
Mira yang tidak mendapatkan jawaban langsung melemparkan ponselnya kearah tempat tidur dan menangis dengan sejadi jadinya.
"Kemana sih Sani kamu sampai-sampai nggak mau angkat telepon aku, apa kamu sibuk dengan Alvaro apakah kamu sibuk di sana bersenang-senang sampai-sampai kamu nggak bisa angkat telepon aku. Apa kamu sedang sedang bahagia dengan Alvaro. Kenapa kamu menjadi berubah Sani, dulu saja kamu selalu ada untuk aku. Bahkan aku pun selalu ada untuk kamu tapi setelah kamu berteman dengan Alvaro dan dekat dengan dia kamu melupakan aku Sani. Kamu jahat tahu nggak sih nggak angkat telepon aku kenapa sih, aku tuh lagi butuh kamu Sani aku butuh banget kamu, kamu ke mana sih Sani "
Mira tak menyadari kalau dirinya juga selama ini telah mendiamkan Sani cukup lama dia terlalu menikmati berpacaran dengan Arzan meskipun hanya pura pura saja, malah sekarang dirinya menyalahkan Sani yang menghilang tiba-tiba saja, saat Sani butuh lalu dulu dirinya juga ke mana saat Sani mengalami kecelakaan saat Bella mencelakainya bahkan Mira tak ada di sampingnya bahkan untuk pedulikan Sani saja Mira tidak ada.
Namun saat dirinya sekarang sakit hati oleh laki laki dia malah mencari cari Sani dan menyalahkan Sani saat Sani tak ada waktu untuknya.
**
"Ayah kau tahu sekarang anakmu begitu jauh dia pergi jalan-jalan bersama temannya apalagi dia pergi dengan laki-laki hanya berdua saja, kau tidak melarangnya gitu. Apakah kau tidak takut anakmu itu akan bermain yang aneh aneh dengan laki-laki itu, jangan sampai tiba-tiba dia pulang mempermalukan keluarga kita Ayah dengan hamil diluar nikah" ucap Sarah memanasi hati suaminya sambil memperlihatkan foto Sani dan juga Alvaro.
__ADS_1
"Bagaimana dia mau pulang saat dia ke sini saja kau tidak memperbolehkannya untuk diam saja sebentar, kau hanya mengambil uangnya saja dan mengusirnya untuk pergi setiap bulan dia mengirim uang tapi kau tidak pernah menjamunya dengan baik, apa salah anakku sebenarnya Sarah dia sudah memberi kita uang bahkan memberikan aku pengobatan tapi kau sama sekali tidak memberikannya tinggal hidup bersamaku di sini. Apakah anakku tidak boleh tinggal di rumahnya sendiri kenapa kau begitu egois Sarah. Biarkan dia pergi bersama temannya biarkan dia menikmati hidupnya kalau dia di sini hanya akan menjadi bulan-bulanan mu saja lebih baik dia pergi bersama temannya bermain. Aku percaya kalau Sani bisa menjaga dirinya aku percaya dia tidak akan kebablasan sampai mempermalukan keluarga"
Sarah mendengus kasar kenapa malah ini jawabannya " kau ini dia sendiri kan yang minggat dari rumah ini, jadi untuk apa aku menawari nya lagi untuk tinggal disini, biarkan saja dia luntang lantung di jalanan yang penting dia memberikan aku uang untuk pengobatan mu dan untuk makan kita semua aku capek harus bekerja mencuci menyetrika pakaian orang lain aku tidak sudi melakukan itu kembali, itu sudah kewajibannya untuk menafkahi kita semua"
Ayah Sani mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar " Baiklah agar terlihat adil seperti ini saja anakku masih sekolah dan dia bekerja dan anakmu Anggia seharusnya bekerja meskipun masih sekolah seperti Sani harus adil. Sani saja bisa menjadi tulang punggung dalam keluarga. Kenapa Anggia tidak biar adil kau suruh Anggia bekerja juga jangan Sani terus saja yang bekerja"
Sarah langsung memelototkan matannya "apa-apaan kau ini anakku harus fokus sekolah dan dia harus kuliah nantinya tidak mungkin anakku harus bekerja seperti Sani. Aku tidak akan mau melihatnya bekerja seperti itu, biarkan saja Sani yang bekerja itu memang sudah tanggung jawabnya kau kan seharusnya yang bekerja dan anakmu yang menggantikannya seperti apa yang pernah aku ucapkan padamu waktu itu, jadi jangan egois biarkan anakku sekolah dengan tenang Jangan mengganggunya"
"Kau di sini yang egois Sarah anakku harus banting tulang untuk bekerja sedangkan anakmu dia harus kuliah dan menjadi sarjana, seharusnya kita adil pada anak-anak kita meskipun Sani ini bukan anakmu tapi seharusnya kau adil, dulu saja aku pada Anggia adil Sani diberi uang segini Anggia pun diberi uang segini, seharusnya kau bisa adil saat kau menikah denganku kau harus menerima Sani menjadi anakmu menganggapnya seperti anakmu sendiri bukan seperti ini Sarah. Kau terlalu egois seharusnya yang menggantikan aku bekerja saat aku tidak bisa bekerja seperti ini kau sebagai istri yang menggantikan dan anak-anak hanya perlu sekolah saja tidak memikirkan bagaimana besok makan bagaimana uang sekolah, bagaimana ini itu anakmu sudah terlalu manja jika terus saja didiamkan seperti itu suatu saat dia tidak akan pernah bisa membantu keluarga kau saja selalu membelikan apa yang dia inginkan saat nanti dia bekerja pasti dia akan mengeluh dan akan meminta uang terus-menerus padamu"
"Ya sudah kalau kau memang ingin bercerai denganku maka bercerai lah, aku tidak akan masalah a?ku tidak akan masalah jika kau meninggalkanku aku pasti akan senang bisa kembali lagi bersama anakku, aku bisa kembali bergabung dengannya tidak usah pusing memikirkanmu dengan Anggia anakku juga pasti tidak akan banting tulang untuk bekerja juga aku tidak masalah jika kau ingin pergi meninggalkanku"
__ADS_1
Sarah yang mendengar ucapan dari suaminya langsung pergi meninggalkan suaminya sendirian, sungguh kesal dirinya Ini mendengar ucapan suaminya bukan menahan malah mengiyakan lagi dirinya langsung masuk ke kamar Anggia dan menutup pintunya sedikit keras"Ibu ini kenapa sih tiba-tiba masuk terus tutup pintu nggak bener kayak gitu pelan-pelan dong Bu"
"Ibu lagi pusing sama ayahnya Sani dia itu yah nyebelin banget tau nggak sih selalu aja belain anaknya, ibu tuh mau cerai aja sama dia capek tau nggak urus orang lumpuh dan dapat uang segitu-gitu aja Ibu capek"
Anggia langsung bangkit dan menatap Ibunya "Ibu jangan cerai sama ayah kalau ibu cerai sama ayah siapa yang kasih uang sama kita berdua untung-untung Sani masih bisa kasih uang buat kita, kalau kita hidup berdua siapa yang kerja Bu. Ibu aja baru kerja nyuci setrika punya orang udah ngeluh sana sini gimana kalau ibu cerai sama Ayah bisa-bisa kita jadi gembel Bu l, apalagi ini rumah atas nama Sani anaknya Ayah nggak mungkinlah kita bisa gugat gitu aja dan kita juga kalau mau miliki rumah ini harus ada tanda tangan dari Sani sedangkan perempuan itu sangat pintar dan tidak akan bisa diliciki"
"Tapi Ibu capek tahu nggak sih kayak gini terus, nanti juga kamu bakal kerja kamu lah yang nanggung Ibu nanti masa nangung Ibu aja nggak bisa Ibu aja nanggung kamu bisa kan masa kamu nggak bisa sih buat ibu bahagia"
"Bukan gitu Bu aku tuh masih sekolah dan aku juga harus kuliah aku masih butuh biaya dan satu-satunya cara agar aku bisa kuliah itu ya Sani, uang dialah yang kita butuhin gimana sih Ibu ini aku nggak mau ya kuliah aku nanti terganggu dengan aku yang harus bekerja sama sini kayak Suni banting tulang cuman buat sekolah, aku enggak mau kalau ibu sampai cerai sama ayah ya udah Ibu aja yang kerja aku nggak mau kerja. Aku maunya ya sekolah dan saat sekolah aku nggak mau diganggu"
"Ya udah ya udah Ibu nggak jadi deh cerai dari ayahnya Sani supaya kamu bisa sekolah Ibu nggak akan cerai dan akan bertahan sama dia, tapi setelah kamu kuliah kamu harus cepet-cepat dapat kerja nanti Ibu langsung deh minggat dari sini sama kamu setelah kamu dapat kerja, ibu udah nggak kuat banget tinggal di sini kalau bukan karena kamu karena sekolah kamu mungkin Ibu udah pergi deh males juga di sini ngurus ngurus orang kayak dia yang diurus juga nggak tahu diri dia terlalu memihak pada anaknya"
__ADS_1
"Ya udah ibu tenang aja pokoknya sebentar lagi deh setelah aku lulus kuliah. Pokoknya kita pergi dari sini kita tinggalin tuh tua bangka yang nyusahin itu kita porotin dulu aja anaknya sampai dia nggak bisa kerja lagi, dan juga jangan sampai Suni menikah terlebih dahulu sebelum aku, aku nggak mau nanti dia bahagia di atas penderitaan aku, aku mau aku yang lebih dulu bahagia sebelum dia"
"Itu gampang siapa sih yang bakal suka sama Sani nggak akan ada udah kamu tenang aja, anak Ibu tuh cantik nggak akan ada yang ngalahin Sani itu dekil nggak terurus gak akan ada yang suka sama dia, udah kamu tenang aja pasti kamu yang akan lebih dulu bahagia dan nikah sama orang kaya, Sani palingan nikah sama orang-orang biasa-biasa aja dan juga hidup akan melarat kayak ayahnya kayak gini udah sekarang kamu belajar lagi ya Ibu mau tidur di sini deh nggak mau tidur sama ayahnya Sani berisik dia nanti ngomel-ngomel terus ibu udah pusing banget dengerin omelannya yang gak mutu itu selalu saja mengagung-agungkan anaknya yang tidak tahu diri itu" kesal ibu tiri Sani