
Pagi-pagi sekali Sena sudah bangun dan melihat Sani masih tertidur dengan tangannya yang menjadi bantal. Kenapa dirinya melakukan ini ya sengaja agar pendekatannya lebih gampang sajakalau Sani menjadi pelayannya.
Padahal itu cuman embel-embel saja untuk mendekati anak kecil ini, sungguh dirinya seorang laki-laki dewasa mendekati seorang anak kecil. Maksudnya yang masih berumur 17 tahun.
Tapi ya bagaimana lagi cinta tak memandang apa-apa, tapi apakah benar dirinya mencintainya atau sekedar hanya ingin mengejar dan mendapatkannya saja.
Entahlah masih plin-plan dirinya ini, kadang sangat ingin memiliki Sani, tapi dipikir-pikir kembali apakah Sani akan mau dan apakah yang dia rasakan ini memang benar-benar cinta atau hanya sebuah ketertarikan saja pada Sani.
Tapi kalau dipikir-pikir kan kalau Sani dekat dengan laki-laki lain terutama Arzan dirinya tidak suka seperti cemburu lah. Ya begitulah kalau anak muda bilang.
Sena mengusap kening Sani dengan perlahan dan Sani yang yang terganggu segera terbangun dan menetap Sena. Sani langsung mengucek ngucek matanya"ada apa om, kenapa apa ada masalah om, "
"Tidak aku sama sekali tidak membutuhkan apa-apa hanya ingin kau memberikan seafood untukku makanan Seafood mungkin hari ini kau bisa memasak"
"Om ini belum sembuh masa udah pengen yang kayak gitu aja sih seafood pagi pagi gini "
"Hemm iya juga, ya sudah kamu belanja saja bahan-bahannya, saya ralat kamu tidak usah masak di rumah kamu di kosan kamu, tapi kamu datang ke apartemen saya dan masak di sana saya juga hari ini pulang"
"Ya sudah deh terserah om saja aku pusing, tapi kalau tidak enak jangan protes ya aku sudah bilang sama Om kalau aku itu tidak pandai memasak "
"Iya aku tak akan protes aku akan mengirimkan alamat apartemen ku "
"Baiklah aku pergi dulu om Sena, jangan mencariku, awas saja ya, "
__ADS_1
Sani segera pergi dan Sena mengeluarkan ponselnya siapa tau sang anak akan menghubunginya namun tak ada, Sena menelfon sang anak tapi tak diangkat juga.
Sena hanya bisa menghembuskan nafas da menyimpan kembali ponselnya.
**
"Kenapa Alva kau tak menjawab telfon dari papih mu "
"Tidak Omah aku masih marah dengan Papih yang menamparku waktu itu, hanya demi membela perempuan itu perempuan yang sangat aku tidak sukai dia malah menampar ku, coba omah bayangkan, dan apa yang akan omah lakukan bila ada di posisi aku "
"Perempuan yang dirumah sakitu itu bukan, Omah akan lakukan apa yang kamu lakukan "
"Iya perempuan itu omah gara-gara perempuan itu, semuanya jadi gini, aku sama papih awalnya baik baik aja, tapi setelah ketemu sama perempuan itu papih berubah, dia jadi kasar sama aku omah, kayaknya aku mau tinggal disini aja deh sama omah sama opah, "
"Papihmu itu ya nanti Omah akan temui lagi papimu akan omah beritahu dia, sudah sekarang kau makan jangan memikirkan dahulu papihmu. Lebih baik kau makan sana sana makan omah sudah memasakan banyak sekali makanan kesukaanmu, lalu setelah itu segeralah kau bersiaplah untuk sekolah "
"Iya dong kamu kan cucu kesayang omah, udah sana gih masuk, omah belum mau, kamu sarapan aja sama opah ya, "
Segera Alvaro pergi sedangkan sang nenek Ariana hanya diam menatap lurus kedepan sambil tersenyum miring, lalu dirinya mengigat tentang masa lalu saat dirinya memberikan uang pada wanita miskin itu.
"Sena kau kembali mengejar seorang wanita miskin yang dulu saja hanya aku berikan uang dia langsung meninggalkanmu kan. Apa lagi dengan perempuan ini hanya anak kecil yang seumuran dengan anakmu pasti dia akan lebih tergiur lagi dengan uang, sama saja perempuan miskin itu suka uang sama seperti istrimu terdahulu, meninggalkanmu karena aku telah memberikannya uang dan bagus ya perempuan itu tak kembali lagi sampai sekarang "
"Sonia Sonia kau sungguh gampang aku singkirkan dan sekarang aku tinggal menyingkirkan perempuan kecil ini, tak satu pun yang boleh mendekati anakku selain aku sendiri yang menentukan siapa yang cocok bersanding dengan anakku nanti"
__ADS_1
"Aku tak akan rela kalau anak ku kembali jatuh pada perempuan kumuh, anak ku harus mendapatkan perempuan yang sepadan dan sama kayanya seperti aku dan juga dirinya, jangan sampai anak kecil itu menghabiskan uang anak ku, awas saja sebentar lagi aku akan menyingkitkan perempuan itu "
**
Sena yang kaget segera melihat kearah pintu dan disana ada Sani yang sedang ngos ngosan "ada apa dengan mu "
"Om aku sampai lupa, aku harus sekolah hari ini tuh hari kamis dan aku belum libur om, ini bukan hari sabtu atau hari minggu jadi aku harus pergi sekolah, belanja makanan yang om minta nanti saja ya, setelah aku pulang sekolah ya ya om, eh tapi setelah aku pulang kerja aku kan udah kerja om, apa kataku aku padat sekali "
"Kau keluar saja dari pekerjaan mu "
"Gak bisa gitu dong om, gak enak lah sama kakek "
"Udah tenang aja, saya yang akan berbicara dengan kakek "
"Gimana om saja ah, aku mau mandi dulu "
Sani langsung masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan Sena, tak lama kemudian Sani keluar dan Sena mengerjitkan dahinya.
"Kau mandi tidak sebenarnya, kenapa belum juga 5 menit kau sudah keluar dari kamar mandi dan sudah rapi dengan seragam mu, "
"Aku mandi om, aku sudah mandi hanya saja secara kilat, aku telat om aku telat aku harus segera pergi kesekolah, apa lagi jarak dari rumah sakit ini ke sekolah ku jauh sekali om, om seperti tak pernah merasakan saja sekolah, om juga pasti pernah telat dan mandi sebentar seperti aku "
"Tidak saya tak seperti mu, saya selalu tepat waktu jadi kita tak sama "
__ADS_1
"Baiklah baiklah terserah om saja, aku pergi ah kalau terus berbicara dengan om aku bisa telat sekolah "
Sani langsung pergi Sena lalu membayangkan dirinya menikah dengan Sani dan dirinya sudah tua sedangkan Sani sedang segar segarnya. "apakah aku akan siap melihat itu, umur ku dengan Sani sangat jauh, malahan jauh sekali, apakah orang orang tak akan menganggapku sebagai ayahnya, aduhh kenapa aku menjadi ragu dan takut padahal aku kan yang menjalankan hubungan ini bukan orang lain, lalu kenapa aku memikirkan tentang pendapat orang lain , banyak kan yang menikah beda umur, seharusnya aku semangat dan tak boleh berfikiran seperti ini , tidak jangan berfikir yang seperti itu ah "