah Sani menginjak sesuatu, Sani mengangkat kakinya sebelah dan melihat kearah kucing yang ada dihadapannya, disepatunya ada pup kucing "akhhhhhhh sial"


**


"Alvaro bangun, ini sudah pagi ayo bangun jangan tertidur terus papih harus pergi keluar kota sekarang bersama Fatimah "


Alvaro bangkit dan mengucek ngucek matanya "kenapa sangat mendadak pih, kemarin malam papih tidak berbicara akan pergi ke luar kota. Memangnya ada pekerjaan apa sampai-sampai harus pergi pagi ini pih, apakah begitu penting"


"Ya mau bagaimana lagi namanya juga papih bekerja, papih harus siap dengan apapun yang terjadi, di sana ada masalah yang terjadi, jadi papi harus ke sana dan mengurusnya mungkin papih akan beberapa hari di sana, kamu tidak apa-apa kan ditinggal di rumah"


"Baiklah pih ingat di sana papih hati-hati jangan lupa makan jangan terus aja bekerja, makan itu lebih penting yang banyak istirahat. Alvaro tunggu papih sampai pulang ke sini ya jangan lama-lama disana "


"Iya nak pasti papih tidak akan lupa dengan semua apa yang kamu katakan, sekarang bangun saatnya kamu sekolah jangan sampai terlambat pasti sekarang macet "


"Iya Pi tapi kan ini baru setengah enam masa Alvatro baru jam segini udah bangun sih, biasanya kan jam 06.00 papih berangkat sekarang banget emang "


"Iya papih harus berangkat sekarang juga, ya udah nggak papa kan papih berangkat duluan soalnya Fatimah udah tunggu tuh di depan, kasian dia dari subuh udah disini "


"Yaudah pih gak apa apa, hati hati ya dijalannya "


"Iya papih pergi "


Setelah pamit kepada sang anak Sena langsung keluar dan kamar dan membawa barang barang keperluannya sedangkan Alvaro sendiri malah tertidur kembali.

__ADS_1


**


Sani yang sudah sampai disekolah hanya diam saja dan tak banyak bicara duduk di kursinya dan melamun menatap kedepan "San kamu baik baik aja kan "


Sani mendongakan kepalanya dan ternyata itu Arzan "aku baik Zan "


"Tapi sepertinya penampilan kamu nggak seperti biasanya deh, rambut kamu kok diikat tapi berantakan. Kamu kenapa habis kena angin besar ya sampai sampai kayak gini "


Sani mengeleng gelengkan kepalanya, Arzan dengan perhatian langsung membenarkan rambut Sani, baru saja membuka ikatannya dan akan membenarkannya ada yang memberhentikannya.


"Lagi apa Zan "


"Eh Mir lagi mau benerin rambut Sani "


"Biar sama aku aja "


Mira segera membenarkan rambut Sani "kamu kalau patah hati juga harus liat penampilan kamu dong, jangan sampai berantakan kayak gini, boleh patah hati tapi jangan gini juga dong penampilan kamu berantakan, ini datang-datang ke sekolah lesu banget lihat deh mata kamu juga bengkak bekas nangis ya semaleman "


Sani hanya mengangguk anggukan kepalanya sedangkan Arzan mengernyitkan dahinya "hah kamu patah hati sama siapa San "


"Gak sama siapa siapa kok " ucap Sani dengan sedih


Mira segera duduk disamping Sani sedangkan Arzan masih duduk saja "eh eh kenapa nih kok murung gak biasannya nih anak miskin murung habis ditinggalin ya makannya jangan berharap lebih kalau apa apa tuh, lo tuh bukan siapa siapa "


Sani bangkit dan menatap Bella dengan kesal "apa urusannya sama kamu, kamu tuh nggak tahu apa-apa jadi nggak usah ngebully sana-sini deh. Emang kamu ada di tempat itu emangnya kamu tahu masalah sebenarnya apa. Emang kamu tahu kenapa aku murung kayak kayak gini nggak kan, jadi nggak usah banyak bicara deh Bell. Emangnya aku nggak bisa ngelawan kamu ya"


"Mulai berani ya "


Saat akan memukul Sani, Sani menangkap tangan Bella " stop gini aja kamu dilawan sama aku mau kekerasan kan. Apa lagi aku yang hampir selama 3 tahun kamu bully sama teman-teman kamu. Kamu baru diginiin aja emosi apa lagi aku dulu, makanya kalau mau ngebully orang itu mikir-mikir dulu saat kamu di-bully saat kamu diginiin kamu bakal gimana saat ada yang lawan kamu " sambil menghempaskan tangan Bella.


Sedangkan Mira dan Arzan melonggo melihat keberanian Sani, Sani langsung pergi dari hadapan mereka semua dan saat akan keluar kelas bertabrakan dengan Alvaro " jauhi Papih gue. Gue tahu lo dekat kan sama Papih gue. Jangan berharap lo bisa dapetin Papih gue, jadi lebih baik lo jauhin dia sekarang. Gue nggak suka dan sampai kapan pun gue gak akan suka "


Sani memundurkan langkahnya "tenang aja gue juga udah jauh sama papih lo jadi lo nggak usah takut kalau gue bakal rebut posisi lo, gue juga sama dia cuman teman biasa kita juga dekat gara-gara dia mau bertanggung jawab atas kesalahan lo yang udah pernah nabrak gue, emang salah kalau kita kenal aja nggak kan, kita kan nggak punya hubungan apa-apa , emangnya itu masalah besar ya sampai lo ketakutan kayak gini "


Sani kembali menabrak bahu Alvaro dan keluar dari kelas, kembali Mira dan Arzan saling pandang "hebat ya orang yang lagi patah hati itu kalau marah ngena banget dan kenapa siapa pun yang senggol dia, kayak sengol bacok gitu ya gak Zan "


"Iya benar baru kali ini nih lihat Sani berani dan marah-marah kayak gitu, siapa sih sebenarnya laki-laki yang buat Sani kayak gini. Ayolah Mir cerita jangan diem terus" bisik Arzan agar tak terdengar Bella.


Bella yang merasa dikacangi segera pergi dan duduk ditempat duduknya, Alvaro pun sama dia duduk disamping pacarnya.

__ADS_1


"Aku nggak bisa bilang Zan, aku nggak punya hak untuk bilang sama kamu siapa laki-laki yang disuka sama Sani, jadi lebih baik kamu tanya aja sama orangnya aku nggak mau bongkar-bongkar rahasia orang, apa lagi rahasia Sani sahabat aku, aku nggak mau buat persahabatan kita tuh jadi berantakan cuman gara-gara masalah ini, lebih baik kamu tanya sama orangnya itu kan akan lebih enak, kalau aku yang bilang nanti kalau seandainya Sani nggak mau bilang sama siapa-siapa dia bakal marah sama aku"


"Iya deh iya aku akan tanya sama orangnya "


Belum juga Mira menjawab Arzan susah berlari meninggalkan Mira. " padahal kamu udah tahu Zan kalo Sani sukanya sama orang lain, tapi kamu masih nekat dan mau tanya sama Sani siapa orangnya, emang sebegitunya banget ya kamu sayang sama Sani sampai-sami kamu nggak bisa lihat ada orang yang lebih sayang sama kamu dan peduli sama kamu"


"Tapi kamu lebih mengejar perempuan yang emang nggak punya perasaan sama kamu sama sekali dan mencintai laki-laki lain Kenapa sih Zan kayaknya kamu sulit banget ya dideketin" gumam Mira sambil menundukan kepalanya.


**


Arzan yang sudah menemukan Sani langsung berdiri disamping Sani " Aku suka sama perubahan kamu yang sekarang San, jadi berani tapi kamu berani apa karena patah hati aja dan nanti akan kembali lagi, sebenarnya siapa sih yang membuat kamu kayak gini, boleh aku tahu nggak siapa orangnya siapa tahu aku bisa bantu kamu"


Sani menatap sekilas Arzan " kamu juga tahu kok orangnya siapa bahkan mungkin semua orang juga tahu siapa orangnya, jadi aku nggak usah kan bilang sama kamu Zan. Kenapa kamu ikutin aku"


"Ya udah kalau kamu emang nggak mau aku tahu ya udah aku nggak akan tanya-tanya lagi tentang siapa sosok laki-laki itu yang telah membuat kamu patah hati dan kayak gini jadi berani kayak gini kan. Aku cuman khawatir aja sama kamu tiba-tiba aja kamu pergi ninggalin kelas gitu dengan keadaan yang marah kayak gini, kalau kamu sampai lakuin apa-apa gimana coba, kamu aja tadi datang-datang dengan penampilan yang berantakan sekarang kamu bisa lakuin apa aja kan"


Sani tersenyum kecil " Aku tidak akan segila itu Zan melakukan sesuatu di luar nalar. Aku tidak akan pernah melakukan itu untuk apa, aku melakukan hal itu memangnya laki-laki itu akan kembali padaku, jika sampai aku melakukan ya misalnya bunuh diri atau apa nggak akan, dia juga nggak akan peduli toh aku itu bukan siapa-siapa dia"


"Karena aku juga sayang dan cinta sama dia tuh cuma sebelah pihak aja, aku aja yang terlalu geer dan merasa kalau dia tuh emang benar-benar suka sama aku, tapi nyatanya enggak Zan aku tuh terlalu tinggi tahu nggak sih sampai-sampai saat jatuh tuh ya sakit kayak gini sakit banget" ucap Sani panjang lebar


"Begitu ya San. Iya sih emang mencintai sebelah pihak itu sakit banget apa lagi kalau orang yang kita cintai itu malah mencintai yang lain itu lebih sakit kan, pasti kamu jika merasakan itu akan lebih dari ini"


"Emangnya kamu pernah ngerasain ya Zan, emang kamu pernah ada di posisinya"


"Iya sekarang aku ada di posisi itu, perempuan yang aku cintai malah mencintai orang lain dan bahkan aku baru tahu sekarang, aku juga rasannya pengen nanya sama dia sebenernya kebersamaan kita waktu itu dianggap apa sih, tapi aku gak bisa tiba tiba tanya kayak gitu, yang ada dia malah jauh sama aku, yang terpenting sekarang buat aku dia ada disamping ku, meskipun dia tak tau kalau aku mencintainya"


"Terus dia pernah tau gak kalau kamu sebenernya suka sama dia, maksud ku ya siapa tau gitu dia tau dari orang lain, orang terdekat kamu yang bilang gitu"


"Nggak sama sekali, ya karena aku pun nggak pernah bilang sama dia kalau aku suka sama dia dan aku gak pernah cerita sama siapa siapa, mungkin kalau perempuan itu udah melupakan laki-laki yang dia cintai mungkin aku akan coba untuk menyatakan perasaan aku kalau aku mencintainya kamu dukung nggak San"


"Iya pasti aku dukung kok apapun yang kamu pilih pasti aku dukung semoga kalian bersatu ya, aku ingin lihat kamu bahagia sama dia "


" Iya semoga saja ya doakan saja yang terbaik ya San"


Kamu yang aku ceritakan kenapa kamu tidak peka perempuan yang aku cintai aku sayangi itu kamu, yang sedang kita bicarain itu diri kamu, tapi kamu nggak nyadar kalau itu kamu kenapa sih kamu harus suka sama orang lain, sedangkan aku di sini ada untuk kamu.


Bahkan aku selalu ada buat kamu, tapi kamu malah memilih laki-laki lain yang aku tidak tahu siapa di, hati kita sekarang sama-sama sakit tapi kamu sakit oleh orang lain sedangkan aku sakit oleh kamu yang ternyata tidak aku duga-duga kamu mencintai laki-laki lain.


Aku kira kamu selama ini hanya dekat dengan ku saja tidak dengan yang lainnya, dasar aku terlalu naif sampai sampai berfikir seperti itu, aku terlalu berharap kalau kau juga mencintaiku, tapi nyatanya sama sekali tidak.

__ADS_1


__ADS_2