
"Non ayo makan dulu, kasian perutnya gimana mau minum obat, non kam harus minum obat juga "
Mira hanya melihat sekilas " Nggak aku nggak mau minum obat aku nggak mau makan juga Bibi nggak usah paksa kalau Arzan nggak datang ke sini aku nggak akan pernah makan dan gak akan pernah minum obat. Biarin aja aku mati Mami juga bilang gitu kan biarin aja aku mati. Mami juga lebih sayang sama Sani kan udah nggak apa-apa aku nggak mau"
"Tapi non, kalau non mau dapetin den Arzan harus sehat, nanti yang ada den Arzan gak akan mau sama Nona, gimana lebih baik nona sekarang makan dulu aja nanti bisa ketemu lagi kan sama Den Arzan kalau kayak gini terus nanti nona gak akan bisa ketemu sama den Arzan lagi "
Kembali Mila melihat Bibi dan " Iya juga sih Bi tapi aku mau Arzan di sini aku pengen dia duduk di sini sama aku terus temenin aku suapin aku, pokoknya aku pengen sama dia "
"Sekarang disuapin sama bibi dulu aja nanti sama Den Arzan kalau udah sembuh, gimana mau ya nona juga harus minum obat dulu biar sembuh, kalau nona gak sembuh sembuh yang ada den Arzan gak akan mau sama nona Mira yang ada dia akan makin menghindar, gak apa apa makan 1 suap atau 2 suapun yang penting terisi, mau ya makan sekarang biar sehat lagi dan bisa main lagi sama Den Arzan "
"Oke deh bi suapin aku. Aku mau makan ini juga karena aku pengen sembuh dan bisa ketemu lagi sama Arzan suapin aku bi sekarang biar Mami juga nggak ngeremehin aku terus-menerus dan nggak banding-bandingin aku sama Sani lagi. Bibi seneng nggak sih kalau aku dibanding-bandingin gitu. Terus menurut Bibi apa bedanya aku sama Sani sampai Mami kayak gitu"
"Nah gitu dong non " bibi dengan senang segera menyuapi Mira " dibandingin itu emang nggak enak Non bener-bener nggak enak banget, makanya Nona harus lebih dewasa dari nona Sani. Kenapa Nyonya bisa suka sama Nona Sani itu karena Nona Sani apa-apa selalu sendiri dia bekerja saat sekolah terus pinter juga kan Nah itu Nona harus bisa melebihi Nona Sani jadi nyonya nggak ngebanding-bandingin lagi"
Mira menganguk angukan kepalanya lalu menatap kearah bibi kembali dan menerima setiap suapan yang diberikan bibi padanya, dan tak terasa habis juga, bibi memberikan minum dan juga obatnya sekalian.
"Bibi menerut bibi Arzan bakal suka sama aku gak bi, dia bakal terima aku gak "
"Pasti non, non kan cantik mana ada yang bisa tolak non, pasti suka deh den Arzan sama non "
Mira yang mendengar ucapan dari bibi langsung tersenyum dan membayangkan kalau Arzan mengejar ngejar dirinya kelak rasannya tak sabar ingin sekali hari itu cepat cepat tiba, tapi kapan ya akan tiba hari itu.
__ADS_1
**
Sani masih mengintip dari lubang kecil, dirinya masih melihat Bella yang beteriak teriak di pintu Alvaro " Alvaro ke mana ya kok itu Bella ketuk-ketuk pintu dari tadi nggak dibukain gimana nih kalau dia tiba-tiba ke sini dan marah-marah sama aku"
Sani mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Alvaro tapi tak diangkan "kemana sih kok gak diangkat sih"
Tiba tiba saja Sani mendengar suara orang berbicara, cepat cepat Sani melihat keadaan ternyata ada staff hotel yang datang.
"Maaf Nona tadi ada yang melapor kalau Nona sedang membuat kerusuhan di sini, tolong hargai semua customer yang ada di sini ya jangan seperti itu, jangan gedor-gedor pintu kamar orang mengganggu mohon maaf sekali lagi saya menegur Nona karena memang ini sangat mengganggu sampai-sampai orang yang di sebelah kamar ini melaporkan pada saya"
"Istt apaaan sih, gak ya ini kamar pacar saya emang salah ya saya gedor gedor pintunya gak ada yang salah kali, udah kamu gak usah ikuy campur "
"Tolong jangan seperti ini nona, jangan membuat kegaduhan, lebih baik nona pergi dari sini dengan baik baik "
"Gak bisa anda sudah menganggu ketentraman orang orang "
Staf hotel yang kesal langsung menarik tangan Bella bahkan Bella ditarik oleh dua orang langsung "apa apaan sih lepasin, lepasin aku gak mau, aku gak mau aku mau disini, aku gak mau kemana mana "
Setelah Bella menjauh dan tak ada suaranya lagi, Sani langsung membuka pintu berbarengan dengan Alvaro dan juga Rizki yang membuka pintu mereka saling pandang dan Rizki hanya nyengir "untung aja ya badai udah pergi, "
"Aku kira kalian gak ada, kasian Bella dari tadi ketuk ketuk pintu, apa kalain gak kasian sama dia "
__ADS_1
"Kamu ini ya gak tau badai yang satu ini, bisa bisa nih ya kamar ancur lebur sama Bella, badainya pasti akan besar sekali "
"Kayak apa badai, emang bencana ya Bella "
"Emang dia adalah bencana, udah udah kita mau main games inget San jangan buka pintu sembarang nanti badai datang "
Setelah mengatakan itu mereka segera masuk kembali untuk melanjutkan main games, sedangkan Sani keluar dari kamarnya dan turun kebawah.
Saat dirinya turun kebawah malah melihat Bella yang sedang diusir bahkan tasnya dilemparkan.
"Awas ya kalian semua akan aku tuntut karena telah mengusir aku dengan seperti ini, lihat aja aku nggak akan segan-segan dengan kalian aku tuntut hotel ini saat aku pulang nanti , aku akan berbicara dengan ayahku karena kalian telah berani melakukan ini padaku "
Namun para staf hanya acuh dan langsung masuk kembali kedalam hotel "ahhhhh awass yahhh kalian liat aja ahhhh "
Sani yang tak tega melihat Bella diperlakukan seperti itu segera berjalan kearah sana, kearah Bella sungguh kasian dia, diusir seperti ini, kenapa harus seperti itu kan bisa baik baik.
Namun tiba tiba saja brukk ada yang menabrak Sani, Sani langsung membantu memunguti barang barang orang itu, setelah itu memberikannya pada perempuan itu "maaf aku tak sengaja " ucap perempuan itu
Sani tersenyum dan menganggukan kepalanya "iya tak apa, aku permisi "
Sani mempercepat langkahnya dan Bella tak ada disana, Sani terus saja celingak celinguk namun Bella sudah tak ada "kemana Bella, kenapa dia tak ada , apa secepat itu dia pergi "
__ADS_1
Sani menghembuskan nafasnya dan langsung pergi dari sana kembali masuk kedalam hotel.