
"Papih dari mana jam segini baru pulang, biasanya gak pernah deh tiba tiba pergi, teman-teman aku tadi pada mau pamitan tapi papihnya gak ada "
"Papi habis nganterin orang yang udah pacar kamu dorong ke kolam renang, bisa gak kalian gak ngebully Sani di manapun dia berada. Pasti kalian ngebully Sani terus apa gak cape, Kamu bisa gak cari pacar yang lebih bener gitu. Kamu tuh masih kecil mendingan udah jangan pacaran dulu putusin Bella"
"Kok Papih malah jadi salahih Bella sih, kenapa harus aku putusin Bella yang Bella lakuin udah bener, itu udah pantes buat dia, Sani itu udah panted dapet itu, dia gak pantes pacaran sama Arzan, jadi papih jangan belain perempuan sialan itu dan gak berguna itu "
Dan tampa Sena sadari dia menampar anaknya "kamu gak berhak berbicara seperti itu pada Sani, sekarang masuk kamar dan renungkan apa yang sudah kamu katakan tadi, papih sudah sangat sabar yang menghadapi kamu, kalau kamu masih membully orang lain pergi dari rumah, jangan ada disini, papih sudah muak denhan kelakuan kamu Alvaro "
"Papih tampar aku cuman gara gara perempuan itu, semenjak ketemu Sani Papih berubah ya, papih makin tertarik ya sama perempuan itu, sama perempuan miskin itu apa papih gak merasa trauma dengan orang miskin "
"Masuk kamar Alvaro " teriak Sena kembali
Alvaro dengan kesal segera masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan sang papih yang marah padanya. Hanya karena Sani papihnya memarihi dirinya, hanya karena perempuan itu, perempuan tak tau diri.
**
__ADS_1
Sedangkan dirumah Sani di kediaman ayah dan ibu tirinya sedang kacau, karena tak mempunyai uang dan tak bisa membeli makan.
"Kemana sih anak kamu yah, dia pergi gitu aja cuman ninggalin uang sedikit kita sekarang mau makan apa coba "
"Itu salah ibu sendiri, uang yang diberikan Sani malah dibuat belanja anak ibu, beli baju beli sepatu beli ini beli itu, seharusnya ibu itu bersyukur Sani masih menyisihkan uang untuk kita, mungkin dia capek dengan kelakuan ibu yang selalu saja membuat dia menjadi tulang punggung , seharusnya ibu yang bekerja menggantikan ayah bukannya Sani, dia masih sekolah sama seperti Anggia, dia juga butuh pergi bersama teman-temannya, menghabiskan masa remajanya bukannya kerja kerja terus Bu. Ibu tahu kondisi Ayah sedang seperti ini jadi tolong ibu yang seharusnya bekerja bukan Sani"
"Ahh anak dan ayah sama saja, itu memang seharusnya Sani yang bekerja, seharusnya rumah ini tanggung jawab ayah tapi ayah sekarang lumpuh dan keturunan Ayah hanya Sani saja. Jadi dia yang harus bekerja mengurus semua rumah dan membiayai Ibu , Ibu tuh mau nikah sama Ayah tuh mau seneng mau dibiayain bukannya malah jadi kerja, jadi tulang punggung kalau tahu gini dari dulu Ibu gak mau nikah sama ayah"
"Oh berarti dulu kamu hanya ingin hidup senang, ya sudah kau cari suami yang kaya, yang bisa menghidupi kamu dan bisa memberikan apa yang kamu serta apa yang anak kamu mau, lebih baik kamu cari sana diluar sana laki laki yang mau menampung kamu serta anak kamu ini "
"Ibu ayah sudah jangan bertengkar yang harus kita fikirkan sekarang adalah makan, aku sudah lapar sangat lapar sekali ingin makan bu "
Sarah menghembuskan nafasnya, membuka dompetnya dan tak ada uang sedikit pun kosong, sudah habis uang yang dirinya ambil dari suaminya, habis semuanya.
"Begini saja lebih baik pakaian dan sepatu Anggi yang baru kalian beli jual kembali dan belikan makanan itu adalah cara satu satunya, atau kau sebagai ibu bekerja dulu gantikan aku
__ADS_1
"Tidak Tidak kenapa barang-barang Anggia jadi dijual, tidak Anggia tuh sangat ingin barang-barang itu. Ayah ini kenapa sih gak pernah belain Anggia, gak pernah mau senengan Anggia Sani aja diturutin apa maunya sama ayah, tapi Anggia gak pernah kenapa sih "
"Kapan Sani beli baju yang dia ingin kan, kapan dia beli sepatu yang dia ingin kan, bahkan satu tahun sekali pun Sani sulit untuk membeli pakaian, dia hanya mimikirkan kau, membelkan pakaian ponsel dan juga barang-barang yang kau inginkan, dia tak membeli untuk dirinya sendiri, dia hanya memikirkan keluarganya dan tidak memikirkan dirinya sendiri, lalu di mana letak aku memanjakan Sani, saat aku kerja aku tak pernah membedakan kau dengan anak ku Anggia, kalian sama di mataku tapi setelah seperti ini, kau terus mengungkit-ngungkit kalau aku lebih sayang pada Sani, padahal dulu aku selalu membelikan Apa yang kau mau dan memprioritaskan dirimu dari pada Sania anakku "
Anggia yang kesal segera pergi dan masuk kedalam kamarnya, menutup pintunya dengan keras dan mengurung diri disana.
"Berani sekali kau membentak anakku. Kenapa kau melakukan itu kau sungguh tak adil dengan anakmu "
"Aku yang tak adil dengan anakmu ?, bukannya kebalik ya, kau yang tak adil dengan anak ku, kau selalu saja menyuruh anak ku bekerja bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan mu dan juga anak mu yang tak berguna, lalu sekarang kau menuduh ku tak adil, coba kau katakan dimana tak adilnya " teriak ayah Sani dia sudah sangat marah dengan kelakuan anak dan istrinya yang seperti ini terus.
Sarah tak menjawab namun langsung menyengol kursi roda ayah Sani dan membiarkan suaminya itu tersungkur dilantai, dia masuk kedalam kamarnya dan membiarkan suaminya.
"Ya allah kenapa seperti ini, kenapa aku mendapatkan istri seperti ini, Sani kamu dimana ayah sangat merindukan kamu, maafkan ayah telah memberikan ibu tiri yang tidak menyayangimu dan hanya ingin harta kita saja, maafkan ayah telah membuatmu menderita seperti ini. Kalau saja dulu ayah tak menikahi Sarah mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Kamu di mana nak pulanglah Ayah sangat merindukanmu. Ayah tidak bisa hidup tanpamu San, pulang ayah kesepian di sini ayah sendiri di sini "
Air matanya tak bisa dibendung dirinya menangis dan tak ada niat untuk membenarkan dirinya yang terjatuh, dirinya sudah lelah dengan kehidupan ini, kehidupan yang penuh dengan rintangan, kenapa dulu dirinya bisa kecelakaan dan menjadi laki laki tak berguna seperti ini.
__ADS_1
Seharusnya anaknya sekarang ada dirumah diam bersamanya dan hanya memikirkan sekolah saja tak pusing dengan dunia yang kejam ini, dunia yang penuh rintangan dan tantangan ini, sungguh tak adil dunia ini.