
Mira sudah ada di kampus Arzan pagi-pagi sekali dia menunggu Arzan di kantin, siapa tahu Arzan akan makan dulu sebelum masuk ke kelasnya dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu Arzan pasti dia akan sangat tampan sangat tampan sekali sampai-sampai dirinya tidak akan menyangka kalau itu adalah Arzan.
Dan benar Mira melihat Arzan tapi dengan seorang perempuan siapa itu bukannya itu Anggia kakaknya Sani kenapa dia ada disini, kenapa tiba tiba dia ada disini, apa mereka satu perkuliahan.
Mira terus saja melihat gerak gerik mereka, dan dari penglihatannya Arzan terus saja menatap Anggia dan menggodanya terus apa ini sebenarnya jangan sampai Arzan pacaran dengan Anggia yang tak tahu diri itu.
Mira berpindah tempat duduk agar lebih bisa leluasa mendengar kata kata yang akan keluar dari mulut mereka berdua, apa yang akan mereka bicarakan.
"Sekarang kau shift siang atau malam sayang"
Sayang Mira kaget mendengar Arzan berkata sayang pada Anggia apa apaan ini, kenapa sayang ada apa ini sayang apa ini maksudnya apa.
"Aku shift malam sih Zan maaf ya aku nggak bisa temenin kamu buat ke rumah sakit lagi"
"Iya gak apa apa sayang, nanti aku jemput ya kamu pulangnya jangan pulang sendiri kamu pasti akan pulang jam 12.00 malam kan biar aku jemput ya"
"Nggak usah Zan aku pulang aja sendiri kan dekat dari tempat kerja aku ke rumah, aku nggak papa kok pulang sendiri kamu lebih baik tunggu aja Rizki di rumah sakit, kasihan dia sendiri orang tuanya kan lagi dinas kerja nggak ada yang jagain"
"Nggak apa-apa aku sebentar anterin kamu aja, terus nanti aku balik lagi ke rumah sakit aku nggak bisa biarin kamu pulang sendiri malam-malam kalau misalnya masih jam 06.00 sore itu nggak masalah buat aku. Tapi ini jam 12.00 malam pasti banyak laki-laki yang baru keliaran dan yang mabok-mabuk kayak gitu aku nggak mau deh kalau sampai terjadi apa apa sama kamu, kamu tenang aja aku nggak merasa repot kok dengan aku yang pulang pergi rumah kamu ke rumah sakit itu nggak apa-apa yang terpenting kamu selamat dan nggak terjadi apa-apa sama kamu ya, sekarang tuh kejahatan lagi besar-besarnya aku nggak mau kamu jadi korban"
__ADS_1
"Baiklah terimakasih Zan "
"Kenapa harus berterima kasih segala aku ini pacarmu, jadi kau tidak usah sungkan seperti itu ya kau tidak boleh seperti itu"
Anggia tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu Arzan mengusap kepala Anggia dan menarik tangannya keluar dari kantin mereka tak pesan apa apa hanya mengobrol saja dan Mira yang dari tadi mendengarkan semua itu hanya diam.
Mira menahan emosinya agar tak menjambaknya rambut Anggia yang ada didepannya " apakah secepat itu Arzan membuka hati hanya untuk perempuan itu, lalu kenapa saat untuk diriku Arzan tidak bisa membuka hatinya sepenuhnya bahkan untuk bisa menerima aku menjadi temannya saja susah, tapi ini dengan Anggia yang jelas-jelas dia bukan orang baik tapi dia bisa menerimanya dengan cepat apa sebenarnya kekurangan aku ini, sampai-sampai Arzan harus memilih dia Anggia kakaknya Sani apa karena dia kakaknya Sani makannya Arzan mau dan menyamakannya, akhhh kenapa aku harus ke Jepang kalau saja tak ke Jepang mungkin semua ini tidak akan terjadi "
Mira mengambil tasnya dan pergi dengan raut wajah yang marah dan kesal, awas saja Anggia akan habis ditangannya Anggia tak akan pernah lepas darinya Anggia akan mati ditangan nya awas ya dirinya tak akan pernah main main.
***
Alvaro membuka pintu kamar Rizki dan melihat Bella ada disana sedang berbincang dengan Rizki.
Bella menatap kearah orang yang bertanya padannya " maksudnya Al "
"Ya kamu kenapa harus nikah sama laki-laki yang udah pernah nyakitin kamu, emangnya kamu nggak kapok ya nikah sama dia aku udah bilang kan aku akan berjuang buat dapetin kamu, aku udah bilang kamu hanya perlu nunggu aku lalu kenapa kamu tiba-tiba terima pinangan dia apa karena anak ini apa karena kamu takut tidak ada yang memberi makan anak kamu atau tidak ada yang mengusahakan dirimu "
Bella diam saja lalu keluar dari ruangan Rizki " ayo keluar kita bicara diluar sana tak enak Rizki sedang sakit"
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi Alvaro mengikuti langkah Bella mereka berhenti di taman dan saling tatap.
"Udah aku bilang kan Al, kita itu nggak akan pernah bisa kembali lagi kita itu nggak akan pernah bisa sama-sama lagi kamu dan aku udah beda kita nggak ada sama, lebih baik kamu jalanin aja hidup kamu lupain aku, aku aja bisa kan lupain kamu. Bukannya kamu yang dulu putusin aku hah bukannya kamu kan yang udah lepasin aku sekarang aku udah move on dari kamu dan dapetin laki-laki yang mungkin akan lebih cocok sama aku tapi kamu tiba-tiba kejar aku lagi, karena kamu merasa bersalah nggak usah cukup kalau kamu memang merasa bersalah sama aku atau karena enggak becus jagain aku udah aku nggak masalah karena aku pun bukan tanggung jawab kamu pada saat itu, aku masih tanggung jawab orang tua aku, aku dan kamu juga belum nikah kan jadi kamu enggak punya tanggung jawab buat nanggung semua ini buat merasa bersalah atas aku yang hilang enggak usah, makasih lebih baik kamu cari kebahagiaan kamu sendiri lupain aku karena aku bukan perempuan terbaik buat kamu aku enggak mau ya kamu ngejar aku cuman karena rasa bersalah aja, aku udah maafin kamu kok karena memang enggak ada yang perlu dimaafin sebenarnya enggak ada kesalahan yang kamu buat jadi jangan merasa seperti itu "
Alvaro mendekati Bella dan memegang bahunya dengan begitu erat, sampai-sampai Bella meringis kesakitan dengan pegangan Alvaro " bukan karena rasa bersalah aku ngejar kamu, aku emang cinta sama kamu Bel aku tuh harus bilang kayak gimana lagi biar kamu percaya dan bisa terima aku lagi kayak dulu, emang aku salah karena udah putusin kamu tiba-tiba dan nggak mau dengerin penjelasan kamu tapi setidaknya beri kesempatan aku buat sama kamu lagi"
Bella menepis terlebih dahulu tangan Alvaro yang membuatnya bahunya sangat sakit " aku nggak bisa kasih kamu kesempatan lagi, kamu aja nggak kasih kesempatan waktu itu sama aku lalu kenapa aku sekarang harus kasih kesempatan sama kamu, udahlah aku juga udah bahagia sama mas Adi kamu juga cari kebahagiaan kamu sendiri jangan stuck di sini aja. Karena sampai kapanpun aku nggak pernah bisa sama kamu aku nggak akan pernah bisa mau bagaimana pun caranya nggak akan pernah mungkin aku nggak bisa. Seharusnya kamu juga harus pikirin bagaimana keluarga kamu jika memang aku bersama kamu apakah mereka akan menerima dengan lapang dada saat menerima seorang perempuan yang sedang mengandung bahkan itu bukan anak kamu, ini anak orang lain. Mereka pasti tidak akan pernah menerima. Seharusnya kamu pikir ke sana dulu Al jangan ngejar aku dulu baru setelah aku dapat kamu baru perjuangin keluarga kamu, enggak aku enggak bisa kayak gitu aku udah putusin kalau aku akan nikah sama mas Adi lagi aku udah yakin kalau dia enggak akan pernah kayak dulu lagi aku yakin dia bisa melindungi aku dan anak-anakku"
"Egois banget ya kamu Bell, kamu tuh nggak mau aku perjuangin kamu tuh nggak mau berjuang sama-sama di sini apa karena harta, !apa karena dia sudah sukses apa dia sudah mapan apa karena dia punya segalanya makanya kamu mau sama dia Iya karena itu"
"Pikiran kamu tuh uang uang dan uang aku menikah dengan mas Adi bukan karena harta kau tak bisa melecehkan aku ataupun mengatakan aku ini perempuan mata duitan, kalau aku memang mau berjuang denganmu aku bisa tapi aku tidak bisa aku tidak mau membuat masa depan anakku hancur dengan harus berjuang sama kamu, berjuang buat dapetin hati nenek kamu yang keras itu dan berjuang untuk hadapin nenek kamu aku nggak bisa kayak gitu dan hati aku pun udah nggak bisa buat kamu aku udah terlalu cinta sama mas Adi, terserah kamu mau bilang aku perempuan apapun itu tidak masalah buat aku tapi yang terpenting aku minta sama kamu lupain aku, lupain semua kenangan yang pernah kita lakuin aku juga sama enggak bisa lupain tapi setidaknya buat lah itu sebagai memori kenangan kita berdua bisa kan"
"Nggak akan pernah bisa aku tidak akan pernah bisa melupakan itu Bella dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa dan aku akan tetap mengejarmu, mau kau menjadi istri orang ataupun tidak aku tidak masalah karena apa yang harus aku miliki harus aku miliki kau sudah berpacaran denganku sejak SMP lalu kau baru saja bertemu dengan laki-laki ini sudah mencintainya bahkan ingin cepat-cepat lagi menikah dengannya. Padahal dia sudah menyakitimu Bella dan dia bahkan menjadikan kamu istri kedua apakah kau gila jika kau kembali lagi pada dia bagaimana kalau dia mencari perempuan lain lagi dan membuat kau menjadi istri pertama dan perempuan itu menjadi istri kedua, bagaimana kalau kau merasakan apa yang pernah dirasakan oleh istri pertamanya"
"Aku sudah tahu konsekuensinya, saat menikah dengan mas Adi dan aku percaya mas Adi tidak akan pernah menduakan aku sampai kapanpun, kau tidak tahu jalan cerita awal pertemuan aku dan mas Adi , kau tidak tahu cerita aku dan mas Adi kenapa bisa seperti ini kau tidak tahu semuanya jadi kau tidak usah sok tahu. Mungkin memang kita berpacaran sudah lama dari SMP tapi kita tidak pernah tahu jodoh kita itu siapa jadi ya aku nggak mau kamu terus berlarut-larut kayak gini lupain aku cari perempuan yang lebih baik dari aku, aku ini bukan perempuan baik buat kamu dan sampai kapanpun keluarga kamu juga nggak akan pernah menerima aku lupain aku ya"
Bella langsung melangkah pergi meninggalkan Alvaro, sedangkan tanpa mereka sadari ada neneknya Alvaro yang melihat mereka tapi dia tidak mendengar pembicaraan mereka berdua, dia hanya menganggap Alvaro dan Bella berpacaran.
Tadi neneknya Alvaro sedang mengantar Sani untuk mengecek kandungannya dan tak sengaja melihat mereka sedang mengobrol seperti itu, lihat saja dirinya akan menemui Bella dan berbicara dengannya tentang masalah ini karena dirinya sampai kapanpun tidak akan pernah rela cucunya bersama Bella.
__ADS_1
Perempuan yang jelas-jelas tidak akan pernah cocok bersama keluarganya dan akan membuat keluarganya malu saja, karena kehamilannya itu dirinya juga sudah tahu kalau Bella akan menikah dengan mantan suaminya lagi, itu akan lebih baik dan satu minggu lagi dia akan menikah kan apa mungkin Bella selingkuh bersama Alvaro.
Hemm bisa saja mereka selingkuh dan dirinya harus bertemu dengan Bella jangan sampai hubungan itu terjalin lama, jangan sampai masa depan anaknya hancur begitu saja dirinya tak terima itu, sangat tak terima pokoknya tak mau menerima.