
Anggia yang baru saja sampai ditempat kuliahnya begitu senang, ya tak menyangka dirinya bisa kuliah di tempat semewah ini hingga terus saja menatap dengan kagum tapi tiba-tiba saja dia menabrak seseorang, saking fokusnya mengagumi kampus ini.
"Punya mata tuh dipakai bukannya disimpan aja, ini ada orang loh, hati hati jalannya dong ah "
Anggia melihat orang itu dan sepertinya dirinya mengenalnya. Bukannya ini temannya Sani" Maaf aku tidak sengaja, maaf sekali lagi, aku tadi gak fokus "
"Kau bukannya kakaknya Sani kan Anggia "ucap laki-laki itu
"Iya aku Anggia kakaknya Sani Maaf aku tidak sengaja, sekali lagi aku minta maaf padamu "
"Kau kuliah di sini"
"Iya Sani yang membantuku dan sua_"
"Anggia "tiba-tiba saja ada yang memotong ucapan Anggia ternyata itu Sani, Sani segera menggandeng tangan kakaknya dan tersenyum pada Arzan.
"Kalian berdua sudah akur kalian berdua sudah tidak bertengkar lagi "
"Kapan kami bertengkar kami ini kakak adik mana mungkin kami bertengkar ya sudah Zan, kita permisi dulu ya kita mau sarapan sama-sama dulu "
Sani segera membawa kakaknya ke arah kantin sedangkan Arzan mengerutkan keningnya" tadi Anggia belum selesai berbicara ada yang membantu yaitu Sani dan sua apa itu sua suami, apa Sani sudah punya suami makin aneh aja kan makin pusing saja teka-teki ini."
Setelah sampai di kantin Sani memesan makanan dan juga minuman sedangkan dirinya sudah membawa makanan dan juga minuman sendiri, dirinya tahu Anggia pasti belum makan.
"Kamu belum sarapan kan"
"Belum San tadi itu aku bahagia banget aku bangun-bangun langsung mandi terus pergi kuliah deh dan makasih juga loh kamu udah sediain buku, pokoknya makasih banget deh buat segalanya kamu baik banget "
"Iya sama sama, kamu jangan kasih tahu siapa-siapa ya kalau aku udah nikah, soalnya emang pernikahan aku ini belum ada yang tahu bahkan Alvaro pun nggak tahu kalau aku nikah sama ayahnya tolong ya kamu jaga rahasia ini, apalagi jangan sampai kamu bilang sama Arzan bisa gawat semuanya" bisik Sani pada kakaknya
__ADS_1
Anggia melongo mendengar kata-kata sang adik "kenapa kamu nggak jujur sama Alvaro dari awal, sekarang tante Sonia ibunya lagi bikin rencana buat kasih tahu Alvaro kalau kamu tuh udah nikah sama ayahnya aku juga ini denger-denger sedikit sih waktu itu, tapi aku nggak tahu rencana sebenarnya tuh seperti apa tapi Tante Sonia juga pergi ke sana buat nemuin Alvaro kayaknya dia mau bicara itu deh kamu harus hati-hati, tante Sonia itu mau hancurin kamu"
Sani diam cukup lama jadi selama ini ibunya Alvaro terus ingin menghancurkan rumah tangganya dan juga rumah tangga ayahnya Alvaro, dirinya harus berbicara pada suaminya "terus kamu dapat info apalagi emang kamu tinggal sama tante Sonia ya"
"Iya aku tinggal sama dia yang nolongin aku waktu itu sama ibu ya dia, yang waktu itu aku ceritain orang yang ambil uang aku dan ibu itu dia juga aku sih cuma denger sedikit kayak gitu aja, ya kata-kata mau hancurin kamu, mereka ingin pisahin kalian berdua kamu harus hati-hati sama mereka"
"Ya udah deh nanti aku akan bicara sama suamiku, makasih ya atas informasinya sangat-sangat membantu aku banget"
"Iya San tenang aja aku pasti akan selalu bantu kamu kok"
"Hayo apaan nih bisik-bisik"
Anggia sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah sang adik, lalu menatap orang yang datang tadi, laki-laki yang bernama Arzan itu duduk di samping adiknya dan menatap Anggia dengan intens. Anggia yang ditatap seperti itu tidak nyaman lalu bertanya pada laki-laki itu.
"Ada apa kenapa kau menatapku seperti itu"
"Tidak ya aku baru melihatmu secara dekat maksudku baru mengobrol lagi setelah kejadian waktu itu, yang Sani pergi ke rumahnya dan bertemu dengan ayahnya kau benar-benar sudah berubah kan kau sedang tidak merencanakan sesuatu kan untuk mencelakai Sani"
"Bukan gitu San aku tuh dapat sebuah tugas dari Alvaro kalau aku tuh harus selalu jaga kamu, aku tuh cuma tanya aja kok sama Anggia kalau dia nggak merasa dia nggak akan tersinggung"
"Tenang aja aku nggak akan pernah lukain Sani lagi, aku juga udah tahu kelakuan aku itu udah sangat fatal banget dan buat kalian semua nggak percaya lagi padaku, tapi aku akan buktikan semuanya kalau aku sudah berubah dan aku tidak akan pernah melukai adikku lagi Sani"
Arzan menatap Sani, lalu menatap Anggia "ya udah buktiin aja kata-kata kamu Anggia baru aku percaya sama kamu, tugasku di sini agak berat sih, aku harus melaporkan setiap kegiatan sehari hariku pada Alvaro yang kadang-kadang posesif"
Anggia menatap Sani dan tersenyum kecil, lalu makanan datang, dan Sani langsung mengosongkannya pada Anggia "kamu makan dulu yang Anggi, bentar lagi kan masuk kelas kamu harus semangat belajarnya harus makan dulu, nggak boleh nggak makan nanti kalau lemas gimana"
"Kamu ngambil jurusan apa Anggi"
"Aku ambil jurusan bisnis"
__ADS_1
"Sama dong apa kelas kita juga sama sekarang" tanya Arzan
"Mungkin aja sama"
"Ya udah nanti kamu temenin Anggia ya Zan. Aku titip dia soalnya dia kan baru masuk sekarang ya takutnya ada yang jahil atau gimana"
"Iya Ibu designer tenang aja ini misah sendiri malah ambil jurusan fashion"
"Ya nggak apa-apa dong kan terserah kita mau ambil jurusan apa yang terpenting itu kemauan kita kan dan Anggia itu dari dulu emang mau jurusannya bisnis, jadi cocok kan siapa tahu nanti Anggia punya suatu bisnis terus jadi pengusaha. Kita kan nggak pernah tahu ke depannya kita akan seperti apa"
"Iya juga ya, yaudah Anggia makan dulu aja "
Anggia mengangguk dan segera menyantap makanannya, sedangkan Arzan membalikan badannya dan berhadap hadapan dengan Sani.
"San makin sini kamu makin cantik sih apa rahasianya"
"Kenapa memangnya kamu mau perawatan juga kamu pengen jadi cewek gitu"
"Ya bukan gitu ya nanya aja apa rahasianya bisa makin cantik gini "
"rahasianya berdoa "
"Yang bener ih nanya bener-bener nih"
"Ya apalagi kalau bukan skin care perawatan itu aja sih Zan, kenapa jadi kepo kamu mau perawatan kamu mau pakai skin care juga bukannya dari dulu juga kamu pakai skin care kan"
"Oalah itu toh ya aku kira ada yang lain gitu siapa tahu aku bisa coba-coba"
"Kamu mau jadi banci gitu
__ADS_1
Arzan malah mengusap wajah Sani dan tertawa saat melihat ekspresi Sani yang merenggut kesal, namun lucu dan menggemaskan.