
Sena keluar dari gang rumah Sani dengan lunglai, entalahlah apakah tindakannya tadi benar atau tidak, dirinya begitu murung hari ini, Sena menyetop taksi dan memberikan alamatnya pada supir itu.
Dan kembali selama perjalan dirinya masih melamun saja, namun dirinya dikagetkan dengan dering ponselnya "halo Fatimah ada apa, apa ada sesuatu yang terjadi "
"Semuanya baik-baik saja Tuan dan kita mendapatkan kontrak itu. Namun kita harus pergi ke Swiss untuk kembali meeting dengan petingginya, mereka tidak bisa datang kemari bagaimana "
"Ya sudah nanti setelah kau pulang dari sana kau pesan tiket ke Swiss kita akan pergi ke sana, "
"Baiklah tuan "
Sena langsung mematikan ponselnya dan ternyata sudah sampai rumahnya, Sena langsung membayar dan langsung masuk kedalam rumah.
Kebetulan pula dengan sang anak yang baru datang "papih, papih sudah pulang, lalu mobil papih dimana "
"Papih pulang duluan menggunakan taksi"
"Papih nggak salah pulang dari sana naik taksi. Apa lagi aku lihat lagi ada badai kan di sana. Sebenarnya ada apa papih sampai-sampai papih harus pulang naik taksi ke sini"
Sena melihat ke arah anaknya dan menepuk bahunya "papih hanya ingin bertemu denganmu saja, rasanya kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama ayo kita masuk dan menghabiskan waktu bersama sama "
"Yakin hanya karena itu saja Pih, bukan karena Sani sedang sakit kan papih pulang "
"Memangnya Sani sakit apa" Sena berpura bura tidak tau agar anaknya tak curigakan
"Tidak ada, udah yu pih kita masuk ayo "
__ADS_1
Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah dengan Alvaro yang merangkul sang ayah, mereka ya seperti saudara bukan seperti ayah dan anak.
**
Mereka berdua sekarang sedang ada di taman dan meminum teh "papih kenapa mantan istri Papih bisa kembali lagi ke sini, kenapa dia bisa kembali lagi "
"Papih juga tidak tahu kenapa, apakah kau ingin bertemu dengannya"
"Tidak aku sama sekali tidak mau bertemu dengannya, hanya menanyakan saja siapa tahu Papih yang menghubunginya"
"Mana mungkin papih menghubunginya untuk apa, kalau Papih punya nomornya mungkin dari dulu Papih sudah menelponnya dan menanyakan kenapa dia bisa pergi dari Papih begitu saja tanpa kabar sedikitpun"
"Hemm ya juga ya pih semoga saja dia tidak menghancurkan keharmonisan keluarga kita ya Pih, karena aku sampai kapanpun tidak akan mau dan tak akan pernah siap untuk menerimanya"
"Kalau misalnya papih menikah lagi, apakah kau akan merestuinya"
"Kenapa selalu itu alasannya, kenapa kau tidak mau Papih menikah dengan Sani, apa alasannya kau masih sangat membencinya"
"Tidak bahkan sekarang aku sudah berteman dengannya, aku ingin mencoba saja berteman dengannya dan tidak kembali membencinya ya mungkin masih agak sulit sih untuk menghilangkan kebencian itu, tapi aku sadar Sani tidak salah dia tidak punya salah apa-apa padaku, tapi kenapa aku bisa membencinya jadi lebih baik aku berdamai saja dengannya, tapi untuk Papih menikah dengan Sani aku tidak mau, aku tidak akan siap menerima itu semua aku takut Suni hanya akan menguasai harta papih saja dan aku juga takut kejadian seperti mantan istri Papih terulang lagi"
"Hanya itu alasannya bukan karena umur kah "
"Yah karena itu saja aku tidak mau papih menikah dengan perempuan yang lebih muda dari Papih, bahkan seumuran denganku. Aku tidak akan siap menerimanya dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah siap pih. Jadi jika memang Papih menyukai Sani dari sekarang saja Papih untuk menyingkirkan rasa suka itu karena Alvaro sampai kapanpun tidak akan mau dan tak akan pernah menerima semuanya"
"Kamu bisa berdamai dengan Sani tapi tidak bisa menerima, jika suatu saat papi bisa menyukai Sani bagaimana "
__ADS_1
"Memangnya Papih menyukai Sani ya "
"Entahlah papih tidak tahu rasanya sudah lama papih tidak merasakan yang seperti itu "bohong Sena kembali karena dirinya tidak mau anaknya kembali membenci Sani, tadi dia berkata kalau mereka sudah akur jadi biarkan seperti ini saja biarkan alur berjalan dan bagaimana nanti takdirnya, takdir mereka bertiga dan apa yang akan terjadi.
Dan mereka akhirnya tidak saling bicara lagi hanya saling diam saja dan tak ada lagi pembicaraan hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
**
Sani yang masih sedih bertemu dengan Sena dan hanya datang untuk menciumnya saja menelungkupkan kepalanya, namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya dengan kaki yang masih pincang Sani membuka pintunya dan ternyata itu adalah bosnya dulu saat kerja di cafe yang dirinya dipecat oleh manajernya itu.
"Bapak ayo silakan masuk Pak"
"Tidak usah Sani. Saya hanya ingin menengok kamu saja dan saya juga bingung mau telepon kamu ke mana gitu. Saya butuh kamu jadi pelayan lagi di cafe saya gimana kamu mau nggak saya suka sama kerja kamu yang bagus banget. Gimana kamu mau nggak"
"Beneran Bapak mau masukin saya lagi ke cafe Bapak, beneran kan Pak ini Nggak bohong kan"
" Emangnya muka saya kelihatan bohong ya, saya beneran kok kamu mau kan balik lagi ke sana. Tenang saja seperti dulu kamu pulang sekolah langsung ke cafe gimana"
"Baik Pak saya terima tawaran kerjanya. Sungguh saya sangat membutuhkan kerja terima kasih ya Pak anda sudah jauh-jauh datang kemari dan meminta saya untuk bekerja lagi, mohon maaf Pak kalau saya boleh tahu bapak tahu saya tinggal di sini dari siapa"
"Kamu tidak usah tahu saya tahu alamat kamu dari mana, yang terpenting kamu besok atau setelah kaki kamu sembuh kamu boleh kerja lagi ke cafe ya, seperti biasa jamnya, nanti kamu ke ruangan saya saja dulu untuk mengambil seragam baru kamu ya, ini saya bawakan buah-buahan untuk kamu semoga cepat sembuh ya San saya tunggu loh"
"Makasih pak atas bingkisannya. Makasih juga buat kerjaannya"
"Iya sama-sama saya pamit dulu permisi"
__ADS_1
Sani mengganggu dan sangat senang dia memeluk buah-buahan itu"ya ampun akhirnya aku tanpa pusing-pusing lagi cari kerja aku udah diterima lagi di sana, tapi siapa ya apakah Om Sena yang ngelakuin ini, karena dulu aja manajer yang dulu kan om Sena yang pecat. tapi masa sih Om Sena yang ngelakuin. Emang dia masih peduli gitu sama aku nggak deh nggak mungkin ini nggak mungkin kelakuan Om Sena lebih baik masuk aja deh "