
Sena keluar dari kamar mandi dan keluar juga dari kamar itu dia melihat istrinya pergi bersama anaknya " gagal lagi gagal lagi "
Tiba tiba ada bi Sur yang menghampiri Sena " kenapa bi"
"Di luar ada seorang ibu-ibu dan perempuan yang seumuran dengan den Alvaro, katanya ibunya dari nyonya Sani tuan dan kakaknya "
"Sekarang mereka ada dimana "
"Ada diruang tamu "
Sena segera pergi keruang tengah dan disana sudah ada ibunya juga, Sena segera ikut duduk dan menatap dua orang itu.
"Jadi ada perlu apa kalian kemari " tanya Sena dengan to the poin.
"Maaf tuan saya ingin bertemu dengan Sani anak saya"
"Anak mu sejak kapan, bukankah dia hanyalah seorang pembantu bagi kalian semua, bukankah dia hanya seorang pencari uang buat kalian lalu untuk apa kalian mencarinya lagi apa kalian ingin uang darinya, apa tak ada lagi yang membiayai kalian berdua untuk hidup sampai-sampai harus mencari Sani kemari, dia sudah berumah tangga dan tidak ada sangkut pautnya lagi dengan kalian memangnya kalian keluarganya bukan kan kalian hanyalah ibu tiri dan kakak tiri jadi tidak ada hubungan darah dengan Sani"
__ADS_1
"Iya saya tahu kalau saya dan juga Sani tidak ada hubungan darah tapi saya masih ibunya saya yang mengurusnya dari kecil, saya kemari ingin berbicara dengan Sani "
"Berbicara saja dengan saya, sama saja kan saya suaminya maka anda boleh berbicara pada saya semuanya"
Ibu tiri Sani masih saja diam, tak menjawab dan Sena serta ibunya menunggu mereka akan mengatakan apa, sebenarnya apa yang mereka inginkan, dan dari mana mereka mengetahui rumah ibunya padahal tak ada yang memberinya alamat ini.
"Cepatlah kami tak punya waktu banyak " celetuk omah Ariana
"Maaf nyonya kami kemari ingin berbicara pada Sani, kenapa kami tak ikut dengan Sani, kami ini keluarganya kami ini yang selalu ada untuk Sani dan ayahnya, kenapa saat Sani sudah bahagia dia tidak membawa kami ikut serta, seharusnya dia juga membawa kami kemari untuk tinggal dengan kalian semua, begini-begini saya juga ibunya Sani ya meskipun tidak ada ikatan darah tetap saja saya mengurus Sani dari kecil dan membesarkannya"
Sena sampai tertawa mendengar ucapan orang ini, mereka begitu lancang dan tak tau diri, sungguh dirinya bersyukur Sani sudah menjadi istrinya dan ada disampingnya jadi wanitanya tak menderita lagi, lihatlah mereka tak tau diri datang kemari dengan ingin tinggal disini, memangnya mereka siapa.
"Rumahnya disita karena hutang-hutang dari ayahnya Sani, makannya kami datang kemari, makannya kami ingin berbicara dengan Sani "
"Hutang dari ayah Sani kapan ayah Sani mempunyai hutang mana mungkin orang sakit bisa menghutang ke setiap orang kau ini jangan mengada-ngada. Apakah kalian akan mempermalukan diri kalian sendiri dengan mengatakan setiap kebohongan seperti ini"
"Tapi Tuan kami berdua berkata jujur memang rumah itu sudah digadaikan waktu itu oleh ayahnya Sani karena kebutuhan ekonomi kami semua, karena waktu itu Sani juga tidak memberi uang pada kami jadi kami menggadaikan rumah untuk biaya rumah sakit dan juga kehidupan kami"
__ADS_1
"Sani tidak pernah memberi uang sedangkan dia selalu saja bekerja dan tidak berhenti bekerja. Apakah kalian tidak salah mengatakan itu aku tahu semuanya aku menyaksikan semuanya saat Sani memberikan uang padamu setiap bulan. Memangnya aku tidak menyelidiki semuanya emangnya aku tidak tahu saat Sani pergi ke rumah hanya untuk memberikan uang pada kalian, hanya untuk memberikan uang itu untuk berobat dan keperluan kalian semua, dia tidak memikirkan tentang dirinya sendiri dan sekarang kau berbicara seperti itu, Sani tidak memberi uang sungguh pembohong yang begitu tidak tahu diri, kau ini ya sungguh memalukan sekali "
Sena menahan amarahnya jangan sampai dia kebablasan dan menyakiti kedua perempuan yang ada dihadapannya. Sena mengambil nafas dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Saya tidak mau berbuat kasar pada kalian berdua jadi lebih baik kalian berdua pergi dan saya juga tidak mengizinkan Sani untuk berbicara dengan kalian berdua sampai kapanpun kalian sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Sani, kalian tidak mempunyai hubungan darah apapun jadi Sani tidak perlu mengajak kalian untuk tinggal di sini ya kan, kalian jalani hidup kalian berdua dan kau sebagai seorang ibu bekerjalah jangan meminta-minta kepada anak tiri seperti ini. Apakah tidak malu dan anakmu juga kan sebentar lagi lulus sama seperti Sani kan sudah lulus malahan lebih baik suruh dia kerja dan merasakan apa yang pernah Sani rasakan daripada mempermalukan diri seperti ini"
"Tapi Tuan saya ingin berbicara dulu dengan Sani. Saya ingin berbicara dengan dia tolong hanya sebentar "
"Security security cepat bawa mereka berdua keluar dari rumah ini"
Security itu segera datang dan segera menarik tangan ibu Sarah dan juga Anggia tapi mereka terus saja meronta dan ingin dilepaskan namun untungnya pak security bisa membawanya keluar dari dalam rumah.
"Mamih tidak menyangka Sani bisa tinggal dengan orang seperti mereka berdua, mami tadi sebenarnya ingin sekali marahin mereka berdua tapi mami menahannya rasanya geram sekali melihat mereka itu tidak tahu diri sekali mereka ini, jangan sampai kau membiarkan Sani bertemu dengan kedua orang itu, kamu tahu kan hatinya Sani terlalu lemah dia akan luluh dan pasti akan memaafkan mereka berdua dan bisa saja Sani akan memberikan uang kepada mereka dan sekarang di mana Sani, bukannya mamih sayang dengan uangnya tapi mamih tak mau mereka menjadi seenaknya nantinya "
"Iya mi makanya nanti setelah Alvaro pergi kuliah. Lebih baik aku pulang saja ke rumahku bersama Sani, agar lebih terlindungi saja kan, bukannya aku mengatakan kalau di rumah mamih tidak aman tapi ya di sana kan akan lebih banyak lagi penjaganya . Ya maka dari itu aku tidak akan berbicara pada Sani. Dia pergi bersama Alvaro katanya mau berbelanja pakaian buat acara malam pesta aku pun tidak tahu"
"Ya sudah kau yang sabar sekarang y, jangan cemburu pada anak sendiri ingat jangan sampai kebablasan kau melakukan sesuatu nantinya dan membuat hubungan kalian ketahuan oleh Alvaro dia belum bisa tahu tentang semua ini"
__ADS_1
"Iya mih semoga saja aku bisa menahan rasa cemburuku "