
Sena masih diam saja dipojokan dia tak habis fikir dengan om Sena yang berani seperti ini.
"Kemari San, kenapa kau diam saja, kemarilah "
Sani segera berjalan perlahan dan menghampiri Sena yang sedang mengambil daging daging dilemari esnya.
"Kenapa om melakukan ini "
"Melakukan apa, memangnya saya melakukan apa "
"Ya kenapa om malah mengajak ku, kenapa tiba tiba ingin memasak "
"Karena saya ingin makan sayur dan kamu yang buat"
"Hah kenapa sih om harus sekarang nanti aja kali "
"Kenapa harus nanti sekarang aja, kamu kan ada disini, yaudah sekarang aja , ayo cepat potong potong wortel brokoli dan sayuran yang lain "
Sani mengambil pisaunya dan segera membersihkan wortel setelahnya memotongnya, namun tiba tiba saja Sena ada dibelakangnya dan membenarkan Sani memegang pisau "seperti ini kalau pegang pisau "
Sani mendongakan kepalanya dan saling tatap, dia tak sadar telah mengiris tangannya "aww "
Sena yang kaget segera melihat kearah tangan Sani, mengambil tangan yang berdarah itu dan segera mengulumnya, dengan tatapan yang saling pandang.
Setelah darahnya tak keluar lagi segera Sena melepaskan tangan Sani "kamu ini kenapa teledor sih, hati hati dong kalau apa apa, matanya fokus "
"Ini juga gara-gara om kalau om gak benerin pisau ditangan aku gak akan kayak gini "
"Lahh yaudah kamu duduk saja lihat saya memasak ya, diam disini jangan kemana mana "
Sena mengambil kursi dan segera mendudukan Sani, Sena langsung memotong motong sayuran dan juga dagingnya. Lalu melakukan hal yang lainnya.
Sani hanya diam saja menatap kelihayana Sena memasak, dia bisa memasak lalu kenapa menyuruh aku memasakan makanan untuknya, kalau begini dia saja yang memasak sendiri untuk dirinya sendiri tak usah repot repot datang ke kosan ku dan aku memasak
Saat Sani sedang asyik asyiknya melamun ada sebuah sendok yang mengatung dengan kuah sayur yang wangi "buka mulut mu, kenapa kau malah melamun saja "
"Ahh kenapa om "
"Cobalah "
Sani segera meniupnya "tak usah di tiup sayang, langsung kau coba aku sudah meniupnya "
Sani dengan patuh segera mencicipinya "bagaimana rasannya apakah enak "emm iya enak kok om, lalu untuk apa om selalu datang kekosan ku hanya untuk makan saja, sedangkan om bisa masak "
"Ya meskipun aku bisa masak tetap saja aku ingin merasakan dipasakan oleh seorang perempuan, saya ini udah lama menjadi duda jadi ingin mencicipi bagaimana rasanya ada yang memaksakan untuk saya, hanya untuk saya tidak untuk yang lain "
Sena kembali lagi memotong motong sesuatu dan kembali fokus kembali, Sani yang jenuh membawa kursinya kearah meja makan dan membaringkan kepalanya, tak terasa dirinya malah tertidur.
__ADS_1
**
"Zan kamu gimana udah beres kerjain punya kamu "
"Udah nih Mir, aku udah selesai gimana kamu dan yang lainnya "
Mira segera melihat kearah dua buka teman temannya, dia mengelengkan kepalanya "belum kita belum selesai "
"Boleh gak gue duluan, "
"Emangnya kamu mau kemana sih Zan kok buru buru banget, "
"Gak kok cuman mau jemput Sani aja, boleh ya "
Mereka segera mengangguk dan Mira menekuk wajahnya lalu kembali fokus pada tugasnnya yang sudah di bagi bagikan dari tadi.
**
Sena segera menata masakannya, dia melihat Sani tertidur, hanya membiarkannya saja, setelah semuanya selesai Sena langsung berjongkok dan mengusap wajah Sani.
"San bangun San, apakah kamu akan tidur terus menerus "
Sani segera bangun dengan wajah yang masih mengantuk "udah sana cucu muka kamu "
Sena mengangguk dan segera berjalan kearah kamar mandi terdekat, mencuci wajahnya dan melihat dirinya dalam cermin.
Mau tak mau Sani berhadapan dengan Alvaro dan bersebelahan dengan ayahnya juga.
"Yasudah ayo makan, "
"Siap omm " ucap Rizki dengan semangat.
Mereka bergantian mengambil nasi dan lau pauk yang sudah Sena sediakan, namun baru juga mereka menyuapkan makannya kedalam mulut ada yang datang.
"Maaf tuan saya datang dan masuk langsung kedalam rumah, ada beberapa dokumen yang harus tuan tandatangani, saya sudah mencoba menghubungi tuan namun tak bisa "
"Baik kau simpan saja diruang kerjaku yang biasa, nanti aku akan memeriksanya setelah makan, apakah kau akan bergabung "
Fatimah melihat kesekitar dan melihat ada Rizki yang sedang menatapnya " sini Kak Fatimah makan dong bareng-bareng enak loh masakannya Om Sena sama Sani mantap banget aku pasti bekel ke rumah nih buat nanti di rumah ayo cepetan gabung sini"
"Gak apa apa kan om "
"Gak apa apa bawa aja sama kamu "
"Makasih om "
"Tidak tuan saya baru saja makan terima kasih atas tawaran nya, saya akan menyimpan berkas ini di ruangan tuan, sambil menunggu tuan beres makan"
__ADS_1
"Baiklah silahkan "
Fatimah mengangguk dan segera berjalan kearah lantai dua, Bella langsung menepuk bahu Rizki "yang sabar ya, makannya cari yang seumuran "
"Diem ah Bell "
"Sudah sudah kalian makan lagi ayo cepat habiskan "
"Baik omm"
**
Arzan yang sudah ada diluar rumah menunggu Sani, dia tak akan masuk biarkan menunggu saja disini, sambil mengistirahatkan badannya, tadi macet parah.
Pasti belum pulang Sani, karena dirinya masih melihat sepatu Sani ada disana. Arzan segera mengeluarkan ponselnya untuk memberi pesan pada Sani.
San San 😘
San aku sudah ada diluar rumah, apakah kau sudah selesai kerja kelompoknya, atau masih ada yang dikerjakan "
Arzan diam saja menunggu balasan dari Sani namun tidak ada balasan juga, akhrinya Arzan menyimpan ponselnya dan menunggu saja disini didalam mobil.
**
Sani segera membuka ponselnya ternyata dari Arzan, Sani membuka pesan itu.
Arzan.
Aku baru selesai makan Zan sebentar lagi aku pualng aku pamitan dulu ya, apakah kamu sudah lama tunggu aku, maaf ya kalau kamu malah jadi tunggu aku.
"Wah ponsel baru nih " ucap Bell yang tak sengaja melihat
"Engga kok udah lama, aku pamit pulang duluan ya "
"Yaudah sana pulang saja " ucap Bella
Sani segera mengendong tasnya, keluar dari dalam rumah, mau pamotan sama om Sena juga susah karena tadi setelah makam om Sena langsung pergi, jadi yasudahlah kasian Arzan menunggunya dari tadi tak enak kan.
Sani segera mengetuk pintu mobil Arzan, Arzan yang sedang tiduran langsung terbangun dan membuka pintunya.
"Maaf ya aku lama Zan, kamu dari tadi sampai ketiduran kayak gitu "
"Engga kok aku baru aja , gak lama kok kamu tenang aja ya jangan kayak gitu dong merasa bersalah "
"Ya takutnya kamu udah nunggu lama "
"Gak kok San "
__ADS_1
Arzan segera menjalan mobilnya