
Sani yang baru saja pulang makan malam langsung membaringkan tubuhnya, Sani mengernyitkan dahinya saat melihat ada beberapa pangilan dan nomor yang tidak dikenal "siapa ini, aku tak tahu nomor siapa ini "
Sani mencoba menelfonnya kembali takutnya penting, tapi nomornya sudah tak aktif " Mungkin orang iseng aja kali ya nelpon aku malem malam neleponin terus menerus tapi ditelepon balik malah nggak aktif nomornya "
Saat melihat wajah Mira Sani merasa khawatir dengan Mira " Aku tiba-tiba jadi khawatir banget sama Mira, dia nggak kenapa-napa kan aku telponin sama sekali nggak diangkat. Ada apa ya sama dia semoga aja nggak terjadi apa-apa dia kan orangnya nekat banget"
Sani mencoba untuk menelfonnya lagi, namun sama saja tak diangkat " kamu ini ke mana sih Mir kenapa kayaknya kamu mulai jauhin aku deh, apa karena masalah Arzan apa karena dia deket sama aku kamu jadi kayak gini, kenapa masalah itu harus dibawa bawa juga sih Mir, kalau iya gara gara itu aku siap gak akur lagi sama Arzan asalkan kamu baik lagi sama aku, gak kayak gini, dulu kamu gak pernah gini, kamu orang yang peduli sama aku, dan kamu juga orang paling perhatian sama aku, tahu gak sih Mir aku kangen kamu yang dulu. Aku kangen kita yang selalu bersama sama "
Sani yang tak tahu harus melakukan apalagi menyimpan ponselnya dan mengganti pakaiannya menggunakan baju lebih santai untuk tidur, karena tidak mungkin kan tidur memakai dress seperti ini yang ada tidurnya tak akan nyenyak.
Sani segera mencoba untuk menutup kedua bola matanya. Semoga saja bisa tidur dan Mira juga tidak apa apa, dia baik baik aja, berfikir positif saja mungkin dia sedang jalan jalan.
**
Sani yang kesilauan membuka kedua bola matanya "silau baget sihh "
Sani mengambil ponselnya saat dirinya melihat jam ternyata mereka kesiangan, seharusnya sekarang mereka bertiga pulang, Sani dengan cepat berdiri dan langsunt keluar kamar untuk menemui Alvaro.
Saat sudah ada didepan kamar Alvaro Sani langsung mengedor pintunya dengan keras sambil berteriak memanggilnya " Alvaro bangun kita telat ayo cepetan bangun kita harus cepet cepet ke bandara bangun dong Ki Al bangun"
Tok tok tok namun tak ada yang membukannya Sani mengeluarkan ponselnya dan menelepon Alvaro tidak diangkat lagi pasti mereka masih tertidur. " Ya ampun gimana "
Tak lama pintu dibuka, dan ternyata Alvaro yang membuka pintu dengan wajah bantalnya " Al kita ketinggalan pesawat gimana nih ayo cepet kamu siap siap, kita pergi ke bandara sekarang Rizki juga bangunin dong kita harus pergi sekarang"
__ADS_1
"Jam berapa sekarang "
"Jam 11 Al "
"Hemm udahlah San biarin aja kita udah telat banget seharusnya jam 08.00 kita udah ada di sana udahlah nggak apa-apa kita sehari lagi aja di sini, siap-siap aja aku mau ajak kamu ke sebuah festival kita main panah-panahan di sana pasti seru. Cepat mandi gih nggak usah mikirin pulang nanti juga kalau udah waktunya kita pulang udah ya aku mau tidur lagi aku tahu perempuan pasti akan lama dandannya jadi kamu harus mandi sekarang oke"
Alvaro langsung menutup kembali pintu kamarnya dan mematikan lampunya lagi sedangkan Suni ya kembali lagi ke kamarnya tidak mungkin kan dirinya terus aja berdiri di depan pintu kamar Alvaro kayak orang gila aja.
Udahlah ikutin aja kata-kata Alvaro saja, Sani duduk di tepian tempat tidur dan masih melamunkan keadaan Mira sungguh dirinya begitu khawatir dengan sahabatnya itu, hatinya merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Mira sekali lagi dirinya menelpon Mira dan sekarang malahan menelpon rumah Mira.
Dan akhirnya diangkat juga "Hallo ini dengan siapa "
"Hallo ini Sani tan, maaf tan Sani gangu waktunya. Sani cuman mau tanya keadaan Mira apa dia baik-baik aja. Kenapa ya Mira nggak bisa dihubungin Sani udah nelpon Mira terus-menerus tapi Mira nggak angkat-angkat dia baik-baik aja kan tan "
Lama tak ada jawaban Sani melihat ponselnya dan masih menyambung "Hallo tan"
"Sakit apa Tan pantesan dia nggak angkat telepon-telepon aku, aku khawatir banget di sini takut terjadi apa-apa sama Mira. Tante tolong sampein ya sama Mira kalau aku telepon. Alhamdulillah seneng banget aku disini tan, aku nggak kuliah cuman antar Alvaro daftar aja sama urus-urus kelengkapan di sini aja sih Tan"
"Cuman panas aja kamu jangan khawatir nanti Tante sampeykan ya pesan kamu, kenapa kamu nggak ikut sekolah juga padahal kamu pintar loh"
"Makasih ya tante, gak tan aku lebih baik kerja aja kalau kuliah kan aku harus punya uang banyak dan juga biaya biaya yang lainnya, apalagi kakak aku Anggia juga mau kuliah jadi aku gak bisa ikut kuliah juga nanti biayanya makin double. Jadi lebih baik aku kerja aja tan, sekolah sampai SMA pun untuk aku udah cukup tan"
"Sama sama syaang, kalau tante sekolahin mau gak ? "
__ADS_1
Sani yang mendengar itu sampai melongo tak percaya namun dirinya berfikir kembali, apakah tak apa apa, tapi lebih baik jangan sajalah dirinya pasti akan membiyayai Anggia, pasti tak akan ada waktu untuk dirinya belajar sekarang saja kadang susah.
"Maafkan aku bukannya aku mau nolak tan tapi aku takutnya gak bener soalnya Anggia pasti akan membutuhkan uang banyak untuk kuliah dan aku pasti tak akan ada waktu tan untuk belajar "
"Baiklah kalau kamu berubah fikiran kamu bilang sama tante ya, tante pasti akan bantu kamu, kenapa kakak kamu gak ikut kerja aja kayak kamu "
"Emm Anggia pengen fokus dulu sama pelajarannya tan, jadi dia gak mau diganggu "
"Hemm gitu ya, yaudah nanti tante sampaikan ya sama Mira "
"Iya tan makasih sekali lagi "
"Sama sama sayang "
Sambungan sudah diakhiri, mamihnya Mira langsung berjalan kekamar anaknya, memang sekarang Mira sudah pulang, anaknya itu sungguh keterlaluan sekali hanya mengangakat telfon dari Sani saja susah.
Saat dirinya masuk Mira sedang anteng antengnya main ponsel " kamu main ponsel terus tapi sahabat kamu telepon aja kamu nggak angkat. Kamu ini kenapa sih Mir Sani tadi nelpon ke sini dan tanya keadaan kamu dia khawatir banget sama kamu "
Mira langsung menyimpan ponselnya dan menatap kearah mamihnya dengan malas "aku udah bilang kan aku nggak mau angkat telepon dari Sani, udah lah Mih. Mami nggak usah ikut campur tentang persahabatan aku sama Sani Mami itu nggak tahu apa-apa tentang kita berdua"
"Mami tahu tentang apa yang membuat kamu benci sama Sani sekarang gara-gara laki-laki itu kan karena Arzan kamu ini berubah karena laki-laki itu. Mami sudah bilang jangan pernah lepaskan sahabat yang benar benar sayang sama kamu, belum tentu nanti kamu di luar sana dapat yang kayak Sani lagi, harus gimana lagi sih mami kasih tahu kamu, kamu ini keras kepala banget. Penyesalan itu datangnya akhir Mir kamu kenapa jadi keras kepala banget"
"Aku nggak akan pernah khawatir dan menyesal kalau nanti kehilangan Sani banyak di luar sana yang mau berteman sama aku kok, aku berteman sama dia dulu karena awalnya kasihan dan ternyata berlanjut sampai sekarang kan udah lah mami nggak usah mikirin dia kenapa sih mami terus aja mikirin anak itu"
__ADS_1
"Iyalah gimana kamu aja Mami juga yang dengarnya pusing kamu itu nggak bisa dikasih tahu, susah dapat teman yang kayak gitu , mamih udah bilang kan susah jadi sekarang terserah kamu aja mau gimana Mami nggak bisa bilang apa-apa lagi sama kamu kalau kamu mau ngejar laki-laki itu ya kejar tapi kalau kejadian sesuatu Mami angkat tangan"
Mamih Mira langsung saja keluar dan dia akan melakukan sesuatu untuk membuat anaknya sadar lihat saja.