Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Menyaksikan


__ADS_3

"Al kamu yakin mau ikut "


"Iya pih kenapa aku mau ikut dan aku pengen lihat Bella untuk terakhir kalinya setelah itu aku gak akan pernah temuin Bella lagi"


"Yaudah yu kita berangkat "


Mereka berempat segera masuk kedalam mobil, Sena masih saja sesekali menatap anaknya, apakah tak akan apa apa, apa anaknya tak akan kecewa nanti.


"Aku baik-baik saja pih "


"Oh iya maaf papih hanya khawatir saja "


"Papih fokus saja kejalan jangan lihat kesana kemari bahaya pih "


"Iya maaf "


Sena segera fokus dan melihat kearah depan, Sani sesekali memegang tangan suaminya dan mengusapnya dan tersenyum pada sang suami yang pasti dia sangat khawatir dengan keadaan Alvaro yang seperti ini, Alvaro tak pernah seperti ini kan.


***


Saat sudah sampai di pesta Bella, Alvaro duduk ditengah tengah dan pertama yang dirinya lihat adalah Bella berjalan dengan ayahnya.


Hati Alvaro mencoblos melihat itu dirinya ingin dirinya yang ada disana tapi itu tak mungkin semua itu tak akan pernah mungkin, dirinya bukanlah siapa siapa Bella lagi, dan untuk melarang pun sulit karena Bella sendiri mencintai laki laki itu.


Saat matanya bertubrukan dengan Bella ada rasa sakit yang mendalam, dan dirinya hanya bisa menekannya saja, hanya itu saja yang bisa dirinya lakukan tak ada lagi, pujaan hatinya sekarang menikah, menikah dengan laki laki lain bukan dengan dirinya, rasanya seperti melayang dan dijatuhkan dengan begitu keras ke ketanah sakit sekali.


"Al kamu baik baik saja "


"Ya Bun aku baik baik saja "


Alvaro kembali melihat Bella yang berjalan makin dekat rasanya ingin sekali berteriak dan mengatakan kalau dirinya tak rela tapi dirinya tak bisa melakukan itu, dirinya tak mau menghancurkan pernikahan Bella, dirinya tak akan pernah bisa.


"Al sabar ya "


Alvaro melihat ke belakang Arzan disana bersama Anggia, lalu Rizki dia ada disana depan bersama keluarganya Bella, apakah dia sudah menjadi mendukung Adipramana itu, ya pastinya dia kan sudah sangat dekat bahkan dia selalu saja membelanya.


Saat ijab kabul itu diucapkan oleh Adi, aku hanya bisa menutup mataku dengan rapat rapat dan juga menutup telingaku, aku tak bisa mendengar ini dan melihatnya tapi aku memutuskan untuk datang, karena apa, karena aku menghargai Bella dan ingin melihat wajahnya yang bahagia, kalau dia tak bahagia akan dirinya tarik Bella.


Namun kenyataanya tidak begitu Bella terlihat bahagia bahkan dari senyumnya saja sudah sangat terlihat kalau Bella begitu bahagia dan senang dengan pernikahan ini, hanya dirinya disini yang melow terus menerus.


Bella sudah bahagia dengan pilihannya dan dirinya juga harus bahagia dengan tanpa nya Bella, semuanya tak bisa dikembalikan seperti semula, seperti saat dirinya dulu bersama Bella tahu gini dirinya akan nikahi Bella kan cepat cepat.


***


"Pih kayaknya aku mau langsung ketempat kuliah ku saja, aku mau pulang saja kesana "


"Kamu gak mau disini Al, kamu gak mau sama kita sama keluarga, kalau kamu mau pindah disini sekolahnya kita gak masalah kok, kamu mau pindah kesini "


"Gak pih aku mau pulang saja, aku lebih baik pulang saja, aku gak bisa disini terus aku gak bisa melihat semuanya dengan jelas "


"Beberapa hari lagi disini ya jangan dulu pulang, papih masih ingin bareng bareng sama kamu "

__ADS_1


"Akan Al pikirkan lagi "


"Kenapa sih Al cuman gara gara Bella nikah aja sampai sedih gitu, omah akan datangkan perempuan perempuan cantik buat kamu "


Alvaro melihat kearah neneknya sekilas lalu kembali menatap kearah depan "omah nggak tahu apa-apa oma nggak tahu gimana perasaan aku sama Bella , jadi udahlah omah gak usah ikut campur, omah gak pernah ngertiin aku "


"Kamu ini dikasih tahu malah jawab kayak gini, omah tubuh pengen yang terbaik buat kamu, ini malah terus inget Bella, Bella aja gak inget kamu kan, udah lupain aja dia, anggap aja dia itu masa lalu, eh tapi emang masa lalu ya "


"Stop Oma Alvaro gak mau denger lagi, udah stop Oma jangan ikut campur lagi tentang aku, pih tolong berhenti"


"Kamu mau kemana Al "


"Aku mau pulang sendiri aku gak bisa kalau harus terus sama Oma "


Sena yang mengerti memberhentikan mobilnya dan Alvaro langsung turun, Sena sebentar menatap anaknya dan melajukan kembali mobilnya " lihatlah anak mu itu, tak ada sopan santunnya sama seperti Bella, semenjak dia pacaran bersama Bella sikapnya menjadi seperti itu, sikapnya menjadi pembangkang dan menyebalkan "


"Jangan salah kan orang lain mih, itu bukan salah Bella, memang Alvaro orangnya tak suka dikritik seperti aku, jadi sudah jangan memojokkan terus Alvaro kasian dia, biarkan dia tentukan pilihannya dan mamih jangan bahas bahas Bella lagi, sudahi semuanya dan jangan cari perempuan untuk Alvaro, dia bisa mencarinya sendiri tanpa harus mih yang mencarinya "


"Ayah dan anak sama saja bagaimana kalau dia salah pilih orang seperti dirimu waktu itu, salah memilih Sonia yang jelas jelas bukan perempuan baik baik "


"Tapi kalau aku tak menikah dengan Sonia aku tak akan memiliki Alvaro sudah mih jangan terus bicara , aku sedang menyetir dan harus fokus "


"Aku tak pernah menganggu mu kau saja yang berasa begitu padahal aku dari tadi diam saja aneh sekali kau ini, mamih tak akan pernah ikut kalian lagi, antarkan mamih kerumah mamih saja, mamih kesal bersama kalian"


"Dengan senang hati Sena akan mengantarkan mamih, dan untuk pakaian mamih akan Sena bawakan besok pakaian mamih sudah ada dirumah mamih "


Hening tak ada suara, mamihnya Sena juga tak menjawab, Sani yang ada diantara mereka berdua hanya bisa mengusap tangan suaminya agar tak makin emosi.


***


Alvaro masuk kedalam sebuah restoran duduk disana dan menatap sekitar sepi belum ramai apa karena masih siang, ya mungkin saja.


"Mau pesan apa kak "


"Anggia "


Anggia melihat Alvaro dan tersenyum " eh Alvaro mau pesan apa "


"Kamu bukannya tadi di undangan ya kok udah balik lagi aja "


"Iya tadi langsung pulang gak lama setelah kalian pulang soalnya aku harus kerja "


"Hemm gitu ya aku pesen nasi goreng dan juga ice drink, itu aja Anggia "


"Yaudah sebentar aku bawain ya "


Anggia langsung pergi dan meninggalkan alvaro, Alvaro menatap Anggia sekilas dan dia malah melihat Anggia seperti Sani dulu, ya mamah sambungnya itu, sama persis bahkan sekarang dari ramahnya dan juga cara bicaranya sudah mirip.


Anggia bisa berubah dengan drastis hebat juga ya dia, Arzan beruntung mendapatkan perempuan seperti Anggia, yang bisa berubah lebih baik dari sifat dan sikap yang dulunya.


Tak lama kemudian Anggia datang lagi dan menyajikannya dimeja Alvaro " Anggia bisa duduk "

__ADS_1


"Emm tapi sebentar ya "


"Iya gak apa apa duduk dulu aja sini "


Anggia dengan canggung duduk ini untuk pertama kalinya dirinya berbicara dengan Alvaro maksudnya bicara seperti ini, biasannya Alvaro hanya menatapnya saja sudah itu saja.


"Apakah kau akan serius dengan Arzan "


Anggia mengerutkan keningnya kenapa tiba tiba bertanya seperti itu " tentu aku serius dengan Arzan, memangnya kenapa Al "


"Tidak aku hanya memastikan saja kalau orang yang akan bersama sahabatku adalah orang yang serius mencintainya bukan karena ada hal lain "


"Memangnya hal lain seperti apa "


"Ya banyak, "


Anggia tak menjawab dan Alvaro langsung memakan nasi gorengnya itu "apakah kau yang membuat "


"Bukan aku hanya mengantarkannya saja, untuk masalah memasak ada orang disana yang melakukannya aku tak semahir Sani "


"Hemm begitu ya baik baik ya bersama Arzan dia akan menjaga perempuan yang dia sayang, kau jangan pernah sia sia kan dia, karena dia begitu baik "


"Tentu aku tak akan mungkin seperti itu, baiklah aku kerja dulu ya permisi Al " .


Anggia bangkit dan berjalan menjauh baru juga beberapa langkah Alvaro sudah berbicara lagi " bisakah kau menemaniku jalan jalan di mall "


Anggia binggung maksudnya ini apa, " emm sepertinya aku tak bisa, kau harus bilang dulu pada Arzan aku permisi " .


Anggia pergi meninggalkan Alvaro takut takut alvaro mengajaknya kembali, dirinya tak mau Arzan salah sangka dan menuduhnya yang tidak tidak, dia kan suka seperti itu, menuduhnya yang tidak tidak.


**


"Bee apakah mamih akan terus marah seperti itu " .


"Sudahlah biarkan saja salah dia sendiri terlalu ikut campur, Bukannya aku tidak mau dia ikut campur tapi Alvaro nggak bisa kayak aku dulu, sudahlah aku saja yang dulu diatur olehnya Alvaro jangan, biarkan dia menentukan hidupnya sendiri"


"Hemm itu akan lebih baik sih, Alvaro punya pilihannya sendiri "


"Betul sekali sayang, kau ingin langsung pulang atau jalan jalan dulu "


"Sepertinya aku ingin pulang saja bee, aku ingin istirahat aku ingin tidur dan menonton tv "


"Baiklah sekarang kita akan meluncur pulang sayang, kau bersiap siap ya, kita pulang dan tidur bersama sambil menunggu Alvaro pulang, tapi dia kemana dulu ya "


"Aku yakin dia pasti akan pulang kerumah, biarkan dia menenangkan fikirannya dulu, sekarang dia sedang sangat kacau, pasti dia tak akan mungkin melakukan hal yang aneh aneh, aku yakin itu dia tak akan mungkin melakukan itu "


"Ya semoga saja sayang, aku begitu khawatir dengan alvaro aku takut dia melakukan hal nekat, makannya aku tanya dia waktu mau berangkat apakah dia benar benar ingin ikut dengan kita ke pernikahan Bella tapi dia dengan kekeh ingin ikut kan " .


"Iya bee benar, mungkin dia ingin menyaksikan Bella menikah, menyaksikan bella bahagia didepan matanya dan itu akan membuatnya lega " .


"Mungkin begitu sayang " .

__ADS_1


Sani menyandarkan kepalanya bahu suaminya, fikirannya hanya tertuju dengan keadaan alvaro apakah dia baik baik saja apakah dia tak apa apa, semoga saja tak apa, memang tadi dirinya mencoba untuk membuat suaminya positif terhadap alvaro tapi tetap saja didalam fikirannya beda lagi.


__ADS_2