
Sena yang baru saja terbangun melihat kearah sampingnya dan sang istri tak ada, Sena segera memakai pakainya dan keluar dari dalam kamar mencari keberadaan istrinya.
"Sayang kau dimana "
Sena terus saja berteriak sambil mencari keberadaan sang istri, dimana dia kemana tak mungkin kan kabur, saat Sena masuk kedalam dapur ternyata istrinya ada disana sedang memasak sendirian.
Sena dengan perlahan mendekati sang istrinya dan membuatnya kaget " bee kau mengagetkan ku, kau ini ya, aku sedang masak bee "
"Tidak aku tidak mau sayang seperti ini saja, aku nyaman"
"Kau mau tanganmu terkena kompor, biarkan aku masak terlebih dahulu "
"Tidak "
Sena malah makin mempererat pelukannya, dia terus saja menghirup leher sang istri, "bee '
"Hemm biarkan aku seperti ini sayang, aku ingin seperti ini dulu, biarkan aku begini sayang "
"Tapi bee "
__ADS_1
"Shut "
Akhirnya Sani hanya bisa pasrah dan membiarkan apa yang Sena, tapi tiba tiba ponsel Sani mengejutkan mereka berdua.
Sani langsung melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya lalu memperlihatkan pada suaminya.
"Alvaro bee "
"Angkat saja sayang "
"Baiklah "
"Aku baik Al, kemarin baru saja kita ketemu,"
"Hehehe rasanya sudah tak bertemu lama saja, em kau ingin melihat rumahku disini "
"Tentu boleh, coba kau perlihatkan semuanya padaku, dan apakah kau sudah membereskannya "
"Baiklah, tentu aku sudah membereskannya bersama Rizki tapi sekarang dia tertidur katanya lelah dan ingin istirahat "
__ADS_1
Sani menganggukan kepalanya dan segera memperlihatkan semua ruangan yang ada dirumah itu, mulai dari dapur, kamar Alvaro, kamar Rizki, gudang, balkon dan barang barang disana juga.
Memang Sena memfasilitasi itu untuk anaknya, agar sang anak nyaman dan betah dan syukurlah ternyata anaknya sangat menyukainya.
Sena hanya diam saja mendengarkan setiap ocehan anaknya pada sang istri, bahkan sekarang Sena yang memasak, karena Sani meninggalkannya.
"Emm San, lehermu tak apa apa, kenapa merah seperti itu, apa itu bekas gigitan atau yang lainnya, atau aku sudah main gila dengan laki laki "
Sani langsung memegang lehernya dan menggelengkan kepalanya " emm tidak, ini aku alergi Al, aku kemarin tak sengaja memakan makanan yang tidak aku sukai, makannya jadi merah merah seperti ini, aku tak akan mungkin kan main gila dengan laki laki " ucap Sani dengan cukup tenang, karena dirinya tak mau membuat Alvaro curiga, meskipun sudah curiga sih sebarnya.
"Benarkan, kau jangan bohong padaku ,Sani kau jangan salah pilih laki laki, sekarang ini kebanyakan laki laki itu hanya ingin menjebol pacarnya saja, memang tak semuanya sih, tapi ada laki laki yang begitu kau harus selalu hati hati "
"Ya aku pasti akan menjaga diriku Al, kau apakah sudah makan lebih baik sekarang kau makan dulu "
"Untuk kau ingatkan aku belum makan, ya sudah aku harus keluar dan membeli makan dan kau ingat jangan gegabah memilih laki laki, kalau tidak kau perlihatkan dulu padaku seperti apa laki laki itu, ingat jika laki laki itu minta jatah di ranjang kau jangan mau, kau harus kuat apa lagi kau disana juga kuliah "
"Iya Al aku akan selalu mengingat semua kata katamu "
"Baguslah jaga dirimu aku akan siap siap dulu Bay "
__ADS_1
Setelah sambungan terputus Sani menghembuskan nafasnya Alvaro itu begitu jeli matanya.