Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Malah dibaperin


__ADS_3

"Beneran kamu gak mau jalan jalan dulu gitu "


Sani langsung mengelengkan kepalanya "aku mau pulang aja, Makasih ya Zan kamu udah mau anterin aku pulang. Makasih juga buat semua bantuan kamu tadi dan akhirnya aku bisa ketemu juga sama ayah aku makasih ya"


"Sam sama San gak usah sungkan sama aku mah, kalau ada apa apa kamu bilang ya San, aku pasti akan bantu kamu "


"Iya Zan makasih "


Sani langsung keluar dari dalam mobil, dan mobil Arzan langsung melaju pergi dan tanpa Sani sadari ada yang mengikutinya, tiba tiba saja mengandeng tangannya.


Sani segera melihat kearah sampingnya "om mau apa "


"Makan "


"Hari ini libur dulu ya om, saya lagi gak mood masak "


"Biarin aja, saya mau makan "


Sani melepaskan gandengan tangan Sani dan membuka pintu, ibu ibu yang tadi melihat mereka berdua berbisik bisik kembali, dan Sena yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya dan menatap para ibu ibu itu.


Akhirnya karena ditatap terus oleh Sena mereka berlari dan masuk kerumah mereka masing masing, Sena langsung masuk dan menutup pintunya.


"Kamu kemana, pagi pagi sama Arzan "


"Pergi kerumah ayah "


"Terus "


"Yaudah gitu deh ketemu"

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu malah murung bukannya sudah ketemu dengan ayah kamu "


Tiba tiba saja Sani menutup wajahnya dan menagis, Sena yang akan mengambil piring tak jadi dan langsung duduk disamping Sani.


"Hey hey kenapa nangis, apa ibu tiri kamu nyakitin kamu, atau kakak kamu "


Sani mengelengkan kepalanya "lalu kamu kenapa "


"Ayah gak mau ikut sama saya dia malah mau bertahan sama ibu. Padahal saya mau ngurus ayah tapi karena keteledoran saya yang tiba-tiba aja pergi dari rumah akhirnya kayak gini kan Ibu gak mau terima lagi saya untuk tinggal di rumah itu, dan satu-satunya cara yaitu dengan cara membuat ayah saya pergi bersama saya, tapo dia sama sekali tidak mau Om dia tidak mau, dia mau tetap tinggal di sana bersama ibu dan ayah apakah ayah tak menyayangiku"


"Dengarkan saya banyak pertimbangan yang harus ayahmu ambil di satu sisi dia seorang ayah, di satu sisi dia seorang suami dia harus memilih antara itu dia tidak bisa tiba-tiba saja pergi meninggalkan istri dan anaknya yang ada di sana, dia punya tanggung jawab yang besar sebagai suami jadi dia tidak mungkin pergi begitu saja Sani. Kamu harus ingat ayah kamu itu mempunyai istri bukannya dia tidak menyayangimu tapi dia sedang mempertimbangkan harus seperti apa dia, dia sebagai kepala rumah tangga seharusnya bisa mengatur semuanya. Makanya kamu jangan sedih dan menyalahkan diri kamu sendiri ataupun menyalahkan Ayah kamu sendiri, karena dia harus banyak pertimbangan banyak yang harus dia pikirkan"


Sena segera membuka tangan Sani, dan terlihatlah wajah Sani yang merah dan masih mengeluarkan air matanya "tak usah menangis, sekarang jika kau ada di posisi ayah mu juga pasti akan sulit, akan memilih yang mana, jika kau memang ingin mengurus ayah mu, makan kau sering seringlah kesana, saya tau ibu kamu tak akan menerima tapi kamu harus berani dan kamu berhak untuk bertemu dengan ayah kamu, jadi tak usah menangis lagi ya "


Sani menganggukan kepalanya "hemm apa yang bisa membuat mu tersenyum ya "


Sani malah mengelengkan kepalanya, Sani langsung mengangkat tangannya dan langsung mengelitiki Sani "akhh om geli om., geli oh hahahhaa geli om "


"Sudah tak sedih lagi kan "


"Sedikit "


"Baguslah, saya tak suka jika kamu menangis " sambil menatap Sani dengan intens dan mengelus pipi Sani.


Dan Sani yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja dan memejamkan kedua bola matanya, menikmati elusan dari Sena, namun tiba tiba saja berhenti Sani langsung membuka bola matanya, pertama yang dia lihat adalah wajah Sena yang tampan.


Sani tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria dewasa ini, wajahnya yang tampan dan tak pernah terlihat kalau Sena sudah mempunyai anak, "San kamu baik baik saja "


Sani langsung mengalihkan pandangannya dan menatap kearah lain "iya om aku baik baik saja, aku kekamar mandi dulu ya "

__ADS_1


"Baiklah "


Setelah kepergian Sani, Sena tersenyum akhirnya Sani mulai melihatnya dan tak terlalu acuh seperti dulu. Sena langsung kembali lagi kedapur, mengalihkan makanannya yang dia bawa tadi dan menyajikannya di meja makan.


Sani yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan dahinya "om masak "


"Tidaklah aku membelinya, ayo cepat makan San, aku tau kau belum makan ayo makan "


Sani hanya mengangguk saja dan duduk disamping Sani, lalu mereka segera makan dan tak ada pembicaraan lagi hanya fokus dengan makan masing masing.


Namun tiba tiba saja Sena mengusap samping bibir Sani, Sani yang sedang mengunyah makannya langsung berhenti dan menyusut bibirnya.


"Ada nasi tadi "


Sani hanya mengangguk sambil meminum air putihnya "kenapa kau seperti gugup "tanya Sena.


Sani yang sedang minum hampir saja menyemburkan airnya, dia lalu mengelengkan kepalanya "aku tidak gugup om, mungkin itu hanya perasaan om saja deh, aku rasa aku dari tadi biasa biasa saja dan tak merasa gugup sedikit pun om "


"Yakin, apakah kau yakin "


"Iya yakin, aku yakin om, untuk apa aku berbohong coba, yasudah om ayo kita makan lagi "


Sani langsung memakan makanannya, sambil sesekali melihat kearah lain, tak mau melihat kearah Sena yang penuh dengan godaan.


Mana ada yang tak tergoda dengan seorang pria tampan ada di sampingmu dan sangat perhatian sekali ya meskipun dia sudah lebih dewasa dari ku, ya tetep aja dong namanya juga remaja apa lagi selalu diperhatikan ya bakalan baper.


Jadi untuk menghalangi semua itu dirinya tidak mau melihat om Sena, karena kalau terus menatap om Sena malah makin baper kan nanti, bisa habis sama Alvaro dirinya.


Jangan sampai jangan sampai dirinya menyimpan sebuah rasa pada om Sena anggap saja kalau om Sena itu adalah temannya, saudaranya atau ayahnya gitu, ya lebih baik seperti itu jangan pernah ada rasa di antara mereka.

__ADS_1


Jangan sampai karena tak akan pernah ada yang setuju jika dirinya bersama om Sena ya dirinya juga tidak berharap kalau dirinya akan bersama Om Sena.


Mana mungkin om Sena menyukai dirinya seorang anak kecil seperti ini, yang masih sekolah dan bau kencur dia pasti lebih bisa mencari perempuan yang lebih dari diriny, bahkan lebih cantik lebih seksi dan lebih dewasa tidak akan pernah mungkin memilih dirinya yang hanya anak berumur 17 tahun dan masih labil.


__ADS_2