
Seperti biasa Sani sudah siap dengan seragam dan juga membuat sarapannya juga, bahkan semua masakannya itu sudah matang , Sani langsung memakannya di sana juga tanpa duduk di meja makan, dia sudah menyajikan semua makanannya meja makan.
Dan melihat anggota keluarga yang lain sudah memakan sarapannya, "Sani fikir fikir lagi, kau harus memanfaatkan tuan Sena, kau kan dekat, maka manfaatkan uangnya, jangan didiamkan saja ok "
"Aku bukan perempuan matre bu jadi aku tidak mau ibu saja yang melakukan itu dengan Anggia, aku tidak akan mau "
Sani segera membuka pintu ternyata hujan, payung cuman ada satu, lalu tiba tiba saja ibunya melemparkan sendok kekepalanya "Sana udah pergi dasar anak durhaka "
Sani menahan tangisnya lalu berlari meskipun badannya kehujanan, hidupnya mengapa tak pernah bahagia, kenapa harus begini terus hidupnya, semenjak sang ibu tak ada hidupnya menjadi tak ada arti meskipun ada sang ayah tetap saja rasanya kurang.
Mungkin saja kalau ibunya masih ada tak mungkin seperti ini, pasti dirinya akan lebih disayangi, tak akan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ibunya sudah tak ada lagi. Dia tak akan kembali, jadi dirinya tak boleh seperti ini lagi,
**
"Maaf tuan ada yang ingin bertemu "
"Siapa " masih fokus mengecek semua dokumennya
"Katanya Rara manager cafe, "
"Baiklah suruh dia masuk "
"Baik tuan "
Sena menyimpan dokumenya dan datang Rara dengan kepala yang ditundukan.
"Tolong tuan jangan pecat saya, saya sangat butuh pekerjaan ini saya akan memasukkan Sani lagi ke cafe jadi pelayan lagi di sana"
"Kenapa kau sekarang tak angkuh. kemarin kau sangat angkuh sekali padaku sampai-sampai kau membentak, mendorong Sani dan memarahiku serta mengusirku sekarang aku ingin lihat keanguhan mu lagi, seorang manager yang sukses"
"Tolong maafkan saya tuan sungguh saya khilaf saya masih ingin bekerja di sana, itu sangat sulit untuk saya mendapatkan jabatan sebagai manajer, tapi sekarang hilang begitu saja tolong tuan jangan seperti ini saya mempunyai keluarga dan harus saya biayai"
__ADS_1
"Sani juga sama punya keluarga yang harus dibiayayai, kamu seharusnya mendengarkan dulu penjelasan dia bukannya langsung mengusir dia dan memecatnya kamu baru saja menjadi manajer sudah seperti ini, apa lagi kalau kamu menjadi atasannya dan yang punya kafe itu, diberi jabatan sedikit saja kau sudah melunjak"
"Iya tuan tolong maafkan saya, saya tidak akan melakukan ini tolong saya minta Tuan cabut permintaan itu pada atasan saya, saya tidak akan melakukan ini kembali. Saya akan berubah dan tak seperti itu lagi dan saya akan memasukan lagi Sani ke Cafe itu"
"Sudah terlambat silahkan anda keluar dari ruangan saya, saya banyak kerjaan dan tak ada waktu meladeni anda jadi keluar sekarang "
"Tidak tuan tolong " Rani langsung bersujud pada Sena.
"Fatimah Fatimah "
"Iya tuan "
"Usir perempuan ini "
Fatimah mencari keberadaannya ternyata ada dibawah, dengan cepat Fatimah membantunya berdiri dan membawannya keluar, bahkan Rara berontak, namun Fatimah dengan sekuat tenaga memegang Rara dengan erat.
"Tuan jangan seperti ini tuan, kau jahat padaku tuan, kau tak memberikan ku sedikit kesempatan tuann "
"Tapi ini menyangkut pekerjaanku aku harus bekerja. Kenapa bosmu itu sangat sulit dibujuk aku tidak sengaja membentak Sani karena sudah berhari-hari tidak masuk kerja, makanya aku mengeluarkannya dengan cara tidak hormat sesuai perjanjian"
"Bukannya sebelumnya aku sudah pernah datang ke cafe-mu dan memberitahumu kalau Sani sakit apakah aku lupa"
"Entahlah aku tidak ingat yang terpenting sekarang aku ingin pekerjaanku, jadi tolong aku ingin masuk lagi ke ruangan bosmu"
"Scurity security tolong"security segera datang dan menghampiri Fatimah" kau bawa perempuan ini dan jangan sampai perempuan ini masuk lagi ke dalam perusahaan"
"Baik bu "
Security itu langsung membawa Rara dan mengeluarkannya dari perusahan, sungguh menganggu saja.
Sedangkan Sena sedang menatap nomor Sani "apakah aku harus mrnghubungi Sani "
__ADS_1
"Tapi aku sudah janji pada Alvaro mana mungkin aku menghianatinya. Aku saja bisa menghianatinya apalagi Alvaro kan bisa ingkar padaku. Kenapa anakku bisa benci pada Sani, apa yang dia benci dari Sani sebenarnya selain miskin"
"Akhh aku pusing " sambil mengebrak meja.
**
Sani sudah sampai di sekolah seragamnya cukup basah Mira langsung menghampiri sahabatnya.
"Sani kenapa kamu bisa basah kayak gini emang kamu ke sekolah gak pakai payung atau apa gitu jas hujan"
"Gak ada Mir payung nanti dipakai sama Anggia, aku gak mungkin memakai payung itu yang ada nanti Ibu akan marah sama aku , udahlah cuman basah sedikit aja kok"
"Ya udah yuk masuk ke kelas sebentar lagi bel. Aku tuh was-was takut kamu gak masuk tapi akhirnya kamu masuk juga, di dalam juga lagi ada yang tunggu kamu loh "
"Emangnya siapa yang nunggu aku enggak biasanya, bukannya di kelas ini enggak pernah ada yang anggap aku selain kamu"
"Siapa lagi kalau bukan Arzan dia kayaknya jadi nempel banget sih sama kamu ,semenjak enggak berteman lagi sama Alvaro. Tapi sih aku bersyukur ada salah satu teman Alvaro yang dekat sama kita jadi kalau misalnya Alvaro macam-macam lagi sama kamu, ada yang lindungi kamu maksudnya kita berdua Jadi kalau aku gak ada, ada Arzan dan aku akan selalu melindungimu San "
Sani langsung memeluk sahabatnya itu, sungguh dirinya masih tak percaya ada yang mau berteman dengannya hampir 3 tahun tanpa memikirkan statusnya, sungguh bersyukur dirinya ini.
"Makasih ya Mir kamu selalu ada buat aku, gak tahu deh kalau misalnya gak ada kamu mungkin aku di sini udah tertindas banget apa lagi geng-geng Alvaro itu, gak suka banget sama aku"
"Kamu tuh ya makasih terus sama aku, udah kata aku juga kamu itu sahabat aku jadi aku akan selalu ada buat kamu, Ya udah yuk masuk kita terus aja di sini, kapan masuknya "
Sena langsung melepaskan pelukannya dan masuk bersama Mira benar saja di sana Arzan sudah menunggunya dan tersenyuman ke arahnya "Sani gak biasanya kamu telat"
"Iya nih tadi agak macet Jadi agak telat tapi untungnya belum Bel kan aku datang ke sini, kamu ada apa nunggu aku Zan "
"Gaak aku takut aja kamu nggak masuk gitu "
"Wah wah wah wah sekarang Sani sudah bisa membuat Arzan tunduk ya hebat hebat"
__ADS_1
Mereka semua segera mengalihkan pandangannya Mira langsung memutarkan kedua bola matanya kesel deh kalau udah ada biang kerok.