Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Melepaskan


__ADS_3

Selama perjalan kerumah Sani, Sena hanya diam saja tak banyak bicara dan saat anaknya bertanya hanya menanggapinya dengan deheman saja atau dengan kata kata singkatnya.


Saat Sena sampai berbarengan dengan Sani juga yang darang, Sena memang Sani. lalu memutuskan kembali kontak mata mereka, Sena langsung mengambil alih mendorong kursi roda Sani.


Masuk kedalam gang gang kecil, selama jalan masuk gang tak henti hentinya Alvaro mengerutu dan menutup hidungnya, bahkan saat ada orang yang berpapasan dengannnya Alvaro dengan cepat menjauh.


"Sani kau akhrinya sampai, ayo nak masuk. ayo nak Sena masuk masuk ayo semuanya masuk " ucap ayah Sani.


Mereka semua masuk, kecuali Alvaro dia masih diam diluar tak mau masuk, "sebentar biar saya panggil dulu anak saya "


"Baik nak Sena "


Anggia memelotkan matanya dan saling pandang bersama ibunya, mereka tak menyangkan itu anak Sena, mengapa laki laki setampam Sena sudah mempunyai anak sebesar itu.


"Bu apa tak salah "bisik Anggia pada ibunya


"Ibu tidak percaya, padahal wajah Sena itu sangat muda dan mana bisa mempunyai anak , apalagi anaknya sepertinya seumuran dengan Sani "


"Benar bu "


Sena mengampirinya anaknya dan memegang bahunya "ayo masuk, apakah kau akan diam disini terus "


"Tidak pih, apakah papih yakin menyuruh aku masuk kedalam rumah yang mirip dengan kandang ayam, tidak tidak aku tidak mau "


"Alvaro papih sudah bilang jangan menghina orang lain, ayo katanya kau akan menunjukan kalau dirimu akan berubah pada papih, ayo buktikan "


"Tapi tak seperti ini diperjanjian hanya meminta maaf pih, kenapa tak bawa saja mereka kerumah kita, lalu kembalikan lagi kerumah ini, yang tak ada bentuknya "


"Cepat masuk Alvaro sebelum papih mengubah semua keputan papih "


Alvaro dengan kesal membuka sepatunya dan masuk kedalam, tanpa menyalami ayah Sani dia langsung duduk dan menengok kanan kiri.


Sena langsung masuk juga dan duduk didekat anaknya "ayo minum dulu " ucap ibunya Sani.


Sena dan Fatimah langsung meminumnya namun seperti biasa Alvaro sama sekali tak mau, namu. Sena langsung menyenggolnya mau tidak mau dirinya harus meminumnya.

__ADS_1


"Terimaksih nak Sena sudah mengantarkan Sani kemari dan juga membiayayai seluruh, entahlah bapak harus berkata apa lagi "


"Seharusnya saya yang meminta maaf pada keluarga bapak, "


"Maksudnya tuan Sena "


Sena langsung menyenggol bahu anaknya, "maaf om saya Alvaro, saya yang waktu itu menabrak Sani, saya minta maaf, saya tidak sengaja dan saya kemari dengan papih saya karena ingin minta maaf pada Sani, tolong maafkan saya " dengan wajah datarnya.


"Apa jadi kamu yang telah menabrak Sani, lalu kamu kemana saja, kemana kau saat Sani terkapar dijalanan kenapa kau tak menolongnya dan malah kabur begitu saja kemana kau, kenapa melakukan itu, jika papih mu tak ada mungkin Sani akan mati, kenapa kau sangat jahat "


"Bu sudah bu sudah jangan seperti itu, nak Alvaro sudah minta maafkan sudah jangan begitu, Sani sudah baik baik sajakan dia sudah pulang kerumah jadi tak usah ada yang dipermasalahkan lagi, sudah bu, nak Sena juga sudah baik kan membiyayai semuanya "


"Iya karena dia salah, makannya dia mau membiyayai Sani, karena dia menangung semua kesalah anaknya, kenapa tuan kau menyembunyikan kesalahan anakmu selama ini kenapa "


"Aku bukan menyembunyikannya aku hanya ingin langsung sepertinya ini dibicarakan secara kekeluargaan Alvaro juga sudah di penjara dan saya meminta kebaikan hati anda sekeluarga untuk memaafkan anak saya Alvaro, "


"Tetap saja tuan "


"Sudah diam bu, maafkan istri saya nak Sena kami sekeluarga memaafkan Alvaro tapi untuk kedepannya jangan sampai lari dari masalah hadapi semuanya "


"Iya pak saya akan lebih memperketat pergaulan anak saya dan juga yang lainnya, saya akan mengajarkan semuanya, kami semua pamit dulu pulang pak bu "


"Maaf tuan Sena bukannya saya menolak, tapi dengan anda yang sudah menyelamatkan anak saya dan membiyayai semuanya itu sudah cukup, sudah jangan memberikan kami apa apa lagi, sudah cukup tuan cukup "


"Tidak pak tolong diterima "


" Tidak nak Sena jangan "


Sena tak punya pilihan dia memasukan kembali uangnya dan menyalimi tamgan ayahnya Sani "Terimakasih pak atas kebaikan bapak pada anak saya, "


"Iya nak Sena "


"Saya pamir pulang "


"Hati hati nak Sena "

__ADS_1


Sena menatap Sani yang memandangnya juga, perlahan Sena pergi namun tatapannya masih terarah pada Sani, Alvaro yang melihatnya segera menarik sang papih.


Setelah mereka semua pergi ibu tirinya Sani langsung menghampiri suamimya "apa apaan ayah ini, dikasih uang tidak mau, ayah ini gimana sih, harusnya terima bukannya kayak orang kaya aya nolak uang itu, kita butuh uang, liat Sani sama kayak kamu pake kursi roda terus siapa yang akan bekerja siapa ayah siapa, kau ini ya menyebalkan sekali tak tau diri, udah tau orang miskin tapi malah kayak gitu ahh "


"Bener ayah itu gimana sih, Anggia butuh barang barang baru, kenapa harus ditolak sih, terus Anggia bekel sekolah gimana ayah, gimana ih nyebelin deh "


Anggia dan ibunya langsung masuk kamar "ayah jangan sedih ya nanti Sani bakal coba cari kerja lagi "


"Kamu belum sembuh nak, jangan diam saja dirumah"


"Lalu kita akan makan apa yah kalau Sani tak kerja, kita tak punya uang lagi yah, Sani baik baik saja, Sani kekamar dulu ya, ayah segeralah istirahat "


Sani langsung masuk kedalam kamarnya menutup pintunya dengan perlahan.


"Aku tak ada gunanya " gumam ayahnya Sani.


**


Selama perjalan pulang Sani tak fokus dia tadi hampir saja menabrak seseoranh untung saja Alvaro membanting setirnya.


"Sudah biar aku saja yang menyetir sepertinya papih tak fokus karena Sani kan, sudah biar aku saja yang menyetir aku tidak mau sampai terjadi apa apa "


Tanpa banyak bicara Sena langsung keluar bergantian dengan anaknya, lalu Sena diam dikursi penumpang.


"Sebenarnya ada apa dengan papih, kenapa papih tak fokus tak seperti biasannya papih seperti ini "


"Tidak papih baik baik saja, papih hanya kecapean saja "


"Ya gimana gak kecapean papih jaga terus Sani, papih harusnya gak usah seperhatian itu sama Sani, biasa biasa aja pih, kenapa gak suruh Fatimah aja yang jaga "


"Tidak bukan karena itu papih kecapean, papih lagi banyak kerjaan"


"Yaudah papih istirahat ya udah pulang dari sini gak usah kerja dulu, kan banyak karyawan papih "


"Ya tetap saja papih harus ada kau ini bagaimana sih "

__ADS_1


"Hemm selalu saja begitu "


Hening tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua.


__ADS_2