Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Gak jelas


__ADS_3

Sani yang sedang tertidur nyenyak tiba-tiba saja terbangun karena memimpikan sang ayah yang kesusahan tanpa dirinya. mimpi buruk yang sangat menakutkan semoga saja itu hanya mimpi saja.


"Ya ampun Ayah seharusnya aku gak ninggalin ayah. Apakah aku harus pulang saja, tapi kalau aku pulang aku capek terus dihina sama ibu, disuruh ini itu sama ibu, tapi gimana sama ayah. Apakah aku harus bawa ajah ayah kesini, dari pada ayah disana sama ibu, ya lebih baik gitu aja deh, aku akan coba bawa ayah "


Sani segera bangkit dan menyalakan lampu kamarnya menatap keluar jendela, diam melamun di malam hari yang gelap ini, dirinya terus saja teringat dengan sang ayah yang mungkin saja sekarang sedang kesusahan.


Karena tidak ada dirinya, tapi kalau misalnya dirinya kembali ibunya akan makin semena-mena pada dirinya, apakah uang yang dia tinggalkan ditemukan ibunya atau tidak ya, karena dirinya kan menyimpan uang 5 juta untuk ayahnya, semoga saja ibunya tidak menemukannya dan sang ayah lah yang menemukan uang itu


Sani menyalakan ponsel pemberian dari om Sena dan melihat-lihat ponsel itu.


"Aku gunakan saja atau tidak ya ponsel ini. Tapi kalau aku gunakan yang ada teman-teman aku malah makin anggap aku perempuan matre yang bisa aja mereka bilang kalau ponsel ini Arzan yang kasih. Kenapa sih hidup aku serba salah semenjak Ibu gak ada semenjak Ibu meninggal hidup aku kayaknya berantakan banget deh, gak ada tenang tenangnya sama sekali, rasannya semuanya sulit banget "


Sani kembali menyimpan ponsel itu lalu kembali berbaring namun tidak tidur dia masih melamun memikirkan tentang keadaan sang ayah, ponselnya sama sekali tak dimatikan, hanya didiamkan saja seperti itu.


**


Sedangkan di rumah Sena dia sama sekali tidak tidur. Masih memikirkan tentang anaknya, Sani dan banyak lagi, harus memilih anak atau Sani perempuan yang sekarang sudah mengetuk hatinya

__ADS_1


Melelehkan es yang sudah menyelimuti hatinya dengan sangat tebal namun dengan perlahan-lahan es itu meleleh oleh seorang anak bernama Sani, yang berumur 17 tahun dan teman anaknya sendiri serta orang yang paling dibenci oleh anaknya.


"Kalau misalnya aku bicara sama mamih yang ada dia bakal ceramahin aku, lebih baik aku pendam aja deh sendiri tapi aku udah gak kuat kalau harus diemin Sani gini terus. Aku harus kejar Sani sampai dapat, tapi aku juga harus pikirin Alvaro juga aku udah janji sama dia gak akan pernah deketin Sani lagi, tapi dia juga kan gak nepati janjinya sendiril, untuk selalu bertanggung jawab dan gak ngebully Sani lagi, kenapa sih aku harus luluh dengan seorang anak berumur 17 tahun, kenapa sih aku tidak mencintai seorang perempuan dewasa yang seumuran denganku saja, mungkin aku tak akan pusing dan memikirkan semua itu, kenapa coba "


"Sani ku rasa mulai sekarang aku akan mengejarmu dan tak akan melepaskanmu lagi, untuk masalah Alvaro aku akan mengesampingkan nya dulu saja, karena hatiku rasanya tidak bisa jauh-jauh darimu. Tunggu aku, aku akan mengejarmu meskipun kau hanya seorang bocah. Tapi kau sudah bisa membuat aku seperti orang gila "


Sena sekarang malah mengingkari janji pada sang anak dan dia akan mengejar Sani di belakang sang anak, dia tak bisa diam seperti ini terus menerus membiarkan hatinya sakit melihat Sani bersama laki-laki lain.


Apakah benar Sani berpacaran dengan Arzan. Tapi mana mungkin tapi saat dirinya melihat saat Sani berpelukan dengan Arzan tadi saat di depannya sepertinya mereka pacaran, tapi tidak tidak tidak.


Bagaimana ini, tapi bodolah yang terpenting dirinya bisa mendapatkan Sani, semua rintangan akan dirinya lakukan, hanya untuk bisa mendapatkan hati Sani seutuhnya.


Lalu tiba tiba saja Sena yang penasaran segera memencet nomor telepon yang sudah disediakan di telepon di ponsel yang dia berikan pada Sani dan nomornya aktif, dengan senang Sena menunggu sambungan itu terhubung dan diangkat.


"Halo ini siapa ya malam-malam kok telepon apa gak ada waktu besok gitu, tau nomor ini dari mana lagi, kamu orang jahil ya mau jahilin saya ya "


"Ini saya Sena kamu berani bilang gitu sama saya, saya yang kasih kamu ponsel itu, berani ya kamu berkata seperti itu pada saya Sani "

__ADS_1


"Om Sena ngapain sih Om malam-malam telepon, ini udah jam berapa Om, besok aku sekolah kalau aku telat gimana, gak ada kerjaan banget sih om telfon jam segini, kan tadi baru aja kita ketemu"


"Saya cuman mau lihat aja kamu pakai gak ponsel yang saya beri, ternyata aktif juga simpen nomor saya jangan kasih nama Om Sena, karena saya masih muda saya bukan om-om dan saya juga bukan Om kamu, kasih nama yang benar "


"Terus saya harus namain apa Bapak, ayah kakek ,Kakak atau apa saya bingung loh, udahlah om Sena aja bagus kok, meskipun om Sena bukan om saya tapi kan yang lain juga sama temen-temen Alvaro kalau panggil Om Sena itu ya Om Sena, udahlah gak apa-apa kali ya Om, sama aja mau nama namain apa pun juga kan masih om Sena juga "


"Gak saya gak mau, jangan panggil saya om lagi, atau tulis nomor ponsel saja dengan sebutan om tidak saya tidak mau "


"Tau ah gak penting banget deh, om tuh ganggu waktu tidur saya, mending saya tidur aja dari pada ladenin om yang kayak gini, yang telfon aku malem malem, awas loh nanti anaknya marah "


Sambungan pun terputus. Sena hanya tersenyum. Baru kali ini ada seorang perempuan yang berani mematikan sambungannya, biasanya dirinya yang akan melakukan itu, tapi ini perempuan kecil berani melakukan itu awas saja kau Sani.


"Awas aja Sani nanti kau tak akan bisa mematikan sambunganmu seperti ini lagi padaku, awas saja kau perempuan kecilku akan habis oleh ku "


Setelah puas menelpon Sani, Sena langsung membaringkan badanny, sebenarnya sih belum puas tapi ya gimana lagi kalau nanti dia menelpon Sani lagi yang ada itu anak malah marah-marah lagi dan Panggil om om terus emang dia ini Om gadun.


Dan nanti juga takutnya tuh anak geer lagi karena dirinya telfon telfon dia, takutnya nanti hidungnya terbang lagi, gara gara dirinya menelfon terus, perempuan itu kan ngapang baperan.

__ADS_1


__ADS_2