
"Lihatlah Fatimah mereka sangat so sweet sekali, lihatlah aku baru melihat tuan menyuapi seorang perempuan rasanya aku ingin ada di posisi Sani " ucap Gea sambil menopang wajahnya dan menatap kearah dua sejoli itu.
"Sudah sudah lebih baik kau makan saja daripada malah melihat mereka berdua sedang makan tidak enak.Ayo cepat kau makan saja"
Gea masih saja menatap kearah Sani dan Sena, masih tak mau mengalihkan pandangannya, semua karyawan yang makan disini juga sama melihat mereka berdua yang saling suap dan bercanda sepertinya mereka begitu bahagia.
"Kau tak akan kenyang melihat mereka, sudah ayo makan lah jangan terus begitu, kau mau tak makan dan nanti kelaparan saat bekerja "
"Emm ya aku pun segera makan sekarang "
Gea segera memakan makanannya sebenernya ingin melihat keromantisan mereka, tapi perutnya ternyata kelaparan, makan saja dulu lah.
***
Sena menyuapi makan terakhir pada sang istri " apakah kau mau makan lagi sayang "
"Sudah bee aku sudah kenyang, lihatlah bee karyawanmu melihat ke arah kita"
"Tak apa sayang mungkin mereka senang melihat aku sudah menikah dan mempunyai seorang pasangan yang begitu cantik sepertimu, "
Sena mengusap pipi Sani dengan lembut dan karyawan mereka ingin berteriak namun ditahan, mereka seperti ABG yang baru saja pacaran.
Sena menatap sekeliling dan para karyawan perempuannya langsung menundukan kepalanya dan mereka langsung fokus pada makanya. " benar sayang kau tak mau makan apa apa lagi " tanya Sena sambil menatap Sani dengan penuh cinta.
"Sudah bee aku sudah kenyang, aku sudah tak mau makan apa apa lagi, apakah kau akan langsung bekerja lagi bee "
"Ya sudah, ayo kita keruanganku, dan setelah itu kita akan pulang sayang, kita kan akan pergi "
"Baiklah ayo bee "
__ADS_1
Sena segera mengandeng tangan istrinya dan keluar dari kantin kantor, setelah Sena dan Sani keluar mereka langsung bergosip dan membicarakan tentang pasangan baru itu.
Sena baru saja mengenalkan Sani pada seluruh karyawannya kalau dia adalah istrinya, sungguh mereka begitu kaget kapan tuannya ini menikah, tiba tiba dan tak ketahuan.
Banyak karyawan perempuan yang patah hati atas pernikahan ini, mereka begitu ingin mendapatkan Sena yang seorang bos, mereka ingin hidup mewah tapi ternyata tuannya malah memilih anak kecil. Bukan mereka yang dewasa dan pintar berdandan.
"Ayo Fatimah kita keluar yu, aku sudah kenyang "
"Tapi Gea makanannya masih banyak"
"Aku sudah kenyang dengan melihat keromantisan mereka berdua perutku sudah kenyang dan mataku pun juga sudah kenyang, aku lebih baik bekerja ternyata aku tidak bisa mendapatkan bos itu. Sudahlah Fatimah aku sedang galau tapi tenang saja aku tidak akan pernah menjadi pelakor ayo sudah"
Gea langsung pergi dan Fatimah hanya mengikutinya dari belakang, sejak kapan melihat orang yang sedang romantis dan makan seperti itu jadi kenyang, padahal dirinya saja melihat tuannya dan Sani bermesraan seperti itu tidak kenyang perutnya masih lapar bahkan sekarang juga masih lapar.
Aneh sekali ya dengan temannya ini, Gea sungguh aneh sekali. Padahal aku dulu saja saat berpacaran tak kenyang makan cinta saja. Malah yang ada sakit hati.
**
"Iya bee tenang saja aku akan menunggumu "
"Baiklah sayang "
Sena mengecup kening Sani dengan sayang, lalu beralih pada bibirnya setelah puas Sena duduk kembali di kursinya, sesekali menatap sang istri yang sedang menonton video sepertinya sangat menyenangkan.
Sani bahkan sampai tertawa tawa dan sesekali tersipu malu, apa sebenarnya yang istrinya tonton, nantilah dirinya akan menanyakan apa yang istrinya itu tonton. Sekarang lebih baik mengerjakan tugasnya yang begitu banyak sekali.
Sani yang sedang fokus lagi lagi di telfon oleh Mira, kenapa sih Mira ini menganggu saja, Sani segera bangkit dan mengangkat telfon ya namun menempelkan pada telinga suaminya sedangkan dirinya duduk dipangkuan sang suami.
Sena yang binggung menatap istrinya dan Sena berkata "bicaralah, aku sedang tak mau berurusan dengannya " tanpa suara.
__ADS_1
Sena yang mengerti segera melakukannya disana sana sudah ada suara perempuan yang memanggil manggil Sani.
"Hallo " ucap Sena dengan suara beratnya
"Hallo ini Sani kan, aku tak salah menelfon kan "
"Coba kau cek saja "
Di sebrang sana Mira lama terdiam dan kembali berbicara " benar kok, aku benar menelfon Sani, ini dengan siapa ya aku ingin berbicara dengan Sani "
"Berbicaralah padaku, nanti aku akan sampaikan apa yang ingin kau katakan pada istriku, ayo cepat aku tidak punya banyak waktu aku sedang bekerja ada apa dan perlu apa kau menelponnya "
"Hah suaminya Sani, dengan siapa Sani menikah sejak kapan Sani menikah dan kenapa dia tak menghubungiku "
"Kau tidak perlu tahu kapan Sani menikah dengan siapa, memangnya kau siapa apakah orang penting yang harus diundang oleh istriku, bukan kan. Jadi cepat katakan aku tidak punya banyak waktu kau ingin berbicara apa sebenarnya pada istriku jika kau ingin memerintahnya untuk bertemu Arzan untuk melihat keadaannya lebih baik kau telepon saja langsung orangnya tidak usah menyuruh-nyuruh istri orang, kau punya mulut kau punya nomor teleponnya dan kau punya handphone juga kan jadi kau bisa langsung menghubunginya tanpa merepotkan orang lain tidak baik nak merepotkan orang lain"
"Tapi tap "
Sena langsung mematikan sambungan ya dan memberikan ponsel pada sang istri, Sena memeluk pinggang Sani dengan erat dan mencium pipinya " jika dia menelfon lagi kau tak usah mengangkatnya biarkan saja dia, jangan sampai kau berteman lagi dengan perempuan seperti itu, dia berbahaya dan bisa melakukan sesuatu nantinya padamu, kau harus pandai pandai berteman sayang "
Sena menyenderkan kepalanya pada dada sang suami " ya aku tahu makannya aku tak mau berbicara lagi dengannya, takutnya aku malah tergoda dan kembali berteman dengannya, memang aku sudah memaafkan semua apa yang pernah dia lakukan padaku, tapi kalau untuk berteman lagi sepertinya aku tak akan pernah bisa, aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi "
"Baguslah sayang, lebih baik seperti itu, memaafkan boleh tapi kalau untuk kembali berteman jangan sampai, pokoknya kau tak boleh berhubungan lagi dengannya, ini juga demi kebaikan mu sayang "
"Hemm bee aku mengerti, aku tak akan berteman dengannya kembali "
"Baguslah sayang "
Sena kembali mengerjakan tugasnya dengan sang istri yang duduk di pangkuannya sambil menonton filmnya, dirinya sekarang bisa sambil sesekali mengintip istrinya yang sedang menonton.
__ADS_1