
Saat Sani membuka pintu ternyata sudah ada Sena, dan Sani sudah tak aneh lagi, dirinya langsung menata belanjaannya didalam kulkas yang sudah Sena sediakan.
"Mau minum apa om, aku buatkan sekarang juga, mau kopi jus teh atau apa, aku baru saja selesai berbelanja "
"Duduk sini, saya ingin bicara "
Sani segera duduk di samping Sena dan menatapnya Sena memegang pipi Sani dan mengusap pipinya" masih sakit kah,"
"Enggak udah mendingan kok , aku baik-baik aja itu om kotak apa ya, kok aku baru liat sih, apa om belanja juga "
"Itu katanya paket buat kamu tadi ada yang anterin ke sini Katanya buat Sani Zea Amanda kamu kan Sani Zea Amanda, saya ambil aja tadi karena memang untuk kamu kan, mungkin kamu lupa sudah membeli apa gitu di online "
"Iya aku itu om, tapi aku nggak pernah beli paket atau apa-apa Om di online, beneran om liat aja di ponsel aku, aku gak pesen apa apa kok, tapi itu atas nama aku ya, tapi beneran aku gak pesen apa apa "
Sani segera bangkit dan mengambil kotak itu namun Sena langsung merebut kotaknya "biar saya saja yang bukannya, takutnya didalamnya akan ada sesuatu yang menjijikan "
Sena membawanya ke arah dapur lalu mengambil pisau membuka sedikit-sedikit kotak itu dan bau busuknya makin menjadi-jadi saja.
Saat dibuka ternyata dalamnya adalah ikan busuk yang sudah ada belatungnya, Sean langsung sedikit mendorongnya dan mengambil kresek sampah lalu membuangnya begitu saja, sangat menjijikan sekali kan, siapa orang yang telah melakukan ini semua.
"Kamu punya musuh San"
Sani menggelengkan kepalanya karena memang dirinya tidak punya musuh sama sekali, lali siapa yang mengirimkan ikan busuk itu kepadanya"aku sama sekali nggak punya musuh Om, mana mungkin sih aku cari gara gara, sedangkan aku lagi fokus sama sekolah dan juga kesembuhan ayah aku "
__ADS_1
"Pasti ini ulah Alvaro gara-gara masalah tadi, nanti saya akan bertanya padanya "
"Nggak mungkin deh om Alvaro nggak tahu rumah aku, nggak tahu aku kos kosan aku di mana. Jadi nggak mungkin kalau sampai Alvaro yang kirim Om, jangan salahin Alvaro ya belum tentu dia kan yang lakuin, nanti malah jadi masalah lo om, jangan ya "
"Lalu siapa lagi kalau bukan Alvaro pasti dia pelakunya, saya yakin dia pelakunya "
"Sepertinya bukan Alvaro Om sudah Om jangan salahkan dia ya nanti yang ada dia akan marah sama Om kalau Om terus menerus menyalakan dia, udah nggak usah dipermasalahin Om kan ini cuman kirim paket kayak gitu aja, kalau misalnya sampai kirim yang aneh-aneh lagi baru nanti aku lapor polisi aja Om, kita nggak usah ikut campur biar nanti polisi yang cari"
"Sudah sudah kau ganti pakaian saja, bukannya besok kau sekolah lagi kan cepat ganti pakaianmu sekarang jangan membuatnya kotor "
Sani hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa agar lebih nyaman kan, ya sebenernya dari tadi juga pengen ganti tapi gimana buka paket dulu dan om Sena juga menyuruhnya untuk dudukan.
"Kok om Sena kayak ayah ya, dia suruh aku ganti baju ini itu aku kayak merasa kalau Ayah ada di sini deh, karena om Sena yang perhatian kayak gitu, lucu deh om Sena "
Sani mempercepat menganti pakaiannya dan langsung pergi keluar kamar untuk menemui om Sena, yang sudah dirinya anggap menjadi ayah keduanya, ya ayah tidak lebih hanya itu saja.
Malam pun tiba dan Sena masih ada di rumah Sani. Dia baru saja beres makan sedangkan Sani akan membuang sampah namun Sena mengikutinya dari belakang "om ngapain ngikutin aku mau buang sampah, lebih baik om didalam aja sana masuk om cepetan "
"Ini nggak ada lampunya atau gimana depan rumah kamu, kok gelap sih gak biasannya, biasannya juga terangkan gak gelap gelap kayak gini emang gak takut diem dirumah sendirian dengan lampu luar yang gelap "
"Ya kemarin mati Om dan aku belum sempat ganti karena takut jatuh juga naik-naik kayak gitu. Ya mau gimana lagi Om aku kan nggak bisa pasangnya dan di dalam rumah juga masih nyala kok lampunya jadi itu nggak masalah, meskipun yang luar mati tapi kan lampu dalam masih nyala "
"Ya udah saya temenin buang sampahnya, nanti saya yang ganti "
__ADS_1
"Nggak usah Om biar aku aja sendiri ya. Om di dalam aja udah om masuk aja, nanti kotor tangannya kalau ikut buang sampah "
"Enggak saya antar sini biar saya yang bawa "
"Bagi dua aja ya om, biar sama rata gitu kan "
Sani segera membagi dua dan memberikannya pada Sena dan berjalan kembali, namun baru juga satu langkah sandalnya sudah keinjak oleh Sena dan membuat suami jatuh namun dipelukan Sena, mereka berdua saling tatap dan Sani mendongak melihat ke wajah Sena.
"Sudah saya katakan kan ini berbahaya makanya saya mengantar kamu untuk buang sampah, lampu yang mati seperti ini sangat berbahaya kau tau itu kan "
"Ya ini nggak akan berbahaya kalau om enggak injak sandal aku dari belakang, aku akan baik-baik aja dan nggak akan jatuh kayak gini Om"
"Ya tetep aja ini tuh bahaya lampu mati gimana sih bukannya minta sama ibu kos diganti malah didiemin kayak gini aja, atau gak tadi siang kamu minta tolong sama saya "
"Ya kan aku udah bilang nggak sempet om, om ini gimana sih gak ngerti ngerti aku gak sempet kalau aku sempet pasti aku lakuin tanpa di suruh sama om Sena "
"Bisa nggak sih suatu saat kamu ganti kata Om itu, saya ini belum om-om bisa kali diubah sedikit nggak nama panggilan kamu ke saya jangan om terus "
"Emm bisa apa Kak Sena itu lebih baik "
"Emmm itu cukup baik tapi apa ada yang lebih baik lagi selain itu, selain kak "
"Emm tidak ada sepertinya, hanya itu saja aku tidak punya panggilan lain untuk Om, jadi sudahlah Om saja, Om tadi kan bilangnya suatu saat berarti masih lama dong bukan sekarang jadi sekarang om aja ya hahaha "sambil tertawa kecil
__ADS_1
Sani langsung melepaskan pelukan itu dan berjalan kembali meninggal Sena. Sedangkan Sena malah tertawa senang dengan sikap Sani yang sepertinya tak malu malu lagi, tapi dirinya belum tahu apa Sani menyukainnya atau tidak.
Ya belum tau perasaan yang sebenarnya seperti apa, takutnya malah Sani tak menyukainnya.