
Sena diam menunggu Sani keluar sangat lama sekali, saat Sena akan mengetuk pintunya, pintu itu sudah terbuka dan menampakan Sani.
"Ini pakaian mu, pakailah jangan lama aku harus berpidato didepan ayo cepat pakai "
"Om pergi saja kesana jangan tunggu aku "
"Tidak aku akan menunggumu "
Sena mendorong Sani masuk lagi dan menutup pintunya, Sena mengusap dadanya "ada apa dengan ku ini, kenapa jantungku berdetak begitu kencang "
"Apakah aku kembali mengalami cinta monyet, ahh sadar sadar Sena kau sudah tua ingat dengan umur mu, jangan membuat dirimu malu, dan membuat Sani mengejek mu dan membuatmu tunduk padannya harus Sani yang tunduk bukan aku "
Sena yang gelisah karena tadi sempat melihat tubuh Sani yang putih dan hanya mengunakan handuk serta air yang berbekas di tubuhnya itu malah membuat dirinya terangsang secara ***.
"Lebih baik aku keluar dari pada aku melecehkannya jangan sampai, aku sudah janjikan pada Alvaro tidak akan dekat lagi dengan Sani, jangan sampai janji ku itu aku ingkari, jangan sampai "
Sena langsung keluar dari ruangan tanpa memakai jasnya, karena memang jasnya bauk terkena telur yang ada ditubuh Sani.
Sena langsung masuk keaula disana sudah banyak guru guru dan murid murid yang menunggunya dan anaknya Alvaro juga sudah ada disini duduk paling depan , Sena menatap kesal pada sang anak namun Alvaro langsung mengalihkan pandanganya.
"Baik dipersilahkan untuk bapak Sena Anggara Wiratmaja untuk memberikan tips nya untuk menjadi pengusaha yang sukses di usia mudanya. "
Sena segera naik dan segera memulai pembicaraan itu banyak sekali yang Sena bicarakan namun dirinya sama sekali tak fokus, mencari keberadaan Sani yang tak kunjung datang.
Apa dirinya salah telah meninggalkan Sani sendirian diruang itu, apakah dirinya seharusnya tadi menunggunya, bagaimana ini. Namun saat Sena akan memberhentikan pembicarannya dan menyudahinya datang Sani bersama Arzan kembali bersama Arzan ada hubungan apa diantara mereka sebenarnya.
__ADS_1
"Tepuk tangan untuk bapak Sena "
Mereka serentak langsung bertepuk tangan dan akhirnya sesi ini berahir juga, memang disekolah ini selama 1 bulan sekali selalu mengundang pengusaha pengusaha muda yang berbakat, yang lebih sering di undang sih Sena karena dia sekaligus donatur di sekolah ini.
Mereka semua segera bubar dari ruangan aula, pandangan Sena sama sekali tak lepas dari Sani, dirinya melihat Sani yang kembali di papah oleh Arzan.
"Tuan apakah mau pulamh sekarang " tanya Fatimah.
Namun Sena tak menjawab masih fokus menatap kearah Sani yang pergi dan berbelok tak kelihatan kembali.
Fatimah segera mengalihkan pandangannya sebenarnya apa yang bosnya lihat tak ada siapa siapa, tak ada orang sama sekali.
"Tuann "
"Ya Fatimah "
"Kita pulang sekarang "
"Baik tuan "
Sena langsung berjalan dan di ikuti Fatimah, Sena sengaja melewati kelas sang anak, disana mereka sedang membereskan kelas yang penuh dengan telur.
Saat Alvaro pulang akan dirinya tanya apa maksud dari semua ini, mana perubahan yang Alvaro janjikan tak ada dia masih saja membuat ulah dan tak bertanggung jawab, entah bagaimana mendidik anak itu, agar menjadi sepertinya dulu, tak seperti ini, seperti ibunya seorang pengecut.
Saat Sena keluar sekolah lagi lagi dirinya melihat Sani bersama Arzan, "Sialan apa hubungan mereka aku harus mencari tau semunya, Arzan kau ingin bermain main dengan om " gumam Sena.
__ADS_1
Setelah itu Sena langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan sekolah itu bersama asistennya.
**
"Kamu gak mau pulang aja San, lebih baik kamu pulang aku anterin ya " tawar Arzan
"Gak Arzan aku gak mau pulang aku mau sekolah aja udah aku baik-baik aja, liat aku aja udah ganti pakaian kan aku mau sekolah aja. Percuma dong aku tadi berangkat pagi-pagi Kalau akhirnya aku pulang lagi"
"Oke deh kalau itu keputusan kamu, tapi kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku ya, oh ya kalau aku boleh tahu kamu sama Om Sena ada hubungan apa sampai-sampai tadi Om Sena kayak yang marah saat aku mengendongmu "
"Gak aku sama dia gak ada hubungan apa-apa, cuman dia kan yang nolongin aku waktu ditabrak sama Alvaro anaknya itu aja, kita gak punya hubungan apa-apa, kamu ini gimana sih masa aku punya hubungan spesial sama ayahnya Alvaro, bisa-bisa aku mati sama anaknya dan gak mungkin juga kan kalau misalnya aku punya hubungan sama om Sena, aku ini seumuran sama anaknya, nanti aku bukan kayak pacarnya dong malah kaya anak dan ayahh "
"Ahaha kamu bisa aja , iya juga ya kalau kamu punya hubungan sama Om Sena kalian akan terlihat seperti ayah dan anak mungkin kamu akan memanggilnya Deddy seperti di novel-novel memanggilnya sugar Deddy. Apakah kamu siap bila itu terjadi rasanya aku membayangkannya saja sudah tak mampu "
"Itu tak akan terjadi, oh ya kenapa kamu gak gabung sama Alvaro, malah tolongin aku dan melindungi aku dari bullyan Alvaro ada apa sama kamu, apa ini salah satu dari rencana Alvaro "
"Kamu ini kalau bicara ke mana aja, aku gak punya rencana apa-apa sama Alvaro, aku emang udah gak gabung aja sama mereka, karena aku gak mau ngebully terus orang termasuk kamu. Aku gak suka lebih baik aku keluar dari geng mereka, dari pada aku harus terus-menerus membully anak-anak yang ada di sini, aku juga bisa merasakan bagaimana perasaan mereka dan aku tidak mau sampai ada Karma nantinya, jadi lebih baik menghindar saja kan dari pada harus meneruskannya tapi aku tidak nyaman. Aku bersumpah tidak merencanakan apa-apa bersama Alvaro jadi kamu tenang saja. Aku hanya ingin berteman denganmu Apakah boleh"
"Baiklah aku percaya tapi apakah kau yakin ingin berteman denganku, aku bukan orang kaya aku hanya orang miskin, bagaimana nanti kalau orang tuamu tidak suka denganku dan tidak mau kau berteman denganku, lebih baik kau pikir-pikir terlebih dahulu sebelum mengajak pertemanan dengan ku, aku senang ada yang mengajakku berteman tapi lingkunganmu bagaimana apakah bisa menerimaku "
"Kamu tenang saja orang tuaku bukan Alvaro, jadi dia tidak akan mungkin tidak menyukaimu kau tenang saja mereka pasti akan menyukaimu. Bagaimana apakah kau mau berteman denganku mungkin sekarang aku sudah tidak punya teman jadi apakah kamu mau jadi teman pertamaku"
"Emm baiklah aku mau berteman dengan mu "
"Baiklah terimaksih kau teman pertamu dan akan menjadi temanku selamanya sampai kapan pun "
__ADS_1
Mereka berdua segera berjalan kearah kelas sambil sedikit sedikit mengobrol.