
Sani sudah membereskan pekerjaannya sekarang tinggal ganti pakaian saja dan sudah juga, memakai pakaian sederhana, karena memang bukan pergi kepesta yang mewah hanya sebuah perayaan saja.
Tiba tiba datang Arzan dia langsung tersenyum pada Sani dan melambaikan tangannya, "Arzan cucu kakek kamu kesini "
"Kakek iya aku mau jemput Sani, ini temen sekelas aku loh kek, kakek harus baik ya sama Sani "
Sani yang binggung segera bangkit dan menatap kearah mereka berdua, "jadi selama ini aku kerja sama kekek kamu Zan, "
"Heheeh iya, aku mau kasih tau kamu tapi pengen tau dulu gimana respon kamu, eh kaget ternyata "
Sani menatap kakeknya Arzan dan sang kakek juga tersenyum "udah udah kakek udah tau kok, sekarang kalian pergi ya keburu telat, selamat ya Zan kakek bangga kamu menang "
"Makasih kek ditunggu hadiahnya "
"Yeyy ah hadiah, nanti deh kakek siapan sama Sani, ya kan Sani"
"Iya kek bener "
"Kita pamit ya kek "
"Iya hati hati cucu cucunya kakek "
Mereka berdua segera masuk kedalam mobil dan pergi dari kedai sang kakek, "Zan aku pakai, pakaian kayak gini gak apa apa, apa kamu gak malu bawa aku yang hanya memakai pakaian gini aja "
Arzan segera mengalihkan pandangannya melihat penampilan Sani sekilas "udah bagus kok, kenapa harus malu sih San, udah cocok kok gak ada masalah, ini kan cuman perayaan atas kemenangan tim aja, dan gak wajib harus pakai baju yang aneh aneh, kamu lihat sendirikan aku aja cuman pakai kaos dan juga celana pendek udah gini aja gak usah gaya gaya "
"Ya aku takutnya gitu "
"Gak akan Sani, kamu pake apa pun cantik kok, jadi tenang aja ya "
Sani yang binggung akan menjawab apa hanya bisa diam dan mengangguk saja, setelah itu dirinya diam melihat jalan yang lumayan padat dengan banyaknya mobil motor yang berkelebatan.
**
Alvaro langsung menyambut teman teman ya yang baru datang, dengan Bella Rizki dan tentu saja ada Sena, dia disini pun karena menunggu Sani.
__ADS_1
Kalau bukan karena Sani dirinya tak akan bergabung bersama bocah bocah seperti ini, "Om lagi nunggu siapa sih dari tadi liatin keluar terus "
"Gak kok om cuman pengen tau aja angkatan kalian sebanyak apa Bell "
"Oh gitu ya om, kirain Bella om lagi tunggu orang spesial "
"Ahh kamu duka mengada ngada saja Bell, mana mungkin om menunggu orang spesial, sedangkan orang itu sudah ada disini "
"Mana om mana, aku penasaran nih "
"Ya Alvaro Bell anak om, orang spesialnya "
"Ehh Arzan dateng sama cewe miskin " celetuk Rizki
Sena langsung mengalihkan pandangan, dan dia melihat Arzan langsung mengadeng tangan Sani dengan erat, Sena hanya menatap tangan itu dengan mata yang tajam.
"Kenapa emang, masalah buat lo, gimana gue dong mau dateng sama siapa pun, yang penting gue gak bikin lo rugi, emang apa salahnya gue dateng sama pacar gue sendiri masalah buat kalian emang "
"Whatt kalian pacaran " teriak Bella
"Apa gak salah Zan lo pacaran sama perempuan kaya gini " ucap Alvaro
"Sudah sudah diam, jangan seperti itu, hargai keputusan Arzan jangan ada yang menghina Sani, sudah sudah kalian pergilah merayakan kemenangan ini " ucap Sena dia tak suka kalau Sani di hina.
Namun dia juga tak suka dengan apa yang dikatakam Arzan, akan dirinya tanyakan pada orang yang selalu mengikuti Sani, apakah benar mereka berdua ini mempunyai hubungan, masa sih.
Arzan langsung membawa Sani masuk dan mencari tempat duduk , lalu membantunya duduk dan saling berhadap hadapan.
"Kenapa kamu bilang aku pacar kamu Zan, yang ada nanti malah jadi masalah lagi, kamu gak salah kan bilang kayak gitu sama orang orang " bisik Sani
"Aku minta maaf bukannya aku mau mengaku ngaku tapi ini aku lakuin supaya melindungi kamu, kamu tenang aja selagi orang orang tau kamu pacaran sama aku, mereka akan merasa sedikit takut "
"Tapi gimana kalau gak Zan. Aku takutnya mereka malah makin makin membully aku"
"Percaya sama aku gak akan " sambil memegang wajah Sani.
__ADS_1
Tiba tiba saja ada gelas pecah dan membuat tatapan Arzan dan juga Sani terlepas, saat mereka melihat kearah itu ternyata Sena yang melakukannya.
Dia langsung melenggang pergi dan masuk kedalam rumah dengan wajah masam dan tak bisa terbaca oleh siapa pun kecuali oleh dirinya sendiri, tentu saja.
"Zann ayo ikut kesana yu " ajak salah satu temannya
"Mau apa emang "
"Kita tiup lilin kemenangan "
"Yu San ikut "
"Jangan bawa cewe lo lah disana laki laki, Sani gak apa apa kan ditinggal disini, Arzannya gabung dulu sama yang lain "
"Iya gak apa apa kok "
"Yaudah aku kesana dulu ya, kamu disini dulu ya, aku gak akan lama kok "
"Iya Zan "
Arzan sudah pergi dan meninggalkan Sani sendirian, dia jadi binggung harus melakukan apa, sedangkan orang orang disana menatap dirinya sambil berbisik bisik, padahal dirinya tak memakai, pakaian yang aneh kok.
**
"Maaf tuan saja telat "
"Aku ingin bertanya satu hal padamu , apakah Arzan dan juga Sani berpacaran sampai aku tidak tahu dan kau tidak menginformasikannya padaku sama sekali, bukannya aku sudah menyuruh mu untuk selalu mengawasi Sani dan mencari tahu apapun tentang dirinya. Apa kau selama ini diam saja sampai-sampai kau tidak tahu itu"
"Maaf tuan saya selalu mengikuti Nona Sani kemanapun dia berada dan setahu saya dan sepengamatan saya, dari tadi Nona Sani bekerja di tempat kakeknya Arzan, tanpa ada Arzan sedetik pun. Dia tadi menjemputnya lalu pergi ke sini ke rumah tuan itu pertemuan mereka dan setahu saya Nona Sani tidak pernah memegang ponsel atau berteleponan dengan siapapun, jadi saya yakin kalau mereka berdua itu tidak berpacaran tuan, sama sangat yakin mereka tidak mempunyai hubungan apa apa "
"Baiklah mungkin kamu memang tidak tahu apa yang terjadi di mobil saat mereka berangkat ke sini, bisa saja Arzan mengungkapkan perasaannya pada saat di mobil dan mereka langsung berpacaran, lebih ketatkan lagi pengawasan mu pada Sani, aku ingin lebih tahu apapun itu tentang Sani saat nanti Sani pulang bersama Arzan kau harus mengikutinya sampai tempat Sani berhenti "
"Baik tuan akan saya laksanakan, semuanya akan saya laksanakan, saya permisi dulu tuan "
"Baik "
__ADS_1
Sena segera menengok dijendela dan melihat Sani yang sendirian tak ada teman mengobrolnya, ini kesempatan untuknya, Sena langsung tersenyum senang dan akan menghampiri Sani.